Pernah ngga sih, kalian merasa kalau otak kalian lagi ada di frekuensi yang beda dari orang-orang di sekitar? Hari ini, itulah yang aku rasain. Entah karena pengaruh cuaca yang mendung atau mungkin karena kurang asupan kafein, mendadak pikiranku jadi sedikit aneh. Rasanya semua kalimat serius yang mampir ke telingaku otomatis diterjemahin jadi jawaban-jawaban yang, ya... kalau boleh jujur, cukup absurd tapi menurutku masuk akal.
Semua ini bermula dari celetukan seorang teman yang lagi kesal banget sama aku. Dengan wajah bersungut-sungut, dia menunjuk wajahku dan berseru, "Dasar kamu ya, kacang lupa sama kulitnya!"
Alih-alih merasa tertusuk atau merasa bersalah, mulutku malah bergerak lebih cepat dari logika. Dengan santainya aku nyahut, "Lah, ya wajar dong? Aku kan kacang atom! Mana ada kulitnya? Kalau ada kulitnya, namanya jadi kacang rebus, Kawan."
Hening sejenak. Temanku terdiam, menatapku dengan tatapan antara ingin tertawa atau ingin melempar sandalnya ke arahku. Tapi momen itu justru memicu sebuah "ledakan" ide di kepalaku. Aku mulai memikirkan kembali banyak peribahasa atau kalimat klise yang sering banget kita dengar sehari-hari. Ternyata, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang beda, dunia ini jadi jauh lebih lucu dan ngga membosankan.
Mari kita bahas satu per satu celetukan absurd yang tiba-tiba memenuhi isi kepalaku hari ini. Check this out, Guys!
1. Kucing dan Ikan
Sering banget kan dengar orang bilang, "Namanya juga kucing dikasih ikan, ya pasti mau lah ya!" Kalimat ini biasanya dipakai buat memaklumi kalau ada seseorang yang tergoda sama sesuatu yang sudah jelas-jelas menggoda di depan mata.
Tapi, pernah ngga kita berpikir lebih dalam? Saat kalimat itu terlontar buat mengomentari tingkah laku seseorang, aku jadi gatal ingin bertanya: "Lah, emangnya dia itu kucing? Hewan? Kirain dia manusia alias human." Berhenti menyamakan pasanganmu sama kucing tetangga, kecuali kalau dia emang punya hobi tidur di atas plafon dan mengejar tikus. Manusia kan punya akal buat milih, ngga cuma modal insting laper doang.
2. Nila Setitik dan Susu Sebelanga
Dulu, guru Bahasa Indonesia kita sering mengingatkan: "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga." Intinya, satu kesalahan kecil bisa merusak seluruh kebaikan. Seram, ya?
Tapi di tengah ke-absurd-an otakku hari ini, aku malah berpikir praktis. "Nilanya bisa diganti cokelat atau kopi ngga, Kak? Biar lebih enak gitu, jadi ngga mubazir." Bayangin kalau yang jatuh itu satu shot espresso, susunya bukan rusak, tapi malah naik level jadi Cafe Latte yang mahal harganya di kafe-kafe. Kadang "kesalahan" itu cuma varian rasa baru yang perlu kita nikmati dengan sudut pandang beda. Tinggal tambahin gula, beres kan?
3. Masalah Tahu Diri dan Lelahnya Berdiri
Ini salah satu kalimat favorit orang kalau lagi marah: "Dasar ngga tahu diri!"
Kalau kalimat ini mampir ke aku hari ini, jawabanku adalah: "Iya Kak, maaf banget. Aku emang ngga tahu 'diri', soalnya aku sukanya duduk. Capek kalau harus 'diri' terus seharian." Secara harfiah, berdiri itu emang melelahkan. Kenapa ngga sediain kursi aja buat duduk dan merenung? Kadang kita emang butuh momen buat ngga "diri" supaya bisa istirahat sejenak dari ekspektasi dunia yang nuntut kita tegak terus.
4. Malu Bertanya Sesat di Jalan
Dulu orang bilang: "Malu bertanya sesat di jalan." Tapi zaman sekarang? "Maaf Kak, aku mending tanya Google Maps saja deh. Soalnya kalau tanya Mbah Google ngga dikepoin. Kalau sama manusia sekarang, suka usil keponya sampai ke akar-akar. Mwehehehe..." Google Maps ngga bakal tanya "kapan nikah" atau "kerja di mana" saat aku cuma mau tanya jalan ke supermarket. Teknologi emang sahabat terbaik buat kaum yang malas diinterogasi tiap kali nanya alamat.
5. Gajah di Pelupuk Mata
"Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan tampak." Logikaku berkata: "Kak, mundur sedikit. Gajahnya kedekatan itu mungkin, makanya ngga kelihatan. Rada jauh sedikit biar pandangannya lebih luas dan lega ya, Kak." Jarak adalah kunci buat melihat masalah besar dengan lebih jernih. Kalau gajahnya nempel di mata, ya jelas cuma kelihatan gelap doang. Mundur dikit, biar objeknya kelihatan utuh, baru deh kita sadar apa yang salah.
6. Berat Sama Dipikul
"Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing." Solusi modernku: "Kak, kita paketin saja semuanya yuk! Biar Pak Pos atau kurir yang kirim. Kita jalan santai saja biar enteng, hehe." Kenapa harus membebani punggung kalau ada layanan ekspedisi? Kita bisa berbagi beban dengan cara bayar ongkir. Biarlah abang kurir yang bawa bebannya karena itu profesinya, kita fokus jaga mood aja biar ngga makin stres sama beban hidup yang aslinya emang udah berat.
7. Lempar Batu Sembunyi Tangan
Peribahasa terakhir adalah "Lempar batu sembunyi tangan." Jawabanku: "Bisa diganti lempar duit saja ngga, Kak? Kalau lempar duit, aku janji tanganku ngga bakal sembunyi, malah bakal aku rentangkan lebar-lebar buat menangkapnya." Zaman sekarang lempar batu itu kuno dan bikin benjol. Kalau mau bikin kejutan diam-diam, mending lempar bantuan atau lempar rezeki. Itu jauh lebih keren dan bikin senyum merekah, persis kayak senyum yang udah kuhafal di luar kepala itu.
Merayakan Ke-absurd-an Hidup
Hidup ini sudah cukup serius, Bestie. Mwehehe. Kadang kita butuh sedikit ke-absurd-an buat bisa bertahan di tengah tekanan pekerjaan, drama pertemanan, atau sekadar kemacetan jalanan. Menanggapi peribahasa dengan cara yang beda itu cara kita menjaga kesehatan mental agar ngga terlalu cepat stres.
Segalanya punya sisi puitisnya masing-masing, bahkan dalam sebuah celetukan tentang "kacang atom". Jadi, kalau besok otak kalian mulai terasa aneh dan ingin mengeluarkan jawaban-jawaban di luar nalar, biarin aja. Nikmati momen itu. Karena siapa tahu, dari jawaban absurd itu, kalian bisa nemuin perspektif baru yang lebih ceria.
Terima kasih sudah mau membaca celotehan panjang ini. Jangan lupa makan ya, meskipun nafsu makan kalian lagi sedikit kurang karena mikirin nasib susu sebelanga tadi. Salam buat diri kalian yang unik dan berharga!
Lots of Love,
Resa—
.png)


.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
0 Komentar