Hai, aku tahu akhir-akhir ini suara di kepalamu semakin berisik, bukan? Ada dengung konstan yang tidak pernah benar-benar hening, sebuah obsesi yang terus mendesakmu untuk mencentang satu demi satu daftar tugas yang tak kunjung habis. Seolah-olah setiap menit yang tidak kamu gunakan untuk "menghasilkan sesuatu" adalah sebuah kerugian besar, sebuah dosa yang akan menghambat masa depanmu.
Kamu terus berlari, napasmu memburu, mengejar target demi target sampai kamu lupa bertanya pada dirimu sendiri, "Apa aku masih baik-baik saja?"
Sebagai otak yang selama ini menjadi pusat komando, yang terus berputar memproses ribuan pikiran dan kecemasanmu, hari ini izinkan aku bicara. Bukan untuk menghakimimu. Bukan juga untuk memarahimu. Aku hanya ingin kamu mendengarkan kami, suara-suara kecil yang selama ini kamu bungkam demi ambisi.
Kepada Yth. Pemilik Tubuh,
Dengan hormat,
Setelah bertahun-tahun dipaksa bekerja tanpa mengenal batas, tidak pernah benar-benar menikmati hak cuti, sering diminta mengabaikan rasa lapar, menahan kantuk dengan kafein, menganggap lelah sebagai kelemahan, dan menjadikan sakit sebagai sesuatu yang harus dilawan dengan paksa...
Maka hari ini kami, seluruh bagian tubuhmu, dengan berat hati mempertimbangkan untuk mengajukan surat pengunduran diri.
Terima kasih.
Salam hangat, Tubuhmu.
Bagaimana rasanya membaca surat itu? Apakah dadamu terasa sedikit sesak? Apakah ada bulir air mata yang tiba-tiba mendesak di pelupuk matamu? Atau justru kamu merasa sedang dituduh? Kalau iya, tenang. Kami tidak sedang menyalahkanmu. Kami hanya ingin didengar sebelum semuanya terlambat.
Selama ini, aku melihatmu duduk berjam-jam di depan layar yang memancarkan cahaya biru. Aku melihat bagaimana kamu memaksaku tetap berpikir jernih ketika neuron-neuronku sudah menjerit minta istirahat. Aku melihat jemarimu terus mengetik dengan kaku saat matamu sudah perih dan hampir tidak sanggup lagi terbuka.
Kamu selalu berkata, "Sebentar lagi," atau "Tanggung," atau "Selesaikan dulu sedikit lagi."
Lucunya, "sebentar lagi" itu sering kali berubah menjadi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Tahukah kamu? Saat kamu mengira sedang membangun masa depan, kami, di sini, diam-diam sedang berdarah-darah berusaha bertahan agar hari ini saja bisa dilewati.
Lambungmu sudah berkali-kali mencoba mengingatkanmu dengan perih yang menusuk. Bukan karena ia membencimu, ia hanya ingin berkata, "Hei, aku lapar, beri aku bahan bakar yang layak." Tapi kamu justru mencekoki kami dengan kopi yang terlalu pahit dan jam makan yang berantakan.
Otot-ototmu mulai mengencang, menahan beban stres yang kamu pikul sendiri. Punggungmu terasa pegal, seolah menopang beban seluruh dunia. Kepalamu sering berdenyut, mengirim sinyal bahaya yang kamu abaikan dengan pil pereda nyeri.
Itu bukan tanda kami lemah. Itu adalah bahasa paling jujur yang kami miliki agar kamu mau berhenti sejenak. Sayangnya, kamu lebih sering memilih untuk membungkam kami daripada memahami kami.
Kami tidak pernah marah ketika kamu ingin bermimpi besar. Kami justru bangga. Kami ingin melihatmu bersinar. Kami hanya sedih ketika, demi mengejar mimpi itu, kamu perlahan membuang kami. Padahal, kami adalah satu-satunya kendaraan yang setia membawamu menuju semua impian itu.
