Pernah nggak sih, lagi di titik paling capek, terus tiba-tiba muncul pertanyaan itu di kepala? "Ini kenapa harus aku?" atau "Aku salah apa sampai dikasih ujian seberat ini?"
Aku pernah. Bahkan, mungkin masih sering banget ngerasain itu.
Tapi belakangan ini, aku belajar satu hal. Dari satu ayat yang sebenarnya sudah lama aku baca, tapi baru "kena" banget di hati belakangan ini.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)
Ayat ini ngomongin soal musibah, tapi bukan dengan nada menghakimi. Justru sebaliknya, ayat ini kayak lagi meluk kita pelan-pelan. Dia bilang, nggak ada satu musibah pun yang terjadi tanpa izin Allah. Bukan kebetulan, bukan juga sekadar hukuman.
Terus perhatiin lanjutannya, siapa yang beriman, hatinya akan dituntun. Bukan berarti langsung tenang seketika, ya. Tapi dituntun. Ada prosesnya. Ada fase marah, sedih, nolak kenyataan, sampai akhirnya pelan-pelan bisa nerima. Ternyata, semua fase itu wajar. Itu bagian dari cara Allah menuntun hati kita.
Aku pribadi lagi ada di fase belajar nerima diagnosis yang berubah-ubah. Awalnya satu label, terus bergeser ke label lain yang terasa lebih berat. Rasanya kayak harus kenalan ulang sama diri sendiri dari nol. Tapi anehnya, di tengah proses itu, aku malah ngerasa lega. Bukan karena senang sakit, tapi karena akhirnya ada penjelasan. Ada "nama" buat apa yang aku rasain selama ini.
Di situ aku sadar, mungkin ini bukan cara Allah menjatuhkan aku. Aku memilih husnuzan bahwa di balik ujian ini ada kebaikan yang sedang Allah siapkan.
Allah juga berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Ada satu hal lagi yang bikin aku makin tenang. Ada sebuah hadits yang indah banget tentang kedudukan kita di mata Allah:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ، أَوْ فِي مَالِهِ، أَوْ فِي وَلَدِهِ، ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ
"Sesungguhnya seorang hamba, apabila telah ditetapkan baginya suatu kedudukan di sisi Allah yang belum bisa ia capai dengan amalnya, maka Allah akan mengujinya pada tubuhnya, hartanya, atau anaknya. Kemudian Allah memberinya kesabaran atas ujian itu, hingga ia sampai pada kedudukan yang telah ditetapkan baginya di sisi Allah." (HR. Ahmad no. 22338, Abu Dawud no. 3090)
Sederhananya, mungkin ada kedudukan tinggi di sisi Allah yang nggak bisa kita capai cuma lewat amal ibadah biasa. Maka Allah kasih ujian—seperti sakit atau musibah—supaya lewat kesabaran kita menghadapinya, kita bisa sampai ke derajat yang udah ditetapkan itu. (Hadits ini sering dipakai karena maknanya sejalan banget dengan keutamaan sabar dalam Al-Qur'an).
Karena beneran deh, sabar dalam sakit itu bukan cuma soal bertahan. Ada janji besar di baliknya. Derajat yang diangkat, dosa yang digugurkan, dan pahala yang nggak putus. Rasanya kayak Allah lagi bisikin ke hati, "Capekmu nggak sia-sia."
Yang bikin aku makin tenang, di ujung ayat At-Taghabun tadi disebutkan kalau Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ini penting banget buat kita yang sakitnya mungkin nggak kelihatan. Buat yang capeknya nggak dipercaya orang lain. Yang harus sering dengar, "Ah, kamu kan kelihatan baik-baik aja," padahal di dalam lagi berantakan banget.
Allah tahu. Allah lihat. Bahkan rasa sakit yang paling tersembunyi sekalipun, Allah Maha Tahu.
Jadi, kalau sekarang kamu lagi di fase yang berat—entah itu sakit, atau ujian bentuk lain—coba pelan-pelan ganti pertanyaannya. Bukan lagi "kenapa harus aku", tapi "apa yang mau Allah ajarin ke aku lewat ini?"
Karena semua yang udah dituliskan buat kita, itu yang paling baik. Walau prosesnya nggak selalu enak, walau kadang kita harus jatuh dulu buat ngerti maknanya.
Ikhlas itu bukan berarti nggak boleh sedih. Ikhlas itu artinya, di tengah sedihnya, kita tetap percaya ada yang lebih tahu dari kita soal apa yang kita butuh. Sabar itu bukan berarti diam saja. Kita tetap ikhtiar, tetap berusaha, tapi di tengah ikhtiar, kita bertawakal sepenuhnya pada Allah.
Mungkin musibah memang tidak pernah terasa indah saat dijalani. Tetapi siapa tahu, justru di sanalah Allah sedang menyiapkan hadiah terbesar yang tidak pernah kita bayangkan. Hari ini, aku sedang belajar memandang ujian ini sebagai hadiah dari Allah. Mungkin belum semua orang bisa merasakannya seperti itu, tapi untukku, cara pandang ini membuat hatiku jauh lebih tenang.
Alhamdulillahi 'ala kulli hal.
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar