"Umma, kami pulang!"
Teriakan itu pecah tepat di depan pintu rumah Sabtu, semalam. Rasanya baru kemarin aku melambaikan tangan melepas mereka pergi, tapi ternyata tiga minggu sudah berlalu. Liburan mereka di Malang dan Rembang usai sudah.
Sementara aku? Aku baru saja menuntaskan masa "cuti jadi ibu" paling damai sepanjang tahun ini.
Rumah Sunyi, Surga Dunia
Jujur ya, selama tiga minggu terakhir, rumah benar-benar terasa seperti zona tenang yang magical. Nggak ada drama rebutan remote TV antara Kakak dan Adik. Nggak ada suara barang jatuh yang bikin jantung mau copot, nggak ada mainan yang berserakan membentuk jalur labirin di ruang tamu.
Dan yang paling bikin sujud syukur: nggak ada remahan pastry atau sisa biskuit "berhantu" di lantai. Pokoknya rumah rapi, bersih, dan sunyi. Apakah aku egois karena merasa senang dengan kesunyian ini? Ah, please... Sebagai ibu dari dua anak yang jaraknya sedekat nadi, aku butuh banget recharge. Setelah enam bulan bertarung melawan tingkah ajaib mereka, aku butuh waktu untuk ingat rasanya jadi manusia biasa tanpa harus jadi "Umma" yang serba bisa 24/7.
Liburan yang (Memang) Dinanti
Saat rapor kenaikan kelas dibagikan, itu adalah momen paling sakral buatku. Yap, waktunya mereka liburan ke rumah Kakek dan Nenek! Mungkin terdengar klise seperti judul karangan anak SD zaman dulu, tapi itulah realitanya.
Aku dan suami mengantar mereka ke desa, tempat di mana suara sapi jauh lebih hits daripada suara klakson motor. Mereka pun lanjut ke Malang untuk bikin rusuh di rumah sepupu-sepupu. Jadi, ini benar-benar long vacation yang menyenangkan buat mereka, dan tentu saja, menjadi liburan yang "menyelamatkan" kewarasanku.
Me-Time Hakiki: Kopi Tanpa Drama
Selama tiga minggu itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Aku bisa menyesap kopi pagi dengan tenang tanpa harus melirik jam buat jemput sekolah. Aku bisa slow walking lepas Subuh tanpa harus dikejar rasa panik menyiapkan sarapan atau mencari seragam yang terselip.
Waktu itu terasa melambat, dan aku menggunakannya untuk berdamai dengan diriku sendiri. Aaah, benar-benar me-time yang sangat memuaskan. Alhamdulillahi binikmatihi tatimmush shalihat.
Huru-hara Itu Kembali!
Malam itu, kesunyian yang indah pun resmi berakhir. Teriakan itu kembali menggema!
Baru saja mereka menginjakkan kaki di rumah, tubuhku langsung diserbu pelukan hangat (dan berat). Tapi, baru tiga puluh menit pintu dibuka, rumah yang tadinya aesthetic layaknya katalog furnitur, seketika berubah jadi kapal pecah. Mode "Umma" otomatis aktif kembali:
"Mas, tas jangan ditaruh sembarangan, bisa bikin kaki kesandung!"
"Kakak, handuk basahnya jangan di kasur!"
"Pintu kamarnya ditutup, jangan sampai nyamuk masuk!"
"Cuci tangan yang bersih, jangan cuma asal kena air!"
"Sikat gigi dulu sebelum bobok, wudhu juga!"
"Mas, sudah salat belum? Jangan nunggu diingetin terus!"
Hahaha, ya, rumahku kembali ramai. Dan entah kenapa, kali ini aku menyukainya.
Kenapa Aku Bisa Sesenang Ini Diributin Lagi?
Mungkin banyak yang bertanya, kenapa aku bisa seantusias ini diributin lagi? Jawabannya sederhana: tangki bahagiaku sudah terisi penuh selama mereka pergi. Aku sudah membuang semua racun lelah dan rasa kesal. Allah memberikan timing yang sangat pas. Anak-anak seru-seruan, aku dapat jeda, dan suami tetap bekerja dengan tenang.
Ternyata, liburan ini bukan cuma soal "menitipkan" anak-anak. Ini soal pengingat bahwa istirahat itu bukan hal yang harus disesali. Justru karena aku diberi waktu untuk reset, sekarang aku bisa melihat kekacauan rumah ini bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebahagiaan yang sempat kurindukan.
Kalau saja aku memaksakan diri untuk terus produktif tanpa jeda, mungkin sekarang aku sudah keburu burnout duluan sebelum sempat memeluk mereka.
Bersiap Menghadapi Senin yang Chaos
Sekarang, aku menarik napas dalam-dalam. Mari bersiap menghadapi hari Senin yang sudah menanti dengan segala chaos-nya. Sudah siap? Yeah, I’m ready to embrace the madness!
