Pernah nggak sih, kamu mendadak merasa jadi manusia paling bijak sedunia, terus bikin peraturan ketat buat diri sendiri, tapi selang beberapa hari malah kamu langgar sambil cengengesan? Haha, tenang, kamu nggak sendirian. Aku adalah salah satu pelakunya, dan percayalah, melanggar janji pada diri sendiri itu ada seninya.
Semuanya biasanya dimulai dari "pencerahan" yang datangnya nggak diundang. Entah karena habis lihat video orang workout atau nggak sengaja baca artikel kesehatan, tiba-tiba egoku bangkit. Dengan semangat 45 dan wajah berapi-api—seolah-olah sedang memimpin upacara kemerdekaan—aku mendeklarasikan sebuah aturan suci:
"Oke, mulai hari ini aku harus hidup sehat! No instant-instant! Apa itu makanan kaleng? Bye! Pokoknya cuma yang segar dan alami!"
Saat itu, aku yakin seratus persen kalau rencanaku bakal berjalan mulus sampai akhir hayat. Aku membayangkan diriku jadi versi manusia paling bugar di lingkungan ini.
Tapi, ya namanya juga manusia, ya...
Jeng jeng!
Semua resolusi mulia itu hancur berkeping-keping tepat di hari ketiga. Sore itu, di depanku sudah tersaji pemandangan yang sangat berdosa bagi sekte hidup sehat: sepiring mi goreng instan porsi ganda. Di atasnya ada telur mata sapi yang kuningnya masih setengah matang—kalau dicolek dikit, lumer menggoda banget. Nggak lupa, taburan irisan cabai rawit merah yang pedasnya siap menggelegar di lidah. Minumnya? Jelas es teh manis yang gelasnya sampai berembun dingin, siap memadamkan "kebakaran" di bibir.
Sambil menyuap mi yang gurih itu, aku cuma bisa membatin pasrah, "Okelah, kali ini nggak apa-apa. Besok aku mulai lagi. Pasti bisa!"
Ya, aku cuma lagi menyemangati diriku sendiri sebelum akhirnya mengubur deklarasi "hidup sehat" itu dalam-dalam di pekarangan imajiner yang penuh semak belukar. Mengubur rencana mustahil yang kubuat dengan euforia entah dari mana.
Apakah dramanya selesai? Tentu tidak.
Beberapa hari kemudian, "penyakit" ambisius itu datang lagi. Kali ini sasarannya adalah fisik. Dengan pose seolah siap ikut maraton, aku berikrar lagi: "Baik, mulai sekarang, minimal sepuluh ribu langkah sehari! Harus!"
Mungkin pas aku memekik gitu, kucing-kucing yang lagi menguap malas di teras rumah cuma mendengus dan terkikik sinis.
"Ya Tuhan, punya proyek aneh apalagi sih manusia ini?" mungkin gitu pikir mereka.
Dan tebakanmu benar. Jangankan menyentuh sepuluh ribu, mentok di angka empat ribu langkah saja aku sudah merasa seperti habis daki Gunung Rinjani. Dan bukannya lanjut jalan, langkahku malah berhenti di sebuah warung soto ayam pinggir jalan. Alih-alih membakar kalori, aku malah menggantinya dengan "balas dendam" yang manis.
Semangkuk soto porsi besar, lengkap dengan tiga buah mendoan hangat yang berminyak, satu sate usus, dan satu sate telur puyuh. Minumnya? Tetap es teh manis satu gelas penuh. Aku meyakinkan diri kalau ini adalah reward yang sangat sepadan buat empat ribu langkah tadi. Ya ampun, aku pasti lagi demam tinggi pas bikin peraturan mengerikan sepuluh ribu langkah itu!
Setelah target-target konyol itu kukubur, hari-hariku kembali berjalan nyaman. Sampai akhirnya, aku membaca sekilas artikel tentang bahaya tidur larut malam.
Skenario aneh di otakku pun berputar lagi. "Sip, nggak ada lagi begadang. Tidur jam sembilan malam. Pasti bisa!"
Aku beneran terbahak pas ingat itu. Memikirkan betapa mustahilnya aku tidur jam sembilan malam itu kayak nunggu kucing bisa terbang. Aku sampai menertawakan diriku sendiri di depan cermin.
"Hei, jangankan tidur jam sembilan, kamu bahkan harus makan permen dulu buat sekadar bisa merem." Aku terkekeh sambil memegang permen di tangan kiri dan pisang di tangan kanan—menu penutup malam yang absurd.
Peraturan itu bahkan nggak bertahan lebih dari 24 jam. Langsung lenyap terbawa angin malam.
Yang paling lucu adalah pas aku mencoba bikin aturan "makan teratur". Ini yang paling bikin aku pingkal. Makan teratur? Ya ampun, aku bahkan seringnya cuma makan sekali sehari pas sarapan, itu pun karena dipaksa keadaan. Jangan tanya kenapa, aku emang tipe yang seleranya suka nggak jelas.
Kalau lagi pengen ngemil, paling aku cuma makan sepotong croissant atau Korean garlic bread. Nasi? Biasanya cuma ketemu di pagi hari. Intinya, aku makan kalau lapar, dan aku nggak pernah tahu kapan rasa lapar itu mau mampir. Kadang dalam sehari aku bisa makan tiga kali kalau lagi "khilaf", tapi kadang aku bisa makan sepiring nasi goreng malam ini, terus baru lapar lagi besok sorenya. Kayaknya lambungku ini punya sistem tangki cadangan kayak unta di gurun pasir. Benar-benar seberantakan itu.
Jadi, tanpa menunggu lama, peraturan "makan teratur" itu langsung aku coret dari daftar hidup.
Tapi, dari sekian banyak aturan yang aku buat lalu aku khianati sendiri, cuma ada satu yang bertahan kokoh sampai sekarang. Sebuah komitmen sakral yang nggak pernah aku langgar: Jangan lupa ngopi.
Hehehe, untuk yang satu ini, aku adalah penganut yang paling taat. Nggak perlu diingatin, nggak perlu pakai motivasi, aromanya selalu sukses bikin aku disiplin setiap hari. Kayaknya, memang cuma kopi yang mengerti kalau hidup tanpa peraturan yang terlalu kaku itu justru jauh lebih nikmat.
Gimana dengan kamu? Ada peraturan "suci" yang kamu langgar hari ini? Mari kita tertawa bersama!
Lots of Love
Resa—
.png)
2 Komentar
aku pas musim panas bisa ngurangin mie instan, tapi lagi musim hujan eh tergoda lagi
BalasHapushahahah kaaaakkkk.... angkat aku jadi muridmu
Hapus