Jujur, aku juga sering merasa lelah menghadapi orang-orang yang berlagak "perhatian" padahal niatnya cuma mau ngorek informasi. Rasanya seperti energi kita disedot habis hanya untuk menjawab hal yang sebenarnya bukan urusan mereka.
Aku masih ingat kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu, aku baru saja memutuskan untuk kembali menulis di platform digital setelah resign dari pekerjaan full-time. Keputusanku ini didasari banyak pertimbangan—untuk mengisi waktu luang, passion, dan kesehatan mental.
Saat bertemu kenalan lama, aku disambut dengan senyum yang kaku. Dia langsung nembak pertanyaan yang menusuk: "Kok sekarang kerja sih? Bukannya udah dinafkahin suami? Gaji suami kamu kurang ya?"
Jleb! Seketika, aku tahu, ini bukan pertanyaan dari hati yang peduli. Di balik kata-katanya, ada judgment dan asumsi. Dia berasumsi kalau aku bekerja/menghasilkan uang dari platform digital, berarti suamiku gagal menafkahi. Dia mengabaikan passion-ku, kebutuhan untuk self-fulfillment, dan semua pertimbangan finansial yang sudah kami planning matang-matang.
Aku merasa risih, terpojok, dan energinya terkuras. Setelah menjawab sekenanya, dia langsung ganti topik. Dia tidak menawarkan bantuan atau setidaknya basa-basi memuji keberanianku kembali berkarya. Dia hanya puas karena berhasil mengulik informasi yang bisa ia pakai untuk perbandingan. Ini adalah esensi dari kepo nir-empati.
Kepo Itu Selalu Tentang "Aku" (Ego)
Aku belajar, kepo adalah rasa ingin tahu yang didorong oleh ego. Itu adalah kebutuhan si penanya, bukan kebutuhanmu. Mereka tanya detail sensitif—uang, status pernikahan, kapan punya anak—bukan untuk support, tapi untuk:
- Membandingkan Diri: Mereka ingin tahu posisi mereka di tangga sosial dibandingkan denganmu. Kalau kamu terlihat sukses, mereka berusaha mencari celah atau kekuranganmu.
- Mencari Bahan Gosip: Aku yakin kamu tahu tipe ini. Mereka hanya butuh headline yang juicy untuk dibawa ke circle mereka. Begitu informasinya didapat, nilai kamu bagi mereka selesai.
- Interogasi Tanpa Tujuan: Mereka tanya hal sensitif hanya karena nggak ada bahasan lain. Begitu kamu jawab, respons mereka datar. Kamu yang jadi lelah, mereka yang puas.
Ciri utamanya: Kalau setelah kamu bicara dengan seseorang, kamu malah merasa tertekan, lelah, dan terinvasi—itu sudah pasti kepo berkedok perhatian.
Perhatian Sejati Berwujud Dua Sahabat
Aku punya pengalaman yang kontras dengan dua orang sahabatku. Mereka, sumpah, memang berisik! Tapi, anehnya, aku suka sekali suara berisik mereka. Mereka juga suka mengomel kalau aku mulai lupa waktu dan stres dengan tulisan. Awalnya kupikir menyebalkan, tapi aku tahu omelan itu murni demi kebaikanku.
Mereka tidak pernah bertanya soal jumlah viewer-ku atau berapa penghasilanku dari platform digital. Fokus mereka? Kesehatanku.
Perhatian mereka datang dalam bentuk aksi nyata, bahkan dalam bentuk komando:
- Mereka sering menawarkan, "Ayo mau ngopi di mana?" atau "Ayo keluar biar kepalanya nggak berisik."
- Tiba-tiba mereka akan menelepon dan berteriak, "Mandi cepetan! Aku jemput, ya. Kita ngopi!"—sebuah komando yang membuatku auto bergerak, melepaskan diri dari layar laptop.
- Bahkan, saat kami sedang berkumpul, omelan mereka sangat spesifik dan bermanfaat: "Ayo kerjain HSI (platform belajar agama online)! Sholat dulu! Jangan ghibah!"
Ini adalah esensi dari perhatian yang tulus. Mereka tidak hanya bertanya apa masalahku, tapi langsung menyediakan solusi untuk membawaku kembali pada kondisi yang lebih baik, baik secara mental maupun spiritual.
Orang yang benar-benar perhatian akan fokus pada:
- Kualitas Dukungan: Mereka fokus pada perasaanmu dan well-being, bukan pada detail teknis pekerjaanmu.
- Tawaran Bantuan Konkret: Bantuan mereka spesifik dan proaktif—seperti memaksa untuk ngopi atau menjemputmu agar kepalamu jernih.
- Menghargai Batasan: Walaupun berisik dan mengomel, niat mereka selalu dibingkai oleh niat baik dan tidak pernah mendesakmu membahas hal yang kamu tolak.
Pelajaran Penting: Ujian Niat
Untuk membedakannya, kita harus selalu cek niat si penanya. Kepo bertanya untuk tahu, Perhatian bertanya untuk mendukung.
Coba bayangkan kalau kamu ditanya "Emang nulis bisa dapet apa?" atau "Kapan engagement-nya naik?":
- Tipe Kepo akan terus menekan, membandingkanmu dengan penulis lain, dan membuatmu merasa gagal.
- Tipe Perhatian (seperti dua sahabat) akan fokus pada kondisi fisik dan mentalmu saat kamu melalui fase membangun kembali traffic, dan menawarkan pelarian agar kamu tetap termotivasi.
Penting banget untuk kamu sadar bahwa kamu berhak menjaga batasanmu. Kalau kamu ditanya hal sensitif yang terasa seperti interogasi, kamu tidak wajib menjawab panjang lebar. Aku sekarang akan tersenyum dan bilang: "Aku baik-baik saja, terima kasih banyak atas perhatiannya!" lalu mengalihkan pembicaraan.
Ingatlah selalu ini: Orang yang benar-benar peduli (meski berisik) tidak akan membuatmu merasa tertekan hanya demi memuaskan rasa penasaran mereka. Mereka akan mengutamakan kenyamanan dan kesejahteraan emosionalmu di atas segalanya. Jangan biarkan energi baikmu terkuras habis oleh kepo berkedok peduli. Semangat terus, Teman!
PS: Tulisan ini aku persembahkan untuk dua orang sahabatku yang selalu "mengganggu" dan "mengacak-acak" ritme tenangku. Aku yang tidak suka menerima panggilan telepon mulai mampu untuk menerimanya dan berkata "halo". Aku yang selalu diam di sudut kedai kopi mulai berbicara dan berbagi tawa (bahkan kadang nangis) dengan mereka. Aku yang sering mengurung diri di kamar mulai bergerak bangun sekedar untuk berjalan kaki di pagi hari.
Terima kasih. Jazakunnallahu khair.
Lots of Love,
Resa—
.png)
45 Komentar
Duh, relate banget. Bener ya, beda jauh rasanya antara orang yang peduli sama yang cuma kepo.
BalasHapusAku baca kok ya bener banget ya!! Hehehe..
BalasHapusKadang tuh bedanya emang tipis banget antara Kepo sama Care. Tapi basicnya sih emang dari niatnya dulu, kalau kepo tuh kadang aku ngelihatnya kayak menaikkan terus menjatuhkan gitu kalau udah tahu sesuatunya. Beda sama care yang cenderung bikin naik terus vibes-nya. :D
mantapp
BalasHapusSetuju ... terkadang orang kepo merasa dirinya care, tapi tak jarang juga kita menganggap orang yang care pada kita sebagai orang kepo. Selain niat awal dari si "penanya" kita sebagai penerima pertanyaan juga harus berpositif thinking.
BalasHapusSaya sering kepo, cuma oengen tahu aja. Gak peduli sih sama yang lainnya 😂
BalasHapusSebenarnya ini sering jadi dilema kalau kita ingin peduli sama orang lain. Takutnya kalau nanya-nanya malah dikira kepo, padahal nggak ada maksud begitu. Tapi memang kita harus bijak memilih ke siapa mau berbagi informasi. Kalau sudah terlihat tanda-tanda orangnya kepo, jawab seperlunya saja tapi tetap sopan, supaya nggak jadi bahan gosip yang lebih kejam. Hadeuh…
BalasHapusAku akan cut off teman yang kepo nirempati kayak gitu Kak, daripada makin sakit hati dan kesehatan mentalku drop.
BalasHapusKak kamu beruntung punya sahabat yang tulus begitu, semoga persahabatan kalian awet selalu ya.
Bahasannya tidak monoton.
BalasHapusyap, kedua kata ini beda arti juga harus bisa bedakan mana yang cuma kepo sama yang beneran care hehe
BalasHapusThankss ka jdi tau ni beda nya kepo an sma org yg care
BalasHapusPernah ada di posisi dimana kepo nya mereka cuma sekedar pingin tau bukan pure bentuk keperdulian.
BalasHapusBeruntungnya jika punya orang2 yg bener2 care dan jadi support system
Tapi nampaknya ga semua orang punya keberuntungan seperti itu
Wah, bahasan ini keren banget dan membuka mata jadi ingat pentingnya waspada biar nggak tergoda dengan hal‑hal yang “menjebak”
BalasHapusMenarik! Bahasannya penting banget untuk diingat: kadang kita mudah terjebak sebelum memeriksa fakta.
BalasHapusJudulnya bikin penasaran! Setelah baca, aku setuju banget, seringkali kita terjebak oleh ekspektasi orang lain atau standar yang nggak realistis di media sosial. Kunci hidup tenang memang harus tahu batasan diri dan berhenti membandingkan.