Karena pada akhirnya, menjadi ibu yang sabar itu tidak datang dari memaksa diri untuk kuat tanpa henti. Kesabaran itu datang dari memberikan diri sendiri waktu untuk "ngopi santai" dan mengisi ulang energi, agar nanti kita bisa berbagi kasih sayang lagi dengan para "T-Rex kecil" kesayangan kita.
Welcome back, my little chaos. Umma sudah siap lagi (tapi jangan lupa beresin mainannya, ya!).
Lots of Love,
Resa—
.png)
14 Komentar
Bacanya bikin hati ikut hangat sekaligus haru. Rasanya memang nggak ada yang lebih membahagiakan selain menyambut orang tersayang kembali ke rumah dengan selamat. Aku jadi teringat momen menunggu keluarga pulang dari perjalanan jauh, rasanya campur aduk antara deg-degan dan bahagia. Semoga Umma selalu diberi kesehatan dan keberkahan setelah perjalanan ibadahnya
BalasHapusaamiin. semoga stok sabar dan soft spokennya bertahan ya heheh
BalasHapusSemangat umma!hehe
BalasHapusibu adalah rumah untuk anak-anak, jadi kalau butuh me time unk charge energy gpp ya um ^^.
es aemricano dobel syoooddd kaaaak
Hapusaku udah kebayang sih bagaimana hebohnya rumah dengan anak2 kecil karena keponakan aku juga gitu. Persis banget, kayak rebutan nonton, makanan berserakan, mainan berserakan, ada aja barang yg rusak. Yang paling puncaknya saat mereka berantem, saling pukul dan tendang. Aduh, sebagai yang sekali-kali nginap di rumah mereka aja aku stres, gimana dengan orang tua yang 24jam dengan mereka..
BalasHapuslelaaaaaaahhhh sangaaaddd
HapusSambil baca sambil membayangkan kerowihan rumah dipagi hari bila sekolah sudah masuk. Tapi aku lebih salfok sama penulisnya...tetap produktig ngeblog walau tiap pagi pemandangam chaos wkwk
BalasHapuswakakkaka! itu trik biar tetep waras kaaak
HapusBagi saya pekerjaan seorang ibu tidaklah mudah, mereka harus membagi waktu untuk dirinya dan keluarga. Meskipun saya belum menjadi seorang ibu, saya punya pandangan bahwa me time tetap dibutuhkan seorang perempuan, terutama bagi seorang ibu. Minimal untuk sedikit melepas lelah, menangkan diri dan setidaknya ini dapat mengurangi stres.
BalasHapusAlhamdulillah...tiga minggu istirahat snagat bermakna ya mbak...bisa kembali menymbut anak² dengan penuh cinta dan kewarasan yang sudah kembali 100%.
BalasHapusPas banget yaa liburan itu timingnya bebenah jiwa raga...alhamdulillah....dulu juga saya begitu...skrg anak² udah besar..
Kalau aku malah kebalikannya, mbak. Karena bekerja kan jadi minggu terakhir liburan aku ambil cuti buat membersamai anak-anak. Dan ya asli puyeng hahaha teriak-teriak melulu tiap hari
BalasHapusbaca tulisan ini rasanya ikut lega sekaligus haru. Memang benar ya, kepulangan dari Tanah Suci bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi juga membawa pulang begitu banyak pelajaran yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya paling suka bagian yang menggambarkan suasana penyambutan, karena terasa hangat dan membuat pembaca seperti ikut hadir di momen itu. Semoga Umma selalu diberikan kesehatan, istiqamah menjaga kemabruran, dan semoga cerita ini juga menjadi pengingat bagi kita yang belum berkesempatan berangkat agar terus memantaskan diri.
BalasHapusyaaa begitulah menjadi ibu ya mba, ada hari-hari dimana overwhelmed dan pengen "kabur" apalagi ngadepin ujian anak, rasanya dar-der-dor. emang bener sih, minimal 1-3 hari lah kita cuti peran ya, wkwkwk. untungnya mba masih bisa ya, kalau saya paling me-time seharian aja dirumah ibu (saya yang keluar rumah, hahaha)
BalasHapusSenangnyaa..
BalasHapusMemang menjadi Ibu itu perlu ada "masanya" istirahat sebentar.. kalau ketempelan teruuss.. memang jadi drain our energy banget yaah..
Dan ritmenya justru kebalikannya, ka..
Soalnya anak-anak pada pesantren, jadi pas liburan, aku justru excited menanti kebersamaan dengan anak-anak di rumah dan ngajakin mereka aktif ke aktivitas emaknya selama mereka ga ada. Ikut mamak ke kajian, belanja, dll.
Judulnya memang "Ribet yang dirindukan" yaah..