Kalau kendaraan ini rusak parah di tengah jalan, bagaimana kamu akan melanjutkan perjalananmu?
Beberapa hari yang lalu, akhirnya kami menyerah. Kami mengirimkan demam. Kami membuat langkahmu melambat, memaksamu terbaring di tempat tidur yang dingin. Bukan karena kami ingin menghukummu, kami hanya sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membuatmu berhenti. Kami takut jika tidak dengan cara ini, kamu akan terus berlari sampai akhirnya roboh tanpa sempat bangkit lagi.
Maaf, jika akhirnya kami harus berbicara melalui rasa sakit yang nyata.
Kamu pernah berkata, "Sakit itu cuma karena sugesti. Kalau berpikir sehat, ya sehat."
Andai kamu tahu, sakit bukan selalu tentang sugesti. Kadang sakit adalah surat penolakan terakhir yang kami kirimkan karena semua cara yang lebih halus sudah terlalu lama kamu abaikan.
Lihatlah sekelilingmu. Berapa banyak orang hebat yang bekerja tanpa henti? Berapa banyak yang disebut paling produktif, paling tangguh, dan paling gila kerja?
Lalu suatu hari, mereka tumbang. Kursi kosong mereka segera terisi oleh orang lain. Pekerjaan mereka dilanjutkan oleh tangan yang baru. Dunia tetap berputar, seolah tidak pernah ada yang hilang. Namun, tubuh mereka? Tidak semua mendapatkan kesempatan kedua untuk pulih.
Kami tidak ingin resign. Sungguh.
Kami masih ingin menemanimu melihat matahari terbit dari balik jendela. Masih ingin berjalan santai di bawah pohon rindang bersamamu. Masih ingin menikmati secangkir kopi favoritmu saat kamu sedang tenang, bukan saat kamu sedang dikejar deadline. Masih ingin melihatmu tertawa lepas bersama orang-orang yang kamu cintai. Masih ingin menemanimu menua, sampai rambut kita memutih bersama.
Tapi kami tidak bisa melakukannya sendirian. Kami membutuhkan kerja sama darimu.
Mulai hari ini, berhentilah merasa bersalah saat beristirahat. Berhentilah mengukur harga dirimu dari seberapa sibuk hidupmu. Kamu tidak menjadi manusia yang lebih berharga hanya karena tidur lebih sedikit atau bekerja lebih keras daripada orang lain. Kamu sudah berharga, bahkan sebelum kamu mencentang satu pun daftar tugasmu hari ini.
Saat kami berkata lapar, tolong dengarkan. Saat kami berkata lelah, tolong percaya. Jangan tunggu sampai kami harus berteriak melalui penyakit agar kamu akhirnya mau berhenti.
Kami tidak meminta rumah mewah, tidak meminta makanan mahal, tidak meminta hidup yang selalu mudah. Kami hanya meminta satu hal: jadikan kami rumah yang nyaman untuk kamu tinggali. Rumah yang boleh lelah, rumah yang boleh beristirahat, dan rumah yang tidak selalu dipaksa menjadi sempurna.
Karena pada akhirnya, semua yang kamu kejar bisa saja berganti. Pekerjaan bisa berganti, jabatan bisa berganti, uang bisa datang dan pergi. Tetapi tubuh ini adalah satu-satunya rumah yang akan terus membawamu pulang sampai akhir napasmu.
Jangan tunggu sampai rumah itu runtuh karena terlalu lama kamu abaikan. Kami tidak ingin benar-benar pergi. Kami hanya ingin kamu mulai menyayangi kami. Karena sesungguhnya, kami masih sangat, sangat ingin menua bersamamu.
Tolong, dengarkan kami ya? Kita masih punya banyak bab indah untuk ditulis, tapi itu hanya akan mungkin jika kamu mau berhenti sejenak sekarang.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar