Saat Langit Mulai Menua: Jangan Sibuk Melukai, Sebab Esok Kita Mungkin Tak Lagi di Sini

 


Kemarin sore, di tengah obrolan santai yang diiringi gelak tawa, aku sempat nyeletuk tanpa sengaja, "Duh, jangan sampai ada musim COVID lagi, ya." Sebuah kalimat sederhana yang ternyata menjadi kunci pembuka gerbang memori. Seketika, pikiranku terlempar jauh ke tahun 2019. Aku mulai menghitung dalam hati, mencoba mencocokkan angka-angka di kalender.

Lalu aku tertegun. "Hah, 2019? Itu bukannya sudah tujuh tahun yang lalu, ya?"

Tiba-tiba dadaku terasa sesak oleh sebuah kesadaran yang datang terlambat. Waktu ternyata berputar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bumi terus berotasi, musim berganti, dan teknologi melesat kencang, sementara aku? Aku merasa masih begini-begini saja. Langkahku terasa stagnan di tengah dunia yang terus berlari.

Namun, di momen refleksi itu, anehnya bukan soal tumpukan harta atau pencapaian duniawi yang membuatku cemas. Pikiranku justru melayang jauh melampaui batas cakrawala kehidupan ini. Aku mulai memikirkan soal akhirat. Sesuatu yang seringkali kita pinggirkan demi urusan-urusan yang kita anggap mendesak hari ini.

Aku mulai mencoba melakukan "perhitungan kasar" sendirian. Pernahkah kalian melakukannya? Duduk diam di pojok kamar, lalu mencoba menimbang-nimbang secara imajiner: kira-kira, antara amal baik dan amal burukku, mana yang lebih berat timbangannya?

Jujur saja, saat ingatan itu muncul, aku disergap rasa takut yang luar biasa. Kenapa? Jawabannya simpel dan menyakitkan: karena aku merasa amal burukku jauh lebih banyak daripada amal baikku. Ada banyak "bolong" dalam ibadahku, ada banyak khilaf dalam ucapanku, dan ada banyak niat yang mungkin belum sepenuhnya tulus karena Allah. Huhuhu, rasanya ingin menangis saking takutnya kalau waktu itu benar-benar habis sekarang juga.

Menariknya, di tengah ketakutan akan perhitungan Tuhan, aku justru merasa semakin tidak peduli dengan penilaian manusia. Di zaman sekarang, saat media sosial meledak dan menjadi panggung utama kehidupan, manusia menjadi begitu mudah memberikan penilaian. Kita hidup di era di mana "salah paham" adalah makanan sehari-hari. Orang-orang dengan jempolnya yang ringan begitu gampang melontarkan penghakiman tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

"Wah, harusnya dia begini sih!" 
"Ih, kok gitu? Nggak bener tuh caranya!" 
"Gimana sih? Nggak bertanggung jawab banget jadi orang."

Kalimat-kalimat itu berhamburan di kolom komentar seolah-olah mereka adalah hakim paling adil di semesta ini. Mereka menilai hanya sebatas apa yang tertangkap kamera atau apa yang tertulis di status, tanpa mau menyelam lebih jauh ke dalam samudera perjuangan seseorang. Mereka lupa, atau mungkin pura-pura lupa, bahwa setiap kata yang terlontar—baik melalui lisan maupun tulisan—memiliki gema yang akan kembali kepada pemiliknya untuk dimintai pertanggungjawaban.


Allah telah memperingatkan kita dalam QS. Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."


Setiap ketikan kita di layar ponsel, setiap nyinyiran yang kita bisikkan ke telinga teman, semuanya tercatat rapi. Tidak ada yang luput. Inilah yang seharusnya membuat kita lebih gemetar daripada takut pada penilaian manusia yang seringkali bias.

Sudah selayaknya kita berhati-hati dalam mengomentari apa pun, apalagi jika itu menyangkut cobaan hidup orang lain. Ada sebuah peringatan yang sangat dalam, bahwa kita tidak akan diwafatkan sebelum kita sendiri mengalami cobaan seperti orang yang kita cela. Dunia ini berputar, Bestie! Apa yang kita tertawakan hari ini dari orang lain, bisa jadi adalah ujian yang akan Allah berikan kepada kita besok untuk melihat apakah kita bisa lebih baik dari mereka.


Allah juga mengingatkan tentang bahaya mencela dan mencari kesalahan orang lain dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا...

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..."


Maka, di sisa umur yang kita sendiri tidak tahu tinggal berapa helas napas lagi ini, sudah saatnya kita mulai berbenah. Daripada sibuk menjadi penonton dan kritikus bagi hidup orang lain, bukankah lebih baik kita fokus menjadi pemeran utama yang memperbaiki naskah hidup kita sendiri?

Fokuslah pada diri sendiri. Fokus memperbaiki apa yang rusak di dalam hati. Tidak perlu terlalu banyak memberikan komentar atau "fatwa" atas hidup orang lain yang kita sendiri tidak menjalaninya. Hidup ini sudah cukup berat tanpa harus ditambah dengan beban dosa dari lisan yang tidak terjaga.

Buatlah benteng dan perisai untuk dirimu. Benteng yang melindungi hatimu dari penyakit iri, dengki, dan sombong. Perisai yang menjaga lisanmu agar tidak menyakiti sesama. Jangan justru sibuk mengasah pedang untuk melukai perasaan orang lain, karena pedang itu bisa saja berbalik melukai dirimu sendiri di hari perhitungan nanti.

Mari kita pulang ke dalam diri. Menghitung kembali bekal yang kita punya, sebelum benar-benar sampai di terminal terakhir. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak orang yang setuju dengan pendapat kita yang dihitung, tapi seberapa bersih hati kita saat menghadap-Nya.


Lots of Love,



Resa—

Posting Komentar

0 Komentar