Menolak Tua, Ditampar Realita: Catatan Harian Seorang Wanita "Medium Well"

 


Menolak tua? Waduh, itu sih hobi baru semua orang yang usianya sudah masuk kategori "perlu minum vitamin sendi," ya. Termasuk aku, Bestie. Ya iyalah, kalau bisa sih maunya selamanya jadi anak kuliahan yang paling mentok masalahnya cuma revisi skripsi atau bingung mau nongkrong di mana. Tapi masalahnya, alam semesta ini punya cara yang sangat unik, bahkan cenderung kasar, buat mengingatkan kalau masa-masa itu sudah lewat.

Tahu ngga sih, Bestie? Terkadang tanda-tanda penuaan itu ngga muncul lewat uban atau kerutan di dahi dulu. Ada yang lebih menyakitkan: perlakuan orang sekitar. Rasanya kayak lagi enak-enak jalan, terus tiba-tiba ketampar kenyataan kalau sebenarnya kita ini sudah masuk level kematangan medium well. Ngga percaya? Nih, aku kasih dengar beberapa kenyataan pahit tapi lucu yang baru-baru ini aku alami sendiri.


Kenyataan Pertama

Suatu sore, aku lagi merasa jadi manusia paling produktif sedunia. Aku duduk manis di kedai kopi langganan, tempat yang biasanya penuh sama anak-anak muda yang laptopnya ditempel stiker banyak banget. Gaya aku sudah mantap banget: kopi di tangan kanan, laptop terbuka di depan, dan berbagai printilan kerjaan berceceran di meja. Pokoknya kelihatan sibuk banget, padahal aslinya ya cuma bengong sambil cari inspirasi atau paling pol lagi memandangi layar kosong.

Pas lagi asyik-asyiknya otak ini on—beneran lagi semangat mau nulis artikel—tiba-tiba ada serombongan anak muda, kayaknya sih usia-usia anak SMP atau awal SMA, jalan melewati mejaku. Mereka mungkin mau ke kasir buat pesan minuman. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Pas mereka lewat di depan mejaku, mereka semua jalan sambil sedikit membungkukkan badan. Tahu kan gaya sopan orang kita kalau lewat di depan orang yang dianggap lebih tua?

Seketika duniaku berhenti berputar. Aku batin, "Hah? Apa ini? Ada apa di belakangku?"

Awalnya aku ngga sadar. Aku pikir mungkin di belakang mejaku ada guru mereka, atau mungkin ada pejabat daerah lagi lewat. Aku sampai menoleh ke belakang, dan ternyata... kosong, Bestie! Cuma ada deretan meja kosong dan aku sendirian di situ. Aku langsung menahan tawa sampai muka merah padam. Sumpah, aku tertawa geli sendiri sambil menutup mulut pakai tangan.

Ternyata mereka membungkuk itu buat hormat ke aku! Ya ampun, sesopan itu kalian ya, Dek, sama Mamak ini. Di satu sisi, aku bangga karena tata krama mereka luar biasa jempolan. Di sisi lain, aku batin, "Duh, setua itu ya aku di mata mereka sampai mereka merasa harus permisi pakai bungkuk segala?" Rasanya kayak tiba-tiba dikasih gelar "Sesepuh Cafe" tanpa proses pelantikan.


Kenyataan Kedua

Cerita lainnya ngga kalah bikin "nyes" di hati. Kejadiannya pas aku lagi jalan-jalan santai, terus ketemu beberapa anak remaja, mungkin usia SMP atau SMA. Salah satu dari mereka ini anak tetanggaku. Karena memang dasarnya aku orangnya ramah (dan merasa masih seumuran sama mereka), aku niatnya mau say hi santai saja, ala-ala kakak-kakak hits gitu.

Tapi apa yang terjadi? Pas kami salaman, tangan aku dicium, dong! Benar-benar disalimi ala anak ke orang tua atau murid ke guru. Syok banget! Aku cuma bisa senyum kaku sambil batin, "Oke, fiks, aku memang sudah tua." Dan itu ngga cuma satu atau dua anak, tapi mereka yang lagi nongkrong barengan itu antre salaman semua ke aku. Aku berasa jadi tokoh masyarakat yang lagi kunjungan kerja ke desa. Padahal dalam hati aku ingin teriak, "Ayo dong, ajak aku main atau bahas hal terbaru!" Tapi ya apa daya, tangan sudah terlanjur dicium dengan penuh takzim.


Kenyataan Ketiga

Nah, kalau dua cerita tadi datang dari orang luar, yang ketiga ini adalah serangan dari dalam rumah. Ini yang paling parah karena pelakunya adalah anakku sendiri. Kejadiannya pas kami lagi di jalan raya. Waktu itu aku mau belok, dan di depan ada truk besar yang lagi berhenti atau melambat. Kondisinya memang agak padat.

Tiba-tiba ada bapak-bapak di pinggir jalan yang baik banget memberi aba-aba. "Mbak, awas Mbak, pelan-pelan beloknya," kata si Bapak itu dengan sopan.

Aku sih senang ya dipanggil "Mbak." Berasa masih awet muda, kan? Panggilan "Mbak" itu kayak oase di tengah padang pasir penuaan. Tapi begitu aku selesai belok dengan selamat, tiba-tiba anakku yang duduk di belakang nyeletuk dengan polosnya.

"Ih, Bapaknya kok panggil 'Mbak' ke Umma sih? Salah itu Bapaknya."

Aku tanya dong, "Kok salah? Kan bagus Bapaknya sopan."

Dengan wajah tanpa dosa dan nada bicara paling jujur sedunia, dia menjawab, "Iyalah, Umma kan ibu-ibu, bukan mbak-mbak lagi!"

Gubrak! Rasanya kayak ada petir menyambar di siang bolong. Ya Allah, Nak, polos banget itu mulut kalau bicara. Kesal sih iya, tapi ya mau bagaimana lagi, yang dibilang anakku itu memang fakta yang tak terbantahkan. Dia cuma menyuarakan apa yang dilihat oleh dunia luar, sementara ibunya ini masih sibuk bersembunyi di balik kata "denial."


Sebenarnya masih banyak kejadian kecil lain yang kalau diingat-ingat bikin ingin tertawa sekaligus sedih. Kayak misalnya sekarang kalau bangun tidur ada saja bagian tubuh yang bunyi "krek," atau kalau lihat menu makanan yang dilihat bukan fotonya dulu, tapi kadar kolesterolnya.

Intinya sih, Bestie, mau sedenial apa pun kita bilang kita ini masih "berjiwa muda" atau "menolak tua," tetap saja di mata anak-anak SMP atau SMA, kita ini sudah masuk kategori Budhe-budhe atau Tante-tante. Kita mungkin merasa masih muda, tapi kenyataan di lapangan berkata lain.

Tapi ngga apa-apa lah, ya. Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi tetap asyik itu pilihan. Biarpun sudah dipanggil "Ibu" atau disalimi sama anak tetangga, yang penting hati tetap senang dan masih sehat buat aktivitas. Toh, kalau ngga ada kita yang sudah "medium well" begini, siapa lagi yang bakal menasihati anak-anak muda itu kalau mereka lewat ngga permisi?

Jadi, mari kita nikmati saja masa-masa transisi dari "Mbak-mbak" ke "Ibu-ibu" ini dengan lapang dada dan tawa yang lebar. Bagaimana menurutmu, Bestie? Kamu pernah ngga mengalami momen "ketampar kenyataan" kayak aku begini?


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

0 Komentar