Sebuah Memoar: Menjelang Tiga Tahun Perjalanan Pulang Menjemput Ridha-Nya



Nggak terasa ya, ternyata sudah tahun ketiga aku meninggalkan pekerjaanku. Ya, memutuskan untuk jobless di usia yang tak lagi muda beneran nggak pernah terbayang sebelumnya. Padahal waktu itu posisiku lagi di comfort zone, karier lumayan, gaji aman, tapi tiba-tiba... DUAR! Allah kasih surprise yang bikin hidupku kayak naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Hahahaha! Asli, kalau diingat-ingat lagi, rasanya antara mau nangis tapi juga pengen ketawa saking ajaibnya jalan hidup ini.

 

Dulu, aku nggak tahu kalau ternyata kerjaanku ini nggak diridhai Allah. Bukan cuma nggak diridhai, ternyata aku selama ini secara nggak sadar lagi nantangin Allah dan Nabi Muhammad buat perang. Ya Allah, nekat nggak sih? Beneran di luar batas banget kalau aku masih tetep ngeyel setelah tahu kenyataannya.


"Aku lebih pilih jadi 'pengangguran' di mata manusia, daripada jadi 'buronan' di mata allah."

 

AL-BAQARAH 275-279

Apa yang bikin aku gemetar dan ketakutan setengah mati adalah saat aku mulai mendalami ayat-ayat tentang riba. Yang paling pertama nampar aku itu Al-Baqarah ayat 275-279. Ayat ini beneran nampar aku brutal banget, kerasa sampe ke ginjal dan pankreas! Bayangin aja, di sana disebutkan kalau orang yang makan riba itu bangkitnya kayak orang gila yang kemasukan setan. Terus puncaknya di ayat 278-279, Allah bilang kalau kita nggak berhenti dari riba, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya.

 

Gila nggak tuh? Siapa aku berani-beraninya nantangin Sang Pencipta semesta buat perang? Habis baca itu, aku nggak berhenti nangis. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih suka nggak kuat kalau baca atau dengar ayat ini. Rasa bersalahnya itu nyata banget.

 

ALI IMRAN 130, AN-NISA 161, AR-RUM 39

Selain itu, ada juga Ali Imran ayat 130 yang melarang kita makan riba secara berlipat ganda. Ini juga bikin merinding. Ternyata, urusan riba ini bukan main-main. Di Al-Qur'an sendiri ada sekitar 7 ayat yang membahas soal ini secara bertahap, dan semuanya makin lama makin tegas.

 

Selain Al-Baqarah dan Ali Imran yang tadi aku sebutin, ada juga An-Nisa ayat 161 yang nyebutin soal hukuman pedih bagi mereka yang ambil riba padahal sudah dilarang. Terus ada Ar-Rum ayat 39 yang jelasin kalau riba itu nggak bakal nambah keberkahan di sisi Allah, beda banget sama zakat. Belum lagi hadits-hadits Nabi yang bilang kalau riba itu dosanya ada 73 pintu, dan yang paling ringan aja dosanya sama kayak menzinahi ibu kandung sendiri. Naudzubillahi min dhalik.

 

Semua ayat dan pengingat itu bikin aku gemetar dan ketakutan tak karuan. Tidur nggak nyenyak, makan nggak enak. Rasanya kayak ada beban berat banget di pundak. Akhirnya, dengan bismillah, aku memutuskan untuk berhenti total dari pekerjaanku yang dulu. Aku pilih "pengangguran" di mata manusia daripada jadi "buronan" di mata Allah.

Tiga tahun ini bukan masa yang mudah. Awalnya jujur, berat banget. Dari yang biasanya punya penghasilan tetap, jadi harus belajar percaya sepenuhnya sama konsep rezeki dari langit. Tapi di sinilah keajaibannya. Allah nggak kasih aku kelaparan, tapi Allah kasih aku "waktu". Waktu yang selama ini habis buat kerja nggak jelas, sekarang aku pakai buat bener-bener belajar.

Aku mulai belajar sedikit demi sedikit untuk memperbaiki diri. Mulai dari yang paling dasar: belajar gimana cara shalat yang benar sesuai syariat. Ternyata selama ini shalatku mungkin cuma sekadar gerakan tanpa ruh. Aku belajar ngaji lagi yang bener, benerin makhraj dan tajwid yang udah karatan. Aku juga belajar bermuamalah yang bener—ternyata banyak banget transaksi sehari-hari yang harus kita perhatiin biar nggak kejeblos lagi ke lubang yang sama.

Dan yang paling penting, aku belajar adab yang bener. Belajar adab sama Allah, adab sama sesama manusia, dan adab sama diri sendiri. Ternyata pinter aja nggak cukup, kalau nggak punya adab ya kosong.

Dulu aku pikir, hidup tanpa kerjaan kantoran itu bakal kiamat. Ternyata nggak. Allah ganti dengan ketenangan hati yang nggak bisa dibeli pake gaji bulanan mana pun. Memang secara materi mungkin nggak "se-wah" dulu, tapi keberkahannya beda banget. Hidup jadi lebih enteng, nggak ada lagi rasa was-was karena "nantangin perang" tadi.

Sekarang, kalau ada yang tanya, "Nggak nyesel berhenti?" Jawaban jujurku cuma satu: "Nyesel kenapa nggak dari dulu."

Tiga tahun ini jadi perjalanan spiritual paling dahsyat buatku. Kayak brownies pondan yang tadi aku bikin, awalnya mungkin "bantet" karena prosesnya salah, menteganya kepanasan, telurnya kaget. Tapi begitu aku belajar lagi, tahu takarannya, tahu urutannya, pelan-pelan hasilnya jadi lebih baik. Hidupku juga gitu. Kemarin mungkin aku gagal total karena prosesnya salah lewat jalur riba, tapi sekarang aku lagi belajar bikin "resep" hidup yang baru sesuai instruksi Sang Pencipta.

Buat temen-temen yang mungkin sekarang lagi ngerasain kegelisahan yang sama, atau lagi ragu buat ninggalin sesuatu yang haram demi Allah, percaya deh... Allah nggak akan pernah ngecewain hamba-Nya yang mau balik. Memang bakal ada masa sulit, bakal ada ujian, tapi itu semua cuma cara Allah buat ngebersihin kita.

Terima kasih ya Allah, sudah dikasih kejutan berupa pengangguran yang membawa keberkahan. Terima kasih sudah diingatkan lewat ayat-ayat cinta-Mu yang luar biasa "pedas" tapi menyelamatkan.

Bismillah, perjalanan belajar ini masih panjang. Aku belum jadi orang suci, aku cuma orang yang lagi berusaha lari sekuat tenaga dari murka-Nya menuju rahmat-Nya. Semangat terus buat kita semua yang lagi berjuang di jalan hijrah!

 

Lots of Love

 

Resa—

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar