At-Taghabun: Pelukan Hangat Allah di Tengah Lelah yang Tak Berujung

 



Pagi ini terasa sedikit berbeda. Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela kamarku seolah membawa pesan yang belum sempat kubaca. Di tengah rasa lelah yang masih menggelayut di bahu—beban yang rasanya semakin berat setiap harinya—jariku seolah digerakkan oleh sesuatu yang tak terlihat. Aku membuka mushaf, dan entah kenapa, mataku terpaku pada satu nama: Surah At-Taghabun.

Kenapa harus surah ini? Entahlah, aku pun tak tahu jawabannya. Aku hanya mengikuti insting yang tersisa di tengah kekacauan pikiran. Aku mulai membaca, baris demi baris, kata demi kata. Dan di situlah, di antara keheningan pagi, aku merasa seolah Allah sedang memberikan jawaban atas semua rasa lelah yang selama ini kupikul sendirian.

Kau tahu kan rasanya terjebak dalam lingkaran tanpa ujung? Rasanya seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur orang lain. Melelahkan, tapi kamu tak bisa berhenti.


Standar yang Menghimpit

Selama ini, aku sering kali tanpa sadar mematok standar yang terlalu tinggi dalam hidupku. Aku harus sehat, aku harus sukses, aku tidak boleh cemas, aku harus menjadi "sesuatu" di mata dunia. Dan akibatnya? Ketika aku gagal mencapainya, aku terjerembab. Jatuh tanpa pengaman. Sakit? Tentu saja! Rasanya seperti tulang-tulangku retak oleh ekspektasi yang kubangun sendiri.

Tapi, jujur saja, terkadang bukan aku yang menginginkan standar setinggi langit itu. Orang-orang di sekitarku, lingkungan, bahkan sistem kerja, seolah memaksaku untuk selalu naik tanpa boleh jatuh atau tergelincir sedikit pun. Mereka menuntut kesempurnaan seolah aku ini robot yang tidak punya rasa lelah.

Lalu, mataku tertuju pada ayat ke-16:


فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ...

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu..." (QS. At-Taghabun: 16)


Kalimat "menurut kesanggupanmu" (mastatha’tum) itu rasanya seperti usapan lembut di kepala. Allah sendiri yang bilang, "Lakukan semampumu saja." Dia tidak memintaku menjadi pahlawan yang tak pernah kalah. Dia hanya memintaku berjuang sesuai limit yang aku punya. Kenapa aku justru menyiksa diriku dengan standar manusia yang tak pernah puas, sementara Penciptaku saja begitu memaklumi keterbatasanku?


Ujian dari Orang Terdekat

Di tengah usaha pembelaanku, Allah seolah menjawab lagi di ayat 14. Aku hanya bisa terdiam membacanya. Mataku mendadak buram. Ada genangan air yang tiba-tiba menumpuk di pelupuk mata, meronta untuk menetes. Aku menarik napas panjang, mencoba menahan sesak yang muncul mendadak.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ...

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka..." (QS. At-Taghabun: 14)


Ya Tuhan, ini dia jawabannya. Kadang, ujian terberat memang bukan datang dari orang asing, tapi dari orang-orang terdekat. Mereka yang seharusnya menjadi tempat pulang, terkadang justru menjadi sumber lelah yang paling luar biasa. Sangat melelahkan ketika kita harus berjuang melawan ekspektasi atau perlakuan "beracun" dari mereka yang kita sayangi.

Namun, sebelum aku sempat melayangkan protes lebih jauh, ayat itu berlanjut dengan cara yang sangat indah:


وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan jika kamu memaafkan dan kamu santuni serta ampunkan (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun: 14)


Apa yang bisa kulakukan? Protes? Tidak. Aku semakin diam. Allah benar-benar tahu betapa kacaunya aku sekarang. Dia memberiku solusi yang tak pernah terpikirkan: Melepaskan. Memaafkan mereka bukan berarti membenarkan kesalahan mereka, tapi memberikan ruang bagi hatiku sendiri untuk bernapas. Allah tidak menghakimiku seperti mereka. Dia memahami, dan Dia menawarkan ketenangan melalui pengampunan.


Puncak Ketenangan

Puncaknya, aku sampai pada ayat 11. Ayat yang seolah menjadi kunci dari semua gembok kegelisahanku hari ini.


مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)

 

Membaca ayat ini, bahuku yang tadinya kaku perlahan mulai turun. Perutku yang begah seolah menemukan jalan untuk rileks. Semua yang terjadi—temu janji yang gagal, pertemuan dengan orang yang kuhindari, hingga rasa sakit fisik yang mendera—semuanya terjadi dengan izin-Nya. Dan janji-Nya nyata: jika aku percaya, Dia akan memberi petunjuk pada hatiku. Memberi ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan obat apa pun.

Lewat Surah At-Taghabun, Allah membuatku tenang. Dia membuatku kembali tegak setelah sempat rapuh dan hampir menyerah pada diagnosis serta keadaan. Lewat beberapa ayatnya, aku tersadar bahwa aku tidak sendirian. Allah masih sangat sayang. Dia tidak membiarkanku terjebak dalam lubang hitam psikosomatik yang menyesakkan.

Hari ini, aku belajar satu hal penting: Tidak apa-apa untuk merasa capek. Tidak apa-apa untuk tidak menjadi sempurna. Karena di balik semua kelelahan ini, ada Allah yang selalu siap memelukmu dengan ayat-ayat-Nya yang meneduhkan.

Sekarang, aku bisa menutup mushafku dengan senyum tipis. Beban itu belum hilang sepenuhnya, tapi hatiku tahu ke mana ia harus bersandar.


Lots of Love,


Resa—

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Momen² seperti ini yang merasa Allah sedang ngobrol sama kita lewat firmanNya.. Tidak terlihat tapi bisa dirasakan..

    Peluk jauuh🫶

    -Ratna-

    BalasHapus
  2. Terimakasih untuk tulisannya..aq merasa betapa Allah mencintai orang yang jauh dari sempurna ini dg cara Nya.

    BalasHapus