Sering merasa nggak produktif karena nggak menghasilkan cuan? Yuk, ngobrol santai tentang definisi produktif dan pahala yang menanti kita.

 


Bestie, pernah nggak sih kalian merasa lelah gara-gara standar dunia yang makin ke sini makin aneh? "Wah, dia produktif banget, sehari omzetnya puluhan juta!" atau "Gila, dia beneran produktif, baru umur segini sudah punya mobil, rumah, dan tiap bulan bisa jalan-jalan ke luar negeri."

Seolah-olah, kalau kita belum punya angka fantastis di rekening atau belum punya aset segunung, kita ini dianggap "nggak produktif". Padahal, apa iya definisi produktif sesempit itu? Apa iya kalau kita melakukan sesuatu tapi nggak menghasilkan uang, kita bisa langsung dicap sebagai orang yang malas-malasan atau nggak guna?


Mari kita bongkar pelan-pelan ya.

Secara bahasa, produktif itu berasal dari kata produce yang artinya menghasilkan. Dalam kamus pun, produktif diartikan sebagai sesuatu yang bersifat menghasilkan atau mendatangkan hasil. Tapi masalahnya, banyak dari kita sudah terjebak dalam jebakan hustle culture yang menganggap "hasil" itu cuma soal cuan, materi, dan pengakuan publik.

Padahal, kalau kita belajar dari kacamata Islam, makna produktif itu jauh lebih luas dan mulia. Islam nggak pernah membatasi produktivitas cuma pada lembaran uang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

"Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka." (HR. Muslim no. 2674).

Nah, coba renungkan. Kalau seseorang menulis satu artikel saja yang isinya menuntun orang ke kebaikan, dan artikel itu dibaca ribuan orang lalu mereka mengamalkannya, bukankah itu produktivitas tingkat tinggi?

Meskipun penulisnya nggak mendapat satu rupiah pun, dia sedang menabung pahala yang terus mengalir. Inilah yang disebut ilmu yang bermanfaat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ 

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih." (HR. Muslim no. 1631). 


Bayangin kalau kita berpatokan pada "cuan adalah segalanya".

Berarti, ibu rumah tangga yang dari pagi sampai malam mengurus anak dan suami, memastikan rumah tenang dan anak-anak tumbuh dengan karakter baik, itu dianggap nggak produktif? Padahal, dia sedang mencetak generasi masa depan. Dia sedang membangun peradaban di rumahnya sendiri. Atau para relawan yang ikhlas pergi ke pelosok desa untuk mengajar anak-anak yang putus sekolah, tanpa mengharapkan bayaran, apakah mereka nggak produktif? Tentu saja sangat produktif. Mereka menghasilkan dampak, bukan sekadar angka.

Ustaz Nuzul Dzikri pernah mengingatkan bahwa puncak dari produktivitas seorang mukmin adalah gimana waktu yang kita miliki di dunia ini bisa menjadi bekal terbaik saat menghadap Allah nanti. Bukan seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, tapi seberapa banyak kebermanfaatan yang kita tebar.

Sama halnya dengan nasihat Ustaz Raehanul Bahraen, dia sering menekankan pentingnya meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Kalau kita produktif hanya untuk dipuji manusia atau biar terlihat sibuk, maka lelah kita hanya akan jadi lelah yang sia-sia di mata Allah.


Lalu, apa salah kalau kita menghasilkan uang? Ya tentu saja nggak salah!

Islam itu agama yang sangat menghargai ikhtiar. Mencari nafkah itu ibadah, selama caranya halal. Ustaz Khalid Basalamah dan Ustaz Firanda Andirja pun selalu mendorong kita untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berkontribusi.

Yang jadi masalah bukan uangnya, tapi kalau kita memposisikan "cuan" sebagai satu-satunya tolok ukur nilai seseorang. Itu yang bahaya, karena bisa bikin kita jadi gampang merendahkan orang lain atau malah stres sendiri karena merasa gagal padahal kita sedang melakukan hal besar yang nggak terlihat oleh mata dunia.

Misalnya saja, ada dua orang penulis. Si A menulis lima artikel sehari untuk mengejar traffic dan klien. Itu pilihannya, itu targetnya, dan itu sah-sah saja. Tapi, si B mungkin cuma menulis satu artikel dalam sehari dengan bahasan yang sangat dalam dan tulus, dengan tujuan agar pembacanya mendapatkan hidayah.

Apakah si B "nggak produktif" karena dia nggak punya engagement setinggi si A? Tentu nggak. Mereka punya jalur yang berbeda.

Skala produktif setiap orang itu unik, Bestie. Kepuasan mereka juga beda. Ada yang puas kalau rekeningnya bertambah, ada yang puas kalau dia bisa berbagi ilmu meski harus berkorban waktu dan tenaga. Jadi, tolong, mulai sekarang berhenti melabeli orang lain "nggak produktif" cuma karena kegiatan mereka nggak menghasilkan uang atau nggak viral di media sosial.

Kalau kamu saat ini sedang sibuk melakukan hal-hal baik yang nggak menghasilkan uang, jangan buru-buru minder. Kamu tetap produktif. Kamu sedang berinvestasi di "tempat" yang hasilnya akan kamu tuai di akhirat nanti.

Ingat, produktif itu bukan cuma soal output materi. Produktif itu tentang seberapa besar kebermanfaatan yang bisa kita berikan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Jangan sampai kita terjebak dalam perlombaan dunia yang ujung-ujungnya bikin kita lupa kalau kita punya tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar digit di buku tabungan.

Jadi, besok-besok kalau ada yang tanya, "Kamu lagi produktif ngga?", jawab saja dengan percaya diri: "Ya. Aku sedang melakukan sesuatu yang menurutku bermanfaat bagi diriku dan orang lain, dan aku mengharapkan pahala jariyah dari situ."

Biarkan tujuan dan alasan sibukmu itu jadi urusanmu dengan Allah. Yang penting, jangan sampai kesibukanmu di dunia justru menjauhkanmu dari tujuan utamamu, yaitu beribadah dan menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Semangat terus menebar kebaikan ya, Bestie! Dunia mungkin punya standarnya sendiri, tapi kita punya standar yang lebih mulia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Lots of Love,


Resa—

Posting Komentar

0 Komentar