Pernah ngga sih nemu orang yang selalu nilai sesuatu dari sisi negatifnya? Jadi gini, misal nih dalam suatu acara kita bahas makanan si A atau kita tanya resep si A karena hasil masakannya tuh enak. Si A lagi asyik jelasin. Terus kita semua manggut-manggut sambil seneng gitu kan. Eh, ternyata ada seorang anomali yang nyeletuk, “eh, tapi kok rada kurang ya jahenya?” atau nyeletuk yang lain, intinya nyari kekurangan.
Hmm, kadang aku mikir, kok ada ya orang begitu? Dan itu ngga dilakukan sekali dua kali loh. Hampir dalam setiap momen dia selalu nyari celah yang bisa dicaci.
Misal suatu acara, menurut kita semua nih udah 90% oke, eh dia bisa nemuin 10% yang cacat di hal yang ngga penting sebenarnya. Tapi dia bahas terus yang bikin orang lain terbawa arus fokus ke 10% itu. Bikin males kan?
Nah, tahu ngga kenapa ada orang yang mikir gitu? Selalu aja nyari negatifnya?
Jadi masalah utamanya adalah cara pandang mereka yang udah terbiasa fokus sama kekurangan—baik itu karena kebiasaan mental, rasa iri yang dipelihara, atau bahkan ada masalah psikologis tertentu yang bikin mereka ngerasa lebih lega kalau bisa ngejatuhin standar orang lain.
Kalau dari sudut pandang psikologi, fenomena ini mirip sama negativity bias, di mana otak manusia secara alami memang lebih peka sama hal buruk, tapi pada sebagian orang, bias ini dipakai terus-menerus buat validasi diri lewat cara yang toksik.
Tanpa sadar, orang yang hobi nyari celah itu masuk ke dalam lingkaran setan di otaknya sendiri—di mana mereka ngerasa superior atau aman kalau bisa nemuin kekurangan orang lain, padahal itu cuma cara buat menutupi rasa insecure atau ketidakpuasan mereka sendiri.
Jadi, alih-alih melihat situasi secara utuh dan objektif, pikiran mereka udah otomatis nge-lock ke hal-hal buruk aja.
Padahal, kalau kita bedah dari sisi agama, kebiasaan suka mencari-cari celah atau kekurangan orang lain ini ada akar masalahnya yang jauh lebih dalam.
Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala udah ngingetin kita dengan tegas di dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..."
Ayat ini relate banget sama realita tadi. Orang yang hobi nyari negatifnya orang lain biasanya berangkat dari su'udzon (prasangka buruk) yang dipelihara terus.
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
‘Kalian melihat kotoran kecil di mata saudara kalian, tetapi melupakan kayu besar di mata kalian sendiri.’
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 592)”
Artinya, orang yang sibuk nyari 10% cacat di acara orang lain atau di masakan teman, biasanya lupa kalau dirinya sendiri punya jauh lebih banyak kekurangan yang belum beres.
Dari sisi pandangan para ulama, beberapa ustadz juga sering banget ngebahas fenomena hati kayak gini supaya kita bisa lebih mawas diri:
Ustadz Khalid Basalamah sering ngingetin kalau penyakit hati seperti hasad (iri) itu bikin seseorang susah banget buat ngehargai nikmat atau kebaikan yang ada pada diri orang lain. Ketika orang lain sukses atau dipuji, hatinya mendadak gerah dan mulailah lisan ini nyari-nyari celah buat ngecilkan usaha mereka.
Ustadz Firanda Andirja juga pernah menjelaskan bahwa suka mencela atau mencari-cari kesalahan kecil adalah ciri dari hati yang kurang tenang. Orang yang sibuk mengurus aib dan kekurangan orang lain biasanya lupa untuk bermuhasabah atau mengoreksi amal ibadahnya sendiri.
Ustadz Raehanul Bahraen sering berpesan dalam tulisan dan kajiannya agar kita menjaga lisan dari hal-hal yang sia-sia. Fokus melihat keburukan kecil sering kali menjerumuskan seseorang ke dalam ghibah atau merendahkan harkat martabat sesama Muslim tanpa sadar.
Ustadz Nuzul Dzikri pernah menyoroti bagaimana pentingnya menjaga hati dari sifat ujub dan merasa lebih baik. Orang yang hobi mengkritik tanpa solusi biasanya terjebak dalam ilusi bahwa dirinya jauh lebih pintar atau lebih hebat dari yang sedang dikritik.
Ustadz Abdurrahman Zahier juga kerap menekankan pentingnya adab dalam berinteraksi sosial, di mana seorang mukmin yang baik justru menutupi kekurangan saudaranya, bukan malah memperjelas atau membesarkan 10% celah kecil yang ngga prinsipil.
Jadi, kalau pas lagi kumpul-kumpul terus ketemu tipe orang yang kerjanya cuma nyari salah, mending kita senyumin aja sambil elus dada. Ngga usah ikut terbawa arus buat bahas 10% kekurangannya, tapi fokus saja merayakan 90% kebaikan dan usaha keras yang udah dibangun bareng-bareng.
Biar suasana ngumpul kita tetap hangat dan jauh dari energi negatif.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar