Akhir-akhir ini aku merasa sedikit aneh. Hmm, entahlah… mungkin karena sesuatu hal yang belum bisa kupahami dengan detil. Namun yang jelas, aku merasa seolah haus akan ilmu. Ilmu? Ya, ilmu. Bukan hanya yang bersifat informal melalui bacaan ringan di media sosial, tetapi juga ilmu formal yang terstruktur dan mendalam.
Sebenarnya, jika boleh jujur, kegelisahan ini sudah kurasakan sejak sekitar tiga tahun yang lalu. Secara tiba-tiba, pikiranku kembali lagi ke bangku kuliah. Aneh, ya? Haha, iya. Dulu, saat masih mengenakan seragam, sekolah adalah hal yang paling kuhindari. Aku sering menganggap ruang kelas sebagai beban yang menyesakkan. Namun entah kenapa, sekarang sekolah adalah hal yang paling aku rindukan di dunia ini.
Tapi tunggu dulu, kerinduan ini bukan karena suasananya. Bukan juga karena asyiknya pertemanan atau memori masa muda di kantin sekolah. Aku bukan tipe orang yang populer dan memiliki banyak teman dekat sejak dulu. Aku hanya rindu dengan... ilmunya. Hmm, terdengar sangat filosofis sekali, ya?
Aku bukan anak yang berprestasi dengan rentetan piala atau piagam lomba tingkat nasional maupun internasional. Prestasiku biasa saja, yah, selayaknya anak pada umumnya yang mencoba bertahan di tengah kurikulum yang padat. Tapi saat ini, aku merasa sangat rindu untuk belajar. Aku benar-benar butuh asupan ilmu. Apapun itu.
Banyak sekali yang ingin “kumakan” rasanya. Seolah-olah ragaku ini mengalami semacam hiperoreksia—sebuah rasa lapar yang berlebihan—namun bukan terhadap makanan, melainkan terhadap ilmu yang rasanya sudah habis diserap berpuluh-puluh tahun lalu. Aku ingin belajar ilmu yang belum kupahami sama sekali. Aku ingin belajar banyak bahasa yang mungkin saat ini hanya kupahami setengahnya. Aku ingin belajar hal-hal yang rumit dengan detil yang presisi.
Kemarin, rasa penasaran itu membawaku ke dunia medis. Mendadak aku ingin belajar tentang terminologi kesehatan yang terdengar asing bagi telinga orang awam. Aku mulai mencari tahu tentang apa itu gasping—pola napas abnormal yang sering menjadi tanda kritis pada pasien. Aku menyelami sistem kardiovaskular, hingga memahami apa itu Tekanan Intrakranial (TIK) atau Intracranial Pressure yang sering kali menjadi momok dalam kasus cedera kepala. Hahaha, aneh? Bisa jadi.
Yang lebih anehnya lagi, aku mendadak tertarik dengan dinamika antara dokter spesialis anestesi dan dokter bedah saraf. Kenapa tiba-tiba? Jangan tanya, aku juga tidak tahu! Rasa penasaran ini muncul begitu saja tanpa permisi. Tahun lalu, aku bahkan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari tahu tentang seluk-beluk kopi, profesi barista, hingga teknik-teknik rumit di balik resep pastry. Apa aku mau membuatnya? Hmm, tidak juga. Aku hanya ingin tahu. Penasaran lebih tepatnya.
Lalu, rasa haus ini membawaku masuk ke dunia psikosomatik. Aku tertegun saat mempelajari bagaimana keadaan mental yang sering kita anggap sepele—seperti stres kronis atau kecemasan—bisa sangat membahayakan bagi organ vital seperti jantung dan otak. Bagaimana pikiran bisa memanipulasi tubuh hingga menciptakan gejala fisik yang nyata. Hmm, lucu ya, bagaimana sesuatu yang tak kasat mata bisa menghancurkan sesuatu yang padat?
