Wah, ngga berasa udah di penghujung bulan aja, ya. Entah kenapa rasanya tahun 2026 ini muter cepet banget, mirip wahana halilintar. Atau jangan-jangan, ini cuma perasaanku aja karena belakangan ini lagi ribet banget ngurusin isi kepalaku sendiri? Jadinya waktu rasanya amblas gitu aja tanpa permisi. Haha.
Well, kalau nengok ke belakang, alhamdulillah bulan Mei ini seru dan produktif banget buatku. Kenapa? Hmm, mungkin karena keran di otak lagi lumayan lancar ngalirin ide buat nulis. Sepanjang bulan ini, aku berhasil menelurkan beberapa bab cerita di platform digital. Ya, itung-itung buat tempat daur ulang ngebuang “sampah” imajinasi yang kalau ditumpuk terus malah bikin kepala kenceng, haha.
Ekspektasi Jadi Penulis Keren vs Realitas yang Menggelikan
Dulu, aku sempat punya pikiran polos kalau bikin fiksi itu urusan gampang. Tinggal duduk manis di kafe, buka laptop, terus mengetik apa aja asal mengalir sambil kelihatan estetik. Ternyata kenyataannya? Asli, mumetnya bikin pengen lambaikan tangan ke kamera! Haha.
Bulan Mei ini, aku nekat memegang dua proyek besar sekaligus: ada satu judul fiksi yang akhirnya berhasil tamat (hore!), dan ada satu lagi yang statusnya masih on-going alias masih berjalan terseok-seok. Dan ya, bagi yang udah hafal kelakuanku di dunia kepenulisan, genre yang kupilih ngga akan jauh-jauh dari sekte thriller, angst, dan konspirasi penuh trauma yang bikin pembaca ikutan jantungan.
Nulis genre begini beneran menguras tenaga, terutama di bagian risetnya. Entah dapat bisikan dari mana, kemarin aku dengan entengnya memilih latar belakang cerita tentang dinamika persaingan dua raksasa di ruang operasi. Begitu dijalani dan ditekuni, langsung rasanya pengen ngejitak kepala sendiri sambil berbisik, "Geblek banget asli!" Hahaha.
Akibat dari keputusan sok itu, hari-hariku sukses diisi dengan rasa mual dan puyeng akibat dijejali berbagai istilah medis yang aslinya bikin keriting otak. Ditambah lagi, aku ngga tanggung-tanggung ngambil spesialisasi tokoh utamanya: dokter spesialis bedah saraf! Ya, kalian ngga salah baca, bedah saraf yang urusannya sama isi tempurung kepala manusia! Keren sih kedengarannya kalau lagi pamer ke temen, tapi di balik layar, penulisnya ini sedang meratapi nasib karena terlalu sok tahu di awal, wakakak.
Tersesat di Labirin Bedah Saraf (Mohon Lambaikan Tangan)
Imbas dari pilihan antimainstream itu, aku terpaksa harus ngedadak belajar anatomi tubuh dan ilmu persarafan. Otakku yang biasa dipakai buat mikir menu makan siang ini ngedadak harus menampung istilah sistem limbik, lobus frontal, edema, dan segala macam nama saraf yang ruwetnya mengalahkan kabel kelistrikan rumah.
Belum lagi aku harus memahami gimana efek pasca-operasi pengambilan tumor otak, hingga detail teknis mengenai prosedur clipping pada pembuluh darah. Bahkan hal sekecil perbedaan antara scalpel (pisau bedah) dan sneli (jas putih dokter yang suka dipakai itu) pun harus kupelajari dari nol, wakakak. Sumpah, ini melelahkan tapi kok ya bikin kecanduan!
Berapa lama waktu yang kuhabiskan buat belajar semua itu? Lama banget, asli! Jangan dibayangkan aku sekali baca langsung paham. Aku harus rela bolak-balik membuka jurnal medis dan artikel ilmiah hanya untuk nulis satu paragraf pendek, atau demi memastikan satu adegan operasi clipping yang dilakukan si dokter ke pasiennya kelihatan akurat dan ngga diketawain penonton.
Biar cerita makin dramatis dan bikin pembaca emosi, aku sengaja memunculkan konflik internal antara si dokter bedah saraf dengan spesialis anestesi. Waduh, mantap sekali pusingnya, langsung dobel kuadrat!
Alhasil, aku harus belajar lagi tentang dunia per-bius-an duniawi. Mulai dari menghitung dosis obat agar pasien ngga ngedadak bangun pas digergaji, memahami fungsi cairan Propofol, cara memompa ambu bag yang bener, penggunaan syringe pump, hingga di mana posisi berdiri dokter anestesi yang ideal di dalam ruang operasi agar ngga mengganggu pemandangan.
Kepalaku makin berputar saat meriset tindakan apa aja yang harus disuntikkan lewat spuit kalau tekanan intrakranial pasien tiba-tiba melonjak naik. Belum lagi memahami perbedaan proses intubasi (memasang selang napas) dan ekstubasi (mencabutnya). Woilah, pusingnya sampai menembus ubun-ubun! Hahaha.
Ketika Google Mengira Aku Sedang Frustrasi dan Butuh Pertolongan
Tapi so far, petualangan gila ini seru dan ngasih kepuasan tersendiri sih. Aku berhasil menutup bulan Mei dengan menyelesaikan satu fiksi bertema medis tersebut. Nah, sekarang aku lagi fokus menggarap fiksi kedua yang statusnya masih jalan. Bedanya, kalau yang pertama fokus ke bedah fisik, yang kedua ini arahnya lebih ke kesehatan mental alias psikiatri. Haha, pindah lapak pusingnya!
Ternyata, dunia kesehatan mental itu luasnya minta ampun, ya. Jenis penyakitnya banyak, dan metode penyembuhannya pun sangat beragam. Nah, di proyek kedua inilah tantangan risetnya jauh lebih kocak sekaligus mendebarkan.
Karena cerita ini menyangkut kesehatan mental yang pengobatannya menggunakan obat-obatan dosis tinggi dan super sensitif, algoritma mesin pencari di laptopku mulai menaruh curiga. Bayangkan aja, setiap hari riwayat pencarianku isinya mengerikan: seputar jenis obat penenang, efek samping, hingga berapa dosis yang pas buat overdosis.
Sampai pada suatu hari, pas aku lagi asyik mengetik dan memburu data, layarku tiba-tiba terkunci jepret! Sistem langsung memblokir pencarianku dan mengalihkan halamannya ke situs resmi Kementerian Kesehatan dengan catatan besar di layar:
"YOU’RE NOT ALONE! Looking for help? Please contact us at…"
Asli, saat itu aku langsung tertawa ngakak sendirian sampai sakit perut! Hebat betul, aku malah disangka lagi frustrasi dan mau mennggahiri hidup oleh Google. Tapi di sisi lain, aku harus ngasih dua jempol untuk sistem mitigasi tersebut. Itu respons yang sangat keren dari pemerintah kita. Mereka memilih untuk mengambil langkah pencegahan dini daripada kejadian buruk terlanjur terjadi. Lebih baik sistemnya "suudzon" duluan dan berhasil menyelamatkan satu nyawa, daripada bersikap cuek tapi malah kecolongan, bukan?
Penutup Mei yang Diwarnai Gelengan Kepala
Lalu gimana nasib riset kesehatan mentalku sekarang? Hmm, sejauh ini aku masih terus bergerilya di internet buat mengumpulkan data demi cerita selanjutnya. Jujur, aku belum menemukan formula yang benar-benar pas karena terbatasnya informasi medis yang valid dan bisa diakses secara gratisan. Tapi ngga apa-apa, proses berburu informasi yang penuh drama dituduh mau “meninggoy” inilah yang bikin proses nulis jadi menantang. Dan yang pasti, aku ngga akan menyerah begitu aja!
Mari kita tutup bulan Mei 2026 ini dengan geleng-geleng kepala berjamaah. Menertawakan diri sendiri yang hobi sekali mencari masalah dan memperumit hidup dengan riset medis yang berat, padahal Allah udah ngasih jalan hidup yang adem ayem, tenang, dan damai, wekekek. Memang manusia suka menantang badai!
Terima kasih Mei atas segala kegilaan ilmiah dan kepuyengan ruang operasinya, dan mari kita bersiap menyambut bulan Juni dengan draf-draf cerita yang semoga ngga bikin disemprit Kemenkes lagi. Sampai jumpa di jurnal rekap bulan depan, teman-teman!
Lots of Love,
Resa—
.png)
0 Komentar