Sisi Gelap Penulis: Saat Hati Tak Sejalan dengan Jari

 


Beberapa hari ini, duniaku mendadak kehilangan warna. Rasanya aneh—seperti sedang berdiri di tengah ruangan luas yang penuh barang, tapi aku merasa kosong. Ada dorongan besar untuk melakukan sesuatu, untuk menumpahkan segala isi kepala ke dalam wadah bernama karya, namun tanganku seolah terbelenggu oleh rantai tak kasat mata.

Penyakit lama itu datang lagi. Sebut saja writer's block, atau apa pun istilah keren yang sering dipakai para penulis hebat di luar sana. Bagiku, ini lebih menyerupai hantu tanpa wajah yang duduk tepat di pundakku, membisikkan kata "hampa" setiap kali aku membuka layar laptop.

Aku tetap menulis, sungguh. Jemariku masih sanggup mengetikkan kata demi kata hingga hitungannya menyentuh angka dua ribu di pojok layar. Namun, saat aku membacanya ulang, aku merasa mual. Tulisan itu mati. Tak ada denyut nadi di setiap kalimatnya, tak ada jiwa yang bernapas di sela-sela tanda bacanya. Tahu kan rasanya menyajikan hidangan yang terlihat mewah, tapi saat digigit rasanya hambar seperti air putih? Seperti itulah tulisanku sekarang.

Parahnya, alur ceritaku sedang menuntut sesuatu yang sangat mahal: Kebahagiaan!

Tokoh utamaku seharusnya sedang berada di puncak keceriaan. Dia harus tengil, usil, dan menebar tawa di setiap dialognya. Namun, bagaimana mungkin aku bisa melahirkan tawa dari rahim pikiran yang sedang kelelahan? Bagaimana aku bisa menampilkan binar mata yang jenaka jika mataku sendiri terasa berat karena beban yang tak tahu apa namanya?

Rasanya ironis. Aku, sang kreator, sedang terjebak dalam ruang hampa yang dingin, sementara aku dipaksa menciptakan matahari bagi tokoh-tokohku.


"Kenapa sih, ceritanya selalu sedih?"


Itu adalah pertanyaan yang paling sering mampir di kolom komentar. Para pembaca setia itu meninggalkan jejak, bertanya-tanya mengapa aku begitu gemar menyiksa karakter yang mereka cintai. Sejujurnya, jika aku boleh berteriak sedikit saja di depan wajah dunia, aku akan bilang: Inilah sisi gelap seorang penulis.

Kami adalah para pesulap yang paling menyedihkan. Kami membungkus luka yang bernanah dan rasa sakit yang tak kunjung sembuh menjadi sebuah narasi indah. Kami menyulap trauma menjadi drama, dan mengubah air mata pribadi menjadi fiksi yang membuat ribuan orang berdecak kagum. Kami membangun panggung megah dari reruntuhan hati kami sendiri, membiarkan orang lain menonton pertunjukan itu tanpa pernah tahu bahwa sang dalang sedang gemetar di balik layar.

Ironis? Jelas. Tapi bagiku, tak apa. Setidaknya, jemariku yang terkadang terjaga hingga jam tiga pagi ini masih bisa memberikan hiburan. Setidaknya, apresiasi mereka menjadi perban sementara bagi luka-luka yang sengaja aku pamerkan lewat tokoh imajiner.

Dan di sinilah aku sekarang. Masih duduk termenung di salah satu meja kedai kopi, tempat di mana aku berharap suasana bisa memberikan secercah ide. Di depanku, piring kecil bekas pastry sudah bersih, menyisakan remah-remah yang mulai mengering. Cappuccino dinginku pun sudah kehilangan busanya, menyisakan satu tegukan terakhir yang terasa pahit dan asam di lidah.


Dapat bab barunya?


Aku tertawa getir dalam hati. Jawabannya adalah nol besar.

Layar laptopku masih statis, seolah mengejek ketidakberdayaanku. Aku belum mampu melanjutkan bab penuh tawa itu. Hatiku menolak untuk berpura-pura bahagia hari ini. Namun, anehnya, kepalaku justru sudah menyusun rencana yang jauh lebih mengerikan. Aku sudah bisa melihat dengan jelas bagaimana bab tragis di depan sana akan menghancurkan semuanya. Aku sudah bisa membayangkan kehancuran, air mata, dan perpisahan yang akan terjadi tiga atau empat bab lagi.

Benar-benar psikopat gila, bukan?

Di saat aku gagal menciptakan tawa, aku justru sudah menyiapkan peti mati untuk tokoh-tokohku sendiri. Aku lebih fasih dalam bahasa duka daripada tawa. Mungkin karena duka adalah rumah yang paling aku kenal, sementara bahagia... ah, bahagia hanyalah tamu yang sesekali mampir lewat pintu belakang dan pergi sebelum fajar menyingsing.

Aku menutup laptop perlahan. Suara klik dari engselnya terdengar seperti titik terakhir dalam sebuah paragraf buntu. Biarlah bab bahagia itu menunggu sedikit lebih lama. Biarlah tokoh-tokohku diam membeku dalam ketidakpastian, sampai aku kembali menemukan sedikit saja nyawa untuk ditiupkan ke dalam diri mereka.

Satu tegukan terakhir cappuccino itu aku habiskan. Pahitnya menyangkut di tenggorokan, sama seperti cerita-cerita yang belum sempat kutuliskan.


Lots of Love,


Resa—

Posting Komentar

0 Komentar