Dan sekarang? Sekarang aku sedang sangat penasaran dengan propofol, epinefrin, dan mesin anestesi yang dikendalikan penuh oleh dokter anestesiologi di meja operasi. Aku membayangkan betapa magis sekaligus ngerinya suasana di ruang bedah. Bagaimana dua kepala besar—bedah saraf dan anestesi—harus bekerja dalam sinkronisasi yang gila saat di depan mereka ada nyawa yang sedang dipertaruhkan.
Pikiranku melayang membayangkan sebuah operasi krusial. Bagaimana seorang dokter bedah saraf harus benar-benar mengontrol manuver tangannya dengan presisi mikroskopis, sementara di sisi lain, dokter anestesi harus tetap tenang saat monitor hemodinamika mulai "berteriak". Suara alarm dari monitor yang menunjukkan angka-angka merah; mulai dari MAP (Mean Arterial Pressure) yang merosot, saturasi oksigen yang tidak stabil, hingga fluktuasi laju jantung. Semua itu terjadi tepat saat instrumen dokter bedah sudah masuk jauh ke dalam area steril di jaringan otak yang rapuh.
Ada sebuah ketegangan yang indah di sana, sebuah kerja sama tanpa kata yang hanya dipandu oleh angka dan bunyi instrumen. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik mempelajari sinkronisasi seperti itu? Bagaimana mereka menjaga kewarasan saat tekanan berada di titik tertinggi?
Mungkin bagi sebagian orang, rasa penasaranku ini dianggap sebagai kesia-siaan. "Untuk apa belajar itu kalau kamu tidak jadi dokter?" atau "Buat apa tahu cara bikin roti kalau tidak jualan?" Namun bagiku, ilmu bukan hanya tentang ijazah atau komersialisasi. Ilmu adalah nutrisi untuk jiwaku yang lapar.
Statusku yang memiliki banyak waktu luang justru menjadi berkah tersendiri. Di saat orang lain terjebak dalam rutinitas yang mencekik, aku memiliki kemewahan waktu untuk menjadi pengelana ilmu. Aku bisa menjadi barista di pagi hari lewat bacaanku, menjadi psikolog di siang hari, dan menjadi pengamat anestesi di tengah malam.
Aku menyadari bahwa kapasitas otak manusia itu luar biasa. Kita sering kali hanya menggunakan sebagian kecilnya saja untuk bertahan hidup, padahal ada semesta yang bisa dijelajahi di dalamnya. Aku tidak ingin berhenti. Aku ingin terus "makan". Aku ingin menelan fakta-fakta tentang bagaimana obat anestesi bekerja menekan sistem saraf pusat, atau bagaimana ragi bekerja mengembangkan adonan roti, hingga bagaimana bahasa asing membentuk cara kita berpikir.
Mungkin rasa haus ini adalah cara jiwaku memberitahu bahwa selama ini aku terlalu lama "berpuasa". Terlalu lama aku hanya menerima apa yang disuapkan oleh lingkungan tanpa benar-benar mencari makanan sendiri. Sekarang, saat aku memiliki kontrol atas waktuku, aku tidak akan membiarkan sel-sel otakku kelaparan lagi.
Biarlah mereka menyebutku aneh. Biarlah mereka heran melihatku sibuk mencatat tentang hemodinamika di sela-sela waktu santai. Karena bagiku, pengetahuan adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah basi. Ia adalah teman bicara yang paling setia saat sepi, dan senjata paling tajam saat dunia mencoba meremehkan kita.
Aku rindu sekolah, tapi bukan sekolah dengan gedung dan bel masuk. Aku rindu pada proses menjadi "tidak tahu" lalu kemudian "paham". Proses itulah yang membuatku merasa hidup. Dan selama rasa lapar ini masih ada, aku tahu bahwa aku belum benar-benar habis. Aku masih ada, aku masih bertumbuh, dan aku masih sangat lapar.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar