Antara Kolom Komentar dan Ruang Tamu: Saat Suami Jadi Haters Garis Keras Karena Ending Cerita

 


Kemarin, aku baru saja menamatkan satu judul fiksi dengan sad ending, tentu saja. Nah, mau tahu ngga yang lucu apa? Jadi, tepat sebelum ending itu tayang, aku sempat ngobrol dengan suamiku soal penyelesaian cerita yang cukup membangongkan.

Saat itu suasananya santai, tapi obrolan kami mendadak berubah panas. Di tengah konflik yang sebenarnya sudah mulai reda—di mana sang antagonis sedang duduk di kursi pesakitan dan hakim baru saja membacakan vonis hukuman seumur hidup—aku tiba-tiba memberikan "kejutan" yang sukses membuat suamiku frustrasi tingkat dewa.

Jadi begini, ceritaku ini berkisar tentang seseorang yang melakukan kejahatan keji di masa lalu. Setelah sekian lama dibayangi dosa, dia akhirnya memutuskan untuk menebus semua kesalahannya dengan menyerahkan diri ke polisi. Awalnya, suamiku setuju-setuju saja. Dia bahkan sudah punya ekspektasi yang normal.

"Ya udah, sampai situ aja, kan?" kata suamiku sambil menyesap kopinya, berusaha meredam emosi. "Dia udah bertobat, udah dihukum. Ya udah, selesai. Jadi nanti adiknya bisa menjenguk dia di penjara. Begitu kan lebih manusiawi?"

Aku terkekeh pelan mendengar sarannya yang terlalu "lurus" itu. "Ngga seru kalau gitu," jawabku enteng.

Suamiku mulai curiga. Dia meletakkan gelasnya dengan dentuman pelan. "Maksudmu?"

"Aku mau menampilkan satu antagonis lagi," kataku, mulai membangun suasana. "Aku mau orang lain datang membawa senapan, lalu berteriak, 'Kembalikan nyawa anakku! Kau sudah membunuh anakku!'"

Aku menjeda sejenak, membiarkan imajinasiku bekerja. Suamiku sudah mulai menghela napas panjang, seolah dia sudah hafal betul ke mana arah pembicaraanku.

"Nah, mulai... mulai," suamiku memijat pelipisnya. "Pasti ada yang ngga beres setelah ini."

"Adiknya maju," lanjutku dengan nada bersemangat, "dia mencoba menutupi peluru itu agar ngga kena dada si tersangka, alias kakaknya sendiri."

Aku sengaja berhenti lagi. Wajah suamiku sudah tegang. 

"Terus? Tahu ngga pelurunya kena di mana?" tanyaku dengan senyum paling jahil yang kupunya.

"Di mana?" sahut suamiku ketus. Dia benar-benar kesal sekarang.

"Tengkuk."

"APA?!" Dia memekik keras, matanya melotot tajam ke arahku. "Kenapa harus tengkuk?! Kenapa ngga bagian lain aja?"

"Ya, kenapa memangnya kalau kena tengkuk?" tanyaku balik, masih dengan nada santai.

"Ugh! Dari semua bagian anatomi tubuh kenapa harus tengkuk? Kan bisa bahu, lengan, pinggang, atau di mana pun yang ngga langsung mematikan! Kamu itu benar-benar ya, mau menyiksa pembaca?" suamiku benar-benar frustrasi. 

Dia berdiri dari duduknya, mondar-mandir di ruang tengah.

Aku menggeleng, justru semakin geli melihat reaksinya. "Ngga mau, aku maunya tengkuk. Terus darahnya... mengucur deras di pelukan kakaknya yang tangannya masih terborgol. Bayangin, dia ngga bisa meluk adiknya dengan benar karena tangannya terikat besi dingin itu."

"Terus! Terusin!" nada suamiku sudah naik satu oktaf, benar-benar gemas.

"Habis itu mati deh. Si adik tewas di tempat. Terus, kakaknya jadi delusi. Selama di sel penjara, dia ngerasa adiknya masih menemaninya, masih duduk di sampingnya, seolah ngga terjadi apa-apa."

Aku tertawa puas, sementara suamiku terdiam, menatapku dengan tatapan tak percaya. Dia tampak seperti orang yang baru saja dikhianati oleh penulis favoritnya sendiri.

"Kenapa sih harus gitu ending-nya?" suamiku hampir memohon. "Kan bisa ngga gitu? Kenapa ngga dibuat mereka berdamai dengan masa lalu? Kenapa harus sesakit itu?"

"Ya, kenapa harus happy kalau bisa sad?" jawabku enteng, lalu terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang sudah tidak karuan.

"Sumpah, kesel banget punya istri author kayak begini," keluhnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Kamu itu nyebelin!"

Aku semakin terpingkal-pingkal. Bagiku, melihat reaksinya adalah sebuah validasi bahwa cerita itu memang hidup. "Tapi seru, kan?!"

"Seru? Kesal tahu!" sahutnya sambil memanyunkan mulut. Dia cemberut total, benar-benar seperti anak kecil yang mainannya direbut.

Namun, drama tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah aku memublikasikan bab terakhir itu, aku menunjukkan kepadanya rentetan "sumpah serapah" yang membanjiri kolom komentar. Pembaca benar-benar menggila. Ada yang menangis, ada yang protes, ada yang bahkan bilang ingin memukul penulisnya (aku).

Suamiku membaca satu per satu komentar itu dengan teliti.

"Nah, dihujat kan?!" serunya dengan penuh kemenangan. "Ini mewakili aku banget!" Dia menunjuk satu komentar yang menggunakan huruf kapital semua, penuh dengan kemarahan dan emosi.

Aku menatap layar ponsel, lalu menatap suamiku. Kami berdua akhirnya tertawa.

"Berarti aku sukses, dong," ucapku pelan. "Artinya, cerita yang ada di otakku tersampaikan dengan baik. Mereka ngerasain frustrasi yang sama seperti yang kamu rasain. Kalau mereka sampai marah, artinya ceritaku berhasil menyentuh sisi terdalam mereka."

Menulis bagi orang lain mungkin sekadar merangkai kata, tapi bagiku, ini adalah cara untuk membuat orang lain "merasakan" apa yang aku rasakan. Dan kalau pembacaku sampai protes, menangis, atau marah-marah di kolom komentar, itu adalah pujian tertinggi yang bisa aku terima.

Suamiku akhirnya duduk di sampingku, masih dengan sisa kekesalannya, tapi dia merangkul bahuku. "Iya, iya, kamu memang sukses bikin orang emosi. Tapi lain kali, kalau mau bikin sad ending lagi, tolong, jangan tengkuk. Bahu aja, bahu!"

Aku hanya tersenyum. Ending di dunia fiksi memang hak mutlak penulisnya, tapi reaksi pembaca—termasuk suamiku yang paling vokal—adalah bahan bakar terbaik untuk bab selanjutnya. Entah apa lagi yang akan aku tulis nanti, yang pasti, aku sudah siap dengan segala protes yang akan datang. Karena di balik setiap "sumpah serapah" di kolom komentar, ada pembaca yang sebenarnya sudah jatuh cinta dengan ceritaku.

Apakah kamu juga pernah merasakan frustrasi yang sama saat membaca sebuah buku, sampai-sampai ingin protes langsung kepada penulisnya?


Lots of Love,


Resa—



Posting Komentar

0 Komentar