BalasHapussangat menarik
BalasHapusrealitanya yang paling care sama kita ya diri kita sendiri. Banyak bercerita justru jadi bagian paling melelahkan buatku pribadi
BalasHapusTopik ini relate banget buat banyak orang. Cara menjelaskan step by step sampai memberikan solusi terasa rapi dan mudah dipahami. Pesannya ngena!
BalasHapusBermanfaat banget, bikin lebih paham kapan orang cuma kepo atau benar-benar care.
BalasHapusAlhamdulillah senangnya punya sahabat yang care.
BalasHapusKepo itu beda tipis sama usil ya, pengen tahunya dengan tujuan menyebarkan gosip juga
Edukasi yang sangat penting di era digital ini!
BalasHapusKesal ya pastinya kalau ada orang yang nanya-nanya tapi ujungnya ternyata dia cuma kepo dan bukan perhatian sama kita. Dan Beruntung banget kalau kita punya sahabat yang benar-benar perhatian bahkan mendukung apa yang kita kerjakan.
BalasHapusBermanfaat banget! Kadang kepo dan care itu tipis bedanya, artikel ini bantu banget supaya kita bisa membedakannya.
BalasHapuswah bener banget nihh kadang kita gabisa bedain mana yg beneran care atau cuman kepo doang , makasihhh udah sharing yahh kak
BalasHapusPeringatan yang sangat bermanfaat! Artikel ini membuka mata.
BalasHapusmakasih banget udah sharing kak, jadi lebih paham sih mana yang care sama mana yang cupa kepo
BalasHapuswahh bener bgtt nihh, terima kasih sudah sharing
BalasHapusMengingatkan banget, tulisannya semuanya penting untuk disadari.
BalasHapusKalau ketemu sama orang yang hanya mau kepo mending tinggalin aja mba..gak usah diladenin...cari teman yang baik baik fan memberi energi positif aja sama kita.
BalasHapusPenjelasannya sangat mudah dipraktikkan.
BalasHapusKadang pertanyaan kepo itu memang bikin kesel. Soalnya kan kelihatan juga tulus atau nggak nya, hehe. Tinggal tergantung kitanya sih ya, agar gak terjebak dan bisa kasih jawaban yang ngeselin juga, eh wkwkwk
BalasHapusjadi bisa bedain mana care mana kepo hahaha
BalasHapusthanks udah sharing ka, bisa bedain sekarang
BalasHapussangat berguna bagi yang ingin tahu perbedaan antara kepo dan care
BalasHapusKita tuh ngga jauh2 ya dari masyarakat yang kepo dan maaf selalu suka mencampuri urusan orang.. Jujur benar-benar membuat kita ngga nyaman, i feel you karena aku pernah berada di posisimu kak. Kadang kalau liat mereka sprti itu aku lebih baik menjauh deh, biar kita merasa hidup tenang...
BalasHapuswahhh terimakasih informasinya kak, sangat bergunaa
BalasHapusmakasi infonya kak!
BalasHapusArtikel ini bagus banget jadi pengingat supaya nggak gampang terpengaruh sama hal-hal yang kelihatannya menarik tapi ternyata bisa menjerumuskan
BalasHapusterimakasi informasinya kak jadi tau skrng bedanya
BalasHapusSetuju banget. Saya juga udah mulai bisa membedakan mana orang kepo dan hanya cari bahan gosip. Kadang mereka kepo ujung-ujungnya menghakimi. Males banget kan ya. Jadi kalau ditanyain saya jawabnya nyantai dan ngawur aja. Hahaha.
BalasHapuskadang suka dibilang terlalu care malah dikira kepo aku tunjukin aja blog ini ke temen ku biar percaya kalo aku beneran care
BalasHapusIsinya membuka mata banget. Penjelasannya sederhana tapi ngena, jadi lebih waspada biar tidak mudah tertipu
BalasHapusSumpil aku beruntung banget bisa bertemu dan membaca artikelmu, ka Resa.
BalasHapusI feel you banget.
Aku sering dinasehatin ama temen, kalo kita berteman itu yaa.. "Saling" bukan hanya nasehatin atau kepo yang gak solutif. Kalo uda gitu, berasa banget drained of ma energy..
Aku suka banget sama kalimat penutupnya.
Bener-bener gong banget siiyh nurutkuuh.. orang kudu tau kapan kudu berisik, tanpa judgement dan menyakiti.
aaaahhhh laavvvvv
HapusI feel you, Kak. Punya teman yang cukup berisik emang awalnya bikin jengkel. Merasa kayak ngurusin banget gitu lho. Tapi sejatinya, justru yang berisik itu yang kadang nggak bikin kita merasa risih untuk menjawab atau menanggapi mereka.
BalasHapusSemogaaa kita selalu dikelilingi sama orang-orang yang perhatian ya kak, bukan yang kepo dan malah nyakitin hati kita. Memang keliatan kok perbedaannya, mana yang kepo aja, mana yang benar-benar care dan perhatian...
BalasHapus