Rebut Pahala Jariyah di Dunia Digital: Jangan Biarkan Sosmedmu Kosong dari Kebaikan

 

Pernah nggak sih, kamu ngerasa kalau hidup di dunia nyata saja sudah cukup ribet, eh, di dunia maya malah jauh lebih ribet lagi? Rasanya, apa pun yang kamu lakuin di media sosial, selalu aja ada mata yang ngawasin dan mulut yang siap komentar miring. Padahal, kamu cuma pengen jadi diri sendiri, menikmati ruang digital kamu sendiri.

Coba perhatikan deh, polanya selