Duduk sini, Bestie. Mari pesan kopi dulu, santai saja. Aku ingin berbagi cerita tentang sesuatu yang rasanya sangat relevan dengan apa yang akhir-akhir ini aku rasakan. Sering merasa tidak sih, seolah sedang hidup di dunia yang isinya orang-orang sedang berlari sprint semua?
Aku perhatikan, di media sosial, isinya penuh dengan pencapaian. Si A baru lulus S2, si B sudah memiliki bisnis besar, si C sudah khatam hafalan 30 juz. Sementara aku? Aku sempat berada di titik merasa bahwa aku tertinggal jauh sekali. Rasanya seolah mereka berlari kencang, lalu aku? Aku hanya merangkak, bahkan lebih parahnya, aku merasa seperti menyeret tubuhku sendiri yang penuh luka dan lelah. Rasanya seolah semua orang sudah mendapatkan piala, sudah sukses, sementara aku masih berjalan di tempat.
Seringkali, pertanyaan-pertanyaan ini muncul di kepalaku saat sedang sepi: "Mengapa aku lambat sekali? Mengapa aku tidak sehebat mereka? Mengapa hidupku sepertinya tidak ada yang bisa dibanggakan?"
Menemukan Irama dalam Proses, Bukan Sekadar Garis Finish
Namun, setelah aku banyak merenung sambil menikmati kopi seperti ini, aku sadar satu hal. Ternyata, hidup itu bukan perlombaan lari sprint. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai di garis finish, atau siapa yang paling banyak mendapatkan medali. Bukan. Pernah tidak mendengar istilah "perjalanan 1000 mil dimulai dari satu langkah"? Nah, itu dia intinya.
Kamu tahu, ada masa untuk segala sesuatu. Allah itu Maha Adil, Bestie. Allah bakal memberikan kita apa yang kita butuhkan di saat yang paling tepat untuk kita, bukan saat kita menginginkannya. Aku sekarang percaya sekali dengan hal itu. Terkadang kita merasa terlambat, padahal sebenarnya kita hanya sedang dipersiapkan oleh Allah untuk waktu yang lebih pas.
Belajar itu bukan seperti lari yang mengejar garis finish, lalu memamerkan medali di leher. Belajar itu adalah proses. Belajar itu tentang bagaimana langkah kaki kita tetap bergerak, meskipun kecil, meskipun pelan. Jika lelah, silakan berhenti sebentar, istirahat. Namun, jangan mundur. Besok, kita bergerak lagi.
Keberkahan dalam Amalan yang Kecil namun Istiqomah
Misalnya saja, hari ini aku hanya bisa membaca dua lembar buku. Itupun aku harus mengulang-ulang paragraf yang sama agar benar-benar paham. Dulu aku berpikir, "Ah, aku payah sekali, orang lain sudah khatam satu bab." Namun sekarang aku berpikir, "Ya sudah, yang penting aku mendapatkan ilmunya." Aku tidak berniat mengejar siapapun. Aku hanya ingin diriku hari ini lebih baik daripada diriku yang kemarin.
Sama halnya saat kita mengaji. Kadang aku merasa malu jika hafalan suratku hanya itu-itu saja. Namun, bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kita tentang pentingnya istiqomah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit." (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783).
Jadi, mau hafalannya itu-itu saja, yang penting diulang terus. Semakin sering diulang, semakin melekat di hati. Kita tidak sedang berlomba dengan orang lain, Bestie. Kita hanya sedang berusaha menjaga ikatan dengan kalamullah. Bayangkan, jika kita hanya hafal satu surat tapi kita paham maknanya, kita tadabburi, itu jauh lebih berkah daripada hafal banyak namun hanya di bibir saja.
Kembali ke Kalamullah dengan Tartil dan Hati
Jika hari ini hanya mampu membaca satu lembar Al-Qur’an, bacalah dengan pelan-pelan. Perhatikan makhrojul hurufnya. Berikan hak setiap huruf itu. Tidak perlu memikirkan harus khatam satu juz sehari. Yang penting halaman terus dibuka, lembar terus dibalik, dan ayat terus dilantunkan. Itu yang namanya berkah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا
"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil: 4).
Ayat ini pengingat sekali buat kita. Fokusnya bukan pada kecepatan, tapi pada kekhusyukan dan ketepatan. Tartil itu artinya tertib, rapi, tidak terburu-buru. Nah, hidup juga begitu, Bestie. Tidak perlu buru-buru jika akhirnya malah membuat kita tidak menikmati prosesnya.
Menjemput Ilmu Lewat Jalan yang Paling Nyaman
Kemudian soal kajian. Sering sekali aku mendengar teman berkata, "Aduh, aku ketinggalan kajian nih." Padahal, kajian sekarang sudah gampang sekali. Tidak harus selalu live, tidak harus duduk manis di masjid. Mendengarkan rekaman di YouTube sambil melipat baju, sambil membereskan rumah, itu juga mendapatkan ilmunya.
Paling enak itu mendengarkan kajian sambil jalan pagi. Badan mendapatkan sehatnya, jiwa mendapatkan asupannya. Double kill sekali, bukan?
Memilih Guru, Memilih Jalan Menuju Jannah
Kamu bebas memilih ustadz yang memang ngena di hatimu. Tidak harus sama dengan orang lain. Ada yang suka mendengarkan gaya Ustadz Syafiq Riza Basalamah yang lembut dan menyentuh, ada yang suka gaya tegas Ustadz Khalid Basalamah, atau mungkin ustadz lain seperti Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Subhan Bawazier, Ustadz Raehanul Bahrain, atau Ustadz Abdurrahman Zahier. Semuanya masya Allah, ilmunya bermanfaat.
Setiap ustadz memiliki kelebihan masing-masing. Ustadz Syafiq itu seperti sedang berbicara dengan kita, membuat hati menjadi tenang sekali. Ustadz Khalid itu tegas, membuat kita sadar kalau dunia ini hanya sementara. Ustadz Firanda itu detail sekali, enak untuk belajar bab fiqih atau akidah.
Intinya, semua boleh dan sah selama ustadz tersebut berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat. Tidak perlu diperdebatkan, kamu suka yang mana, ya dengarkan saja.
Berhenti Membandingkan, Mulai Berbenah Diri
Ingat, Bestie, menuntut ilmu itu perjalanan seumur hidup. Lelah? Wajar. Istirahat saja. Setelah itu bangkit lagi. Jangan bandingkan progresmu dengan orang lain. Jadikan kesuksesan mereka sebagai penyemangat, bukan sebagai beban yang membuatmu minder.
Allah Ta’ala berfirman:
وَفِي ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ
"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. Al-Muthaffifin: 26).
Lomba-lombanya itu dalam hal kebaikan, bukan dalam hal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling konsisten (istiqomah). Jadi, jangan berhenti, ya. Mulai saja dari selangkah atau tiga langkah kecil. Selama lembaran terus dibuka, selama kajian terus diputar, insya Allah, Allah bakal mudahkan jalannya. Jangan pernah merasa tertinggal, karena setiap orang punya timing-nya sendiri.
Aku pernah mendengar nasihat, jika kita fokus pada orang lain, kita bakal lupa pada diri sendiri. Fokus kita seharusnya bagaimana hari ini kita bisa lebih baik daripada kemarin. Sudah, itu saja. Jangan bandingkan apa yang kamu punya dengan apa yang orang lain punya. Belum tentu yang terlihat lebih sukses itu hidupnya lebih tenang.
Aku belajar banyak dari nasihat-nasihat para asatidzah yang kusebutkan tadi, terutama soal pentingnya ikhlas dalam menuntut ilmu. Seperti kata Ustadz Raehanul Bahrain, ilmu itu bukan sekadar banyak-banyakan hafalan, tapi seberapa ilmu itu berpengaruh pada kebaikan akhlak kita. Jika kita semakin pintar tapi semakin sombong, berarti ada yang salah dengan cara kita belajar.
Menulis Kisah Hidup dengan Ritme Sendiri
Tidak perlu pusing dengan standar dunia. Yang penting di mata Allah kita terus berbenah. Kita tidak sedang balapan dengan siapapun di dunia ini, kita hanya sedang berjuang menuju satu tujuan: Jannah-Nya.
Bagaimana, kopinya masih enak? Masih hangat, bukan? Seperti semangat kita ini, harus tetap hangat dan terus membara. Jangan kasih kendor, tapi jangan juga terlalu keras dengan diri sendiri. Slow but sure, yang penting istiqomah.
Terkadang, aku merasa hidup ini seperti sedang menulis cerita. Kita adalah penulis sekaligus aktornya. Tidak semua bab harus seru, tidak semua bab harus cepat. Ada kalanya kita butuh bab yang lambat, bab yang banyak tantangannya, agar karakter kita semakin kuat. Jadi, nikmati saja bab yang sedang kamu jalani sekarang. Jangan ingin terburu-buru ke bab terakhir.
Jika suatu hari nanti kamu merasa sangat lelah, ingat saja, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita yang sedang berjuang di jalannya masing-masing, dengan ritme yang berbeda-beda. Kita semua sedang sama-sama belajar untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Semangat, ya, Bestie! Barakallahu fiikum. Semoga Allah mudahkan semua urusanmu, mudahkan langkahmu dalam menuntut ilmu, dan tetap jaga hati untuk selalu ikhlas.
Ada lagi yang ingin diceritakan? Aku dengarkan, kok. Santai saja, kita masih punya banyak waktu untuk diskusi sambil mengopi. Hidup memang penuh tantangan, tapi jika kita jalani bersama, insya Allah semua bakal terasa lebih ringan.
Ingat, setiap langkah kecil yang kamu buat hari ini adalah investasi untuk akhiratmu. Jangan remehkan kebaikan yang sekecil apapun. Sedikit, tapi kontinyu, itu jauh lebih baik daripada banyak tapi cuma sekali terus berhenti. Terus, jangan lupa berdoa. Mintalah kepada Allah agar diberi kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan yang lurus.
Terkadang, kita terlalu fokus pada hasil sampai lupa kalau proses itu bagian dari ibadah. Menuntut ilmu itu ibadah, mendengarkan kajian itu ibadah, membaca Al-Qur'an itu ibadah. Jadi, nikmati ibadahnya, jangan cuma melihat targetnya.
Sudah ya, panjang sekali aku berbicara? Hehe. Intinya, aku hanya ingin kamu tahu kalau kamu tidak sendirian, dan kamu jauh lebih hebat daripada yang kamu pikirkan. Keep going, Bestie! Besok jika ingin cerita-cerita lagi, kabari saja. Kita nongkrong lagi di sini, membahas hal-hal baik lagi. Sip?
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar