Ponselku sudah sunyi sejak tahun 2021. Di saat dunia luar terasa begitu bising dan berisik, benda pipih di genggamanku ini seolah menjelma menjadi monster kecil yang hobi berteriak tepat di depan wajahku.
Bukan, ini bukan karena aku seorang anti-sosial yang benci manusia. Aku hanya merasa jengah, jenuh, dan sedikit lelah dengan segala tuntutan digital yang tidak pernah ada habisnya. Pada satu titik di hidupku, aku hanya ingin berhenti sejenak dan merasakan apa itu sunyi yang sebenar-benarnya.
Awal Mula Menjinakkan Getaran
Perjalananku menuju kesunyian ini tidak terjadi dalam semalam. Semuanya dimulai dengan langkah kecil yang paling standar dilakukan banyak orang: mematikan nada dering. Aku mengubah pengaturannya menjadi mode getar saja.
Awalnya, aku pikir itu sudah cukup. Namun, ternyata aku salah. Getaran ponsel yang ritmis itu rupanya masih terasa terlalu kuat dan mengintimidasi. Setiap kali mesin di dalam ponsel itu berputar dan menghasilkan suara dengung di atas kasur atau di dalam saku, jantungku ikut berdegup.
Getaran itu seolah-olah menjadi alarm bertenaga besar yang terus mengingatkanku bahwa ada seseorang di luar sana yang sedang membutuhkan respons cepat dariku. Entah itu urusan pekerjaan yang mendesak, obrolan grup yang tidak terlalu penting, atau sekadar pesan iseng yang sebenarnya bisa dibalas kapan saja. Benda itu terus memaksa untuk dijangkau, dan aku mulai merasa tercekik oleh ekspektasi tersebut.
Seiring berjalannya waktu, entah bagaimana prosesnya, aku justru mulai terbiasa dengan kesunyian yang perlahan kubangun sendiri. Aku mulai menyadari ada perubahan kenyamanan di dalam diriku. Aku menjadi sangat sensitif, bahkan cenderung tidak suka, setiap kali ponselku mengeluarkan suara.
Bagi orang lain, bunyi ting! dari notifikasi aplikasi pesan mungkin terdengar lirih, biasa saja, dan tidak mengganggu. Namun, entah mengapa bagi telingaku, bunyi kecil itu terdengar sangat memekakkan dan langsung merusak fokus yang sedang kubangun dengan susah payah.
Eksperimen Menuju Mode Hening Total
Karena bunyi ting! yang lirih itu sudah mulai mengusik kedamaian, aku kembali mengulik pengaturan ponsel. Aku mencoba bertahan dengan mode getar, tetapi kali ini aku memodifikasinya. Aku mencari ritme getaran yang paling halus dan paling minim getaran yang disediakan oleh sistem ponselku. Aku menghindari ritme yang mengejutkan atau berpola panjang.
Namun, polusi suara dari sebuah ponsel pintar ternyata tidak semudah itu dijinakkan. Pernahkah kamu meletakkan ponsel dengan mode getar di atas meja kayu atau kaca? Ketika ada pesan masuk, suara gesekan antara bodi ponsel dan permukaan meja justru menghasilkan bunyi dengung keras yang sangat mengganggu. Alih-alih menjadi pengingat yang sopan, getaran di atas meja itu justru terdengar seperti ketukan palu yang menuntut perhatian segera.
Momen-momen kecil seperti itulah yang akhirnya membuatku mengambil keputusan besar. Berpindah dari satu mode ke mode lain membuatku sadar bahwa yang aku butuhkan bukanlah pengurangan volume, melainkan ketiadaan suara itu sendiri.
Sekarang, entah sudah berapa tahun persisnya berjalan, ponselku benar-benar telah bertransformasi menjadi benda yang sunyi seutuhnya. Tidak ada nada dering, tidak ada suara notifikasi, dan tidak ada getaran sama sekali. Nol besar.
Satu-satunya tanda bahwa ada kehidupan di dalam benda pipih itu hanyalah sekelebat cahaya redup yang menyala sekilas di layar kaca saat ada pesan atau telepon masuk. Itu pun jika ponselnya sedang kuletakkan menghadap ke atas di dekatku. Jika posisinya terbalik, maka dia hanyalah sebongkah kotak hitam yang mati kutu.
Menyaring Kebisingan Dunia Digital
Tentu saja, mematikan suara dan getar tidak akan efektif tanpa menyaring sumber kebisingan itu sendiri. Oleh karena itu, aku mengambil langkah yang lebih radikal: mematikan hampir seluruh notifikasi aplikasi.
Aku masuk ke menu pengaturan dan mencentang opsi "nonaktifkan pemberitahuan" untuk semua media sosial. Tidak ada lagi pemberitahuan tentang siapa yang menyukai foto lamaku, tidak ada lagi pembaruan tentang video apa yang sedang tren, dan yang paling krusial, aku membisukan semua grup percakapan. Baik itu grup keluarga, grup pertemanan, maupun grup alumni yang isinya ratusan pesan per hari.
Aku hanya menyisakan ruang bagi pesan pribadi yang benar-benar penting dan beberapa panggilan masuk dari lingkaran terdekatku. Aku mengambil alih kendali penuh atas kapan aku ingin melihat dunia luar, bukan membiarkan dunia luar mendikte kapan mereka bisa mengangguku.
Aku tahu persis bagaimana pandangan masyarakat modern terhadap pilihan hidup seperti ini. Bagi sebagian besar orang di era digital sekarang, keputusanku ini mungkin terlihat sangat aneh, eksentrik, atau bahkan egois. Kita saat ini hidup di zaman yang memuja kecepatan, di mana setiap orang dituntut untuk selalu siaga dan menjadi manusia yang serba fast respon. Terlambat membalas pesan beberapa menit saja terkadang bisa dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian atau ketidakprofesionalan.
Namun, di tengah arus deras yang menuntut semua orang untuk selalu terhubung setiap detik, aku justru memilih jalan memutar. Aku memilih untuk bersembunyi dengan nyaman di balik dinding kesunyian yang kuciptakan sendiri. Aku memilih untuk menjauhkan diri dari ketergantungan pada benda pipih yang selalu memekik, menyala, dan menuntut perhatian tanpa kenal waktu.
Menemukan Kembali Arti Ketenangan
Apakah aku kehilangan banyak informasi? Mungkin saja. Apakah aku melewatkan gosip terbaru atau tren yang sedang hangat dibicarakan di media sosial? Sudah pasti. Namun, apa yang kudapatkan sebagai gantinya jauh lebih berharga daripada semua informasi instan tersebut. Aku mendapatkan kembali waktu, fokus, dan yang terpenting, sebuah ketenangan batin.
Saat ponselku sunyi, aku bisa menulis atau membaca buku dengan tenang tanpa interupsi. Aku bisa menikmati secangkir kopi di pagi hari sambil mendengarkan suara angin atau rintik hujan yang nyata, bukan suara fiktif dari ponsel. Aku bisa mengobrol dengan orang di hadapanku dengan kualitas perhatian yang utuh, tanpa sebentar-sebentar melirik ke arah layar yang berkedip atau bergetar.
Aku tidak sedang berusaha memprotes perkembangan teknologi atau mengajak semua orang untuk mengikuti jejak ekstremku ini. Aku hanya ingin berbagi bahwa ada alternatif lain untuk bertahan hidup di dunia yang sudah terlampau bising ini.
Setiap orang memiliki batas toleransinya masing-masing terhadap keramaian, dan batasku rupanya sudah terlampaui sejak tahun 2021 lalu. Pada akhirnya, ini bukan tentang seberapa antipati aku terhadap dunia luar. Ini adalah bentuk pertahanan diriku yang paling jujur. Aku hanya ingin tenang, ya, hanya sesederhana itu.
.png)
0 Komentar