Apa yang pertama kali melintas di benakmu saat mendengar kata "Tarawih"?
Mungkin ingatanmu akan langsung terbang pada riuhnya masjid di malam pertama Ramadhan. Suara anak-anak yang berlarian di shaf belakang, aroma mukena yang baru keluar dari lemari, atau mungkin... sebuah perlombaan? Ya, sebuah perlombaan tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan rakaat demi rakaat agar bisa segera kembali ke pelukan kasur atau sekadar menyesap kopi di teras rumah.
Jujur saja, selama ini aku pun begitu. Bagiku, Tarawih adalah sebuah daftar tugas yang harus segera diberi tanda centang. Cepat, tangkas, dan terkadang, melelahkan. Hingga akhirnya, sebuah rasa penasaran yang mendesak membuat jemariku menari di atas tuts keyboard. Aku mencari tahu, apa sebenarnya makna di balik kata tujuh huruf itu.
Jawabannya cukup membuatku terpaku: Istirahat.
Aku mengernyit. Bagaimana mungkin ibadah yang mengharuskan kita berdiri lama, ruku, dan sujud berkali-kali itu disebut istirahat? Bukankah itu justru menguras fisik? Namun, sejarah membawaku berkelana ke masa lalu, ke sebuah zaman di mana para salafusshalih (generasi terdahulu yang shalih) berdiri di bawah naungan langit malam dengan keanggunan yang luar biasa.
Mereka menunaikan Tarawih dengan sebuah konsep yang kini terasa asing bagi kita: Tuma’ninah. Sebuah ketenangan yang begitu kental. Tak ada riuh buru-buru, tak ada napas yang tersengal mengejar imam. Aku membaca kembali rujukan demi rujukan, membayangkan bagaimana Baginda Nabi Muhammad ï·º menikmati empat rakaatnya. Beliau ï·º membaginya menjadi dua-dua, lalu berhenti. Ya, beliau ï·º berhenti. Beliau ï·º mengambil jeda, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak, membiarkan jiwanya menyesap manisnya iman sebelum kembali berdiri menghadap Sang Khaliq.
Dari situlah kata Tarawih menemukan nyawanya. Istirahat. Ia adalah sebuah pesan tersirat dari Sang Pencipta pada hamba-Nya:
"Bicaralah pada-Ku, adukan semua bebanmu, lalu beristirahatlah sejenak. Beri jeda untuk ragamu sekadar membasahi kerongkongan atau meregangkan sendi yang kaku, sebelum kita lanjut bercakap-cakap lagi."
Ramadhan kali ini, qodarullah, tubuhku tak sedang dalam kondisi puncaknya. Ada rasa lemas yang merayap, bahu yang seringkali terasa kaku, dan perut yang terasa begah tak keruan. Alhamdulillah ala kulli haal, di tengah fisik yang ringkih ini, Allah subhanahu wa ta’ala justru membukakan jendela pemahaman yang baru. Karena kondisi ini, aku tak bisa ikut berdesakan di masjid. Aku terpaksa menikmati kesendirianku di rumah.
Awalnya aku sedih, merasa "tertinggal" dari rombongan pencari pahala. Namun, di balik sunyinya kamar, aku menyadari satu hal yang menenangkan: Tarawih tidak melulu harus dikerjakan tepat setelah Isya. Shalat ini memiliki bentang waktu yang begitu luas, seluas kasih sayang-Nya, mulai dari usai Isya hingga fajar menyingsing sebelum Subuh. Kita hanya perlu menutupnya dengan tiga rakaat Witir sebagai penggenap.
Maka, kucoba mengubah sudut pandangku. Tarawih tak ubahnya seperti me-time eksklusif antara aku dan Allah subhanahu wa ta’ala.
Bayangkan situasinya. Malam sudah larut. Hiruk-pikuk dunia sudah padam. Suara kendaraan di luar mulai jarang terdengar, hanya ada rintik hujan atau suara jangkrik yang menemani hening. Di saat manusia lain sedang terlelap dalam mimpi, kita bangun. Kita datang dengan setumpuk lelah yang menggelayut di pundak dan segudang sedih yang menyesakkan dada.
Dengan gerakan pelan karena tubuh yang masih lemas, aku menarik sajadah. Menghamparkannya di atas lantai yang terasa dingin, namun entah kenapa terasa begitu menyambut. Aku berdiri di sana, di pojok kamar yang remang. Saat takbir pertama terucap, dunia di belakangku rasanya menciut. Hilang.
Lalu, dalam sujud yang lebih lama dari biasanya, aku berbisik lirih dengan suara bergetar, "Ya Allah... hamba datang..."
Indah, bukan? Sangat indah hingga dadaku terasa sesak oleh rasa haru. Di tengah riuhnya tuntutan dunia, di sela himpitan beban yang tak kasat mata—entah itu tentang masa depan, pekerjaan, atau luka lama yang belum sembuh—Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita jeda waktu yang begitu panjang hanya untuk "bercumbu" dengan-Nya. Romantis sekali, jika kau mau merasakannya.
Di situlah kenikmatan yang sesungguhnya mulai merembes masuk ke dalam pori-pori jiwa. Bagaimana jiwa yang rapuh ini merangkak mendekat, mencari perlindungan. Bagaimana hati yang hancur mencoba menyatukan kembali kepingannya dengan susah payah di hadapan Sang Pemilik Hati. Di setiap lantunan ayat yang terbaca terbata-bata, di setiap ruku yang penuh kepasrahan, terselip doa-doa yang dikawal deras oleh air mata.
Napas yang tadinya pendek karena cemas, perlahan mulai teratur. Bahu yang kaku, perlahan mulai melandai. Allah subhanahu wa ta’ala seolah sedang mengusap semua lelah itu lewat keheningan malam.
Setelah semua rakaat selesai, aku tak langsung beranjak. Raga ini masih ingin bersimpuh. Aku duduk di tengah hening yang sunyi, menunduk dengan bahu yang masih sedikit bergetar dan napas yang mulai tersengal karena sisa tangis. Di ruangan kecil itu, aku merasa begitu kecil, namun di saat yang sama, aku merasa begitu disayangi.
Sebelum melipat sajadah, terdengar bisik lirih yang keluar dari lubuk hati terdalam, sebuah doa yang juga merangkap sebagai janji setia seorang hamba kepada Rabb-nya:
"Hamba akan datang lagi, besok, ya Allah..."
Sebab kini aku tahu, Tarawih bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finish. Tapi tentang seberapa betah kita beristirahat dalam pelukan kasih sayang-Nya di tengah malam yang sunyi.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar