Menguatkan Iman dengan Akal: Kenapa Al-Qur'an Berkali-kali Mengajak Kita Berpikir?

 


Pernah nggak sih, pas baca Al-Qur'an, nemu ayat yang di ujungnya ada semacam "sentilan" gitu? Afala ta'qilun, afala tatafakkarun, afala yatadabbarun. Kalau diterjemahin bebas, kira-kira artinya: "Lah, kok kamu nggak mikir sih?", "Masa nggak direnungin?", "Ini kok nggak dipikir baik-baik?"

Ternyata kita sering banget disuruh Ta’qilun (menggunakan akal), Tafakkur (merenungkan ciptaan Allah dan mengambil pelajaran), Tadabbur (menghayati dan menyelami makna Al-Qur'an)


Allah sering sekali menegur kita lewat ayat-ayat ini:

1. Afala ta'qilun (Apakah kalian tidak menggunakan akal?) 

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ 

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?" (QS. Al-Baqarah: 44)

2. Afala tatafakkarun (Apakah kalian tidak memikirkan/mengambil pelajaran?) 

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ 

"...Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (QS. Al-Hasyr: 21)

3. Afala yatadabbarun (Apakah mereka tidak menghayati/mentadaburi?) 

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا 

"Maka apakah mereka tidak menghayati (mentadaburi) Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisa: 82)

Awalnya aku pikir itu cuma gaya bahasa doang. Tapi makin ke sini, aku sadar, ini pola yang sengaja diulang-ulang di banyak surat dan konteks. Al-Qur'an emang nggak mau kita jadi hamba yang cuma manggut-manggut doang.


Iman yang Kokoh, Bukan Sekadar Percaya

Kalau Allah mau, gampang aja kan bikin manusia percaya tanpa perlu mikir? Tinggal kasih perintah, selesai. Tapi kenyataannya, Al-Qur'an malah terus-terusan "menantang" akal kita. Nunjukin langit, nyuruh kita perhatiin. Nunjukin pergantian siang-malam, nyuruh kita renungin.

Karena kalau iman itu cuma dibangun dari "pokoknya percaya", itu rapuh banget. Sekali ada yang goyang dikit, bisa langsung runtuh. Tapi kalau iman itu dibangun dari proses mikir panjang, dari ngerenungin, dan nyari tahu sendiri, iman itu bakal jauh lebih kokoh. Kita bukan cuma percaya, tapi kita mengerti kenapa kita percaya.

Sebagaimana Allah berfirman: 


كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ 

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Sad: 29)


Misalnya saja, ada orang yang nanya, kenapa sih kamu capek-capek solat? Nah, karena kita adalah hamba yang berpikir maka jawaban kita jadi berbeda. Allah sendiri sudah menjelaskan tujuan penciptaan manusia:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jadi, kita salat bukan sekadar karena disuruh orang tua atau karena semua orang melakukannya. Kita salat karena kita tahu untuk apa Allah menciptakan kita. Ketika alasannya dipahami, ibadah pun terasa lebih bermakna.


Beragama Tanpa Harus Mematikan Akal

Menariknya, Al-Qur'an berulang kali menegur orang-orang yang cuma ngikutin kebiasaan nenek moyang tanpa mikir. Yang penting katanya "dari dulu emang begini", jadi ya sudah ikutin aja. Al-Qur'an nggak suka pola pikir kayak gitu.


وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ 

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah', mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170) 


Al-Qur'an dorong kita buat berpikir kritis, bertanya, dan mencari tahu. Wahyu dan akal itu nggak pernah dianggap bertentangan. Kalau ada yang kelihatan nggak masuk akal, itu karena keterbatasan pemahaman kita, bukan karena ada yang salah dari wahyunya.


Keseimbangan Rasa dan Logika

Jadi lain kali baca Al-Qur'an dan nemu kalimat afala ta'qilun lagi, mungkin itu bukan sekadar teguran. Itu ajakan halus: "Ayo, dipikir. Aku kasih kamu akal, bukan untuk didiamkan saja."

Dulu aku membaca Al-Qur'an hanya untuk ngejar target khatam. Sekarang aku mulai belajar berhenti di satu ayat yang bikin aku mikir. "Apa ya yang Allah ingin sampaikan lewat ayat ini?"

Bukankah Al-Qur'an adalah petunjuk? Bukankah Allah juga menyebutnya sebagai penawar bagi apa yang ada di dalam dada?

Karena itu, saat hati terasa sesak oleh urusan dunia, saat aku ngerasa kehilangan arah, aku belajar kembali membuka Al-Qur'an. Bukan karena berharap setiap masalah langsung selesai seketika, tetapi karena aku yakin Allah akan ngebimbing hati ini melalui petunjuk-Nya. Kadang yang berubah bukan masalahnya, tapi cara kita memandangnya.

Sebagai orang yang suka nulis dua sisi—fiksi yang penuh imajinasi dan artikel yang penuh logika—aku sadar kalau Al-Qur'an sebenarnya juga nggak mau kita cuma pakai satu sisi doang. Nggak cuma "merasa" dalam beragama, tapi juga "berpikir". Dua-duanya harus jalan bareng.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

0 Komentar