April ini terasa sedikit berbeda. Jika aku melihat kembali catatan di ponsel, sudah ada sekitar sembilan artikel yang berhasil kuselesaikan. Ya, sepuluh jika aku menyertakan tulisan rekap yang sedang kubuat sekarang. Namun, ada sebuah ironi yang menyelip di antara deretan paragraf tersebut. Bukannya merasa bangga karena produktif, aku justru merasa seperti seorang penipu ulung yang sedang membohongi diri sendiri. Lucu, bukan? Bagaimana mungkin seseorang yang menghasilkan sepuluh tulisan dalam sebulan malah merasa sedang bersandiwara?
Semua ini bermula dari rutinitasku setiap hari. Aku selalu berakhir di kedai kopi yang sama, memesan segelas kopi dingin yang segarnya luar biasa untuk membasuh kerongkongan. Kedatanganku yang begitu rutin rupanya mulai disadari oleh para staf di sana. Beberapa kasir dan pramuniaga sudah mulai hafal wajahku. Mereka mungkin menandai aku sebagai pelanggan tetap yang bisa duduk seharian dengan ekspresi sok sibuk di depan layar.
Pernah suatu saat, salah satu dari mereka mencoba menebak menu apa yang akan kupilih bahkan sebelum aku sempat membuka mulut. "Kopi Americano yang dingin seperti biasa, Kak?" tanyanya sambil tersenyum ramah. Aku hanya bisa membalasnya dengan tawa kecil yang sedikit canggung. Hmmm, sesering itu ya aku datang ke sini? Jawabannya jelas: iya! Hampir setiap hari aku berada di sini, menjadi bagian dari perabotan kedai kopi ini.
Kedai kopi ini memang sangat nyaman. Atmosfernya dipenuhi oleh dengung mesin espresso, suara obrolan yang samar, dan wangi biji kopi yang dipanggang sempurna. Di sekelilingku, orang-orang tampak begitu tenggelam dalam dunia mereka. Mereka membuka laptop dengan gerakan tegas, jari-jari mereka menari cepat di atas papan ketik, dan mata mereka terpaku pada layar dengan fokus yang tajam. Begitu pun aku. Hanya saja, ada sebuah rahasia kecil yang kusimpan rapat. Aku merasa seolah sedang menyamar, memakai topeng kesibukan di tengah-tengah kerumunan orang yang benar-benar sibuk.
Aku memperhatikan sekelilingku dengan saksama. Di bangku sebelah kiri, ada seorang pria yang dahinya mengerut dalam, seolah sedang memecahkan kode rahasia negara. Padahal, saat aku melirik sedikit, layarnya dipenuhi oleh spreadsheet warna-warni dengan angka-angka rumit yang melompat-lompat. Ia sesekali memijat pelipisnya, tampak pening dengan beban kerja yang terpampang nyata.
Lalu di meja depan, ada seorang perempuan yang sangat aktif. Ia tidak henti-hentinya menerima panggilan dari beberapa kolega. Suaranya terdengar profesional saat mengatur jadwal, mendiskusikan strategi, dan menyebutkan istilah-istilah bisnis yang jujur saja tidak kumengerti sama sekali. Ia tampak sangat berkuasa atas waktu dan pekerjaannya.
Namun, yang paling menarik perhatianku adalah mas-mas yang duduk tepat di samping meja tempatku berada. Layar laptopnya cukup dekat sehingga aku bisa melihat apa yang sedang dikerjakannya. Ia tampak lelah, namun matanya tetap jeli mengutak-atik sebuah desain interior. Aku terpesona melihat detail rumah sederhana dengan konsep lantai split dan open space yang sedang ia susun. "Wah, keren sekali," batinku kagum. Desain itu tampak nyata, fungsional, dan penuh estetika.
Dan aku? Aku hanya bisa terkekeh dalam hati saat melihat pantulan diriku sendiri di layar laptop yang masih kosong.
Aku hanya sibuk dengan sesuatu yang bisa dibilang "penting tidak penting". Aku sedang sibuk merangkai kata-kata yang mungkin tidak akan menghasilkan pundi-pundi rupiah, sesuatu yang tidak memberikan keuntungan finansial, namun memberikan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya. Sesekali aku mengernyitkan dahi, persis seperti pria di meja sebelah, tapi bukan karena angka yang salah, melainkan karena alur ceritaku yang tiba-tiba macet atau tidak sesuai dengan logika pikiranku.
Ada momen-momen di mana aku menghela napas panjang—mungkin terdengar cukup dramatis bagi orang yang mendengarnya. Itu terjadi saat tokoh utamaku mulai "berontak". Pernahkah kau merasakannya? Saat karakter yang kau ciptakan seolah-olah mengambil alih pena dan mulai menulis jalan ceritanya sendiri tanpa bisa dikontrol lagi. Aku ingin dia pergi ke arah utara, tapi dia justru bersikeras melangkah ke selatan. Di saat itulah aku merasa benar-benar bekerja, padahal secara fisik, aku hanya duduk diam dengan segelas kopi yang mulai mencair esnya.
Beberapa orang yang lewat mungkin melihatku sebagai sosok yang sangat sibuk dan berdedikasi. Mereka melihat dahi yang berkerut, helaan napas yang berat, dan jemari yang terus bergerak. Padahal, aslinya tidak seberat itu. Aku tidak sedang mengejar tenggat waktu laporan keuangan atau memikirkan struktur bangunan agar tidak roboh. Aku hanya sedang bermain-main dengan imajinasiku sendiri.
Aku terkikik pelan saat menyadari betapa ironisnya hidup ini. Di kedai kopi ini, kita semua adalah pemain sandiwara dengan naskah masing-masing. Mereka yang benar-benar sibuk mungkin sedang memimpikan waktu untuk rehat sejenak, bersantai tanpa harus memikirkan target kerja. Sementara aku, yang memiliki begitu banyak waktu luang, justru merasa bingung dan harus mencari-cari kesibukan agar tidak merasa bersalah pada diri sendiri.
Mungkin kesibukan adalah cara kita untuk merasa "ada". Dengan memakai topeng sok sibuk ini, aku merasa duniaku tetap berputar, meskipun yang kukerjakan hanyalah hal-hal yang sering kali dianggap remeh oleh dunia luar. Menulis fiksi, merenungi nasib tokoh imajiner, atau sekadar merekap perjalanan emosional selama bulan April.
Pada akhirnya, sepuluh artikel ini adalah bukti nyata dari penyamaranku. Meski aku merasa sedang membohongi diri sendiri, setidaknya aku jujur dalam tulisan ini. Bahwa di balik aroma kopi dingin dan kenyamanan kedai ini, ada seorang penulis yang sedang berusaha mencari makna di tengah riuhnya kesibukan orang lain. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. Hidup memang tentang keseimbangan, bukan? Antara mereka yang bekerja untuk hidup, dan aku yang menulis untuk merasa benar-benar hidup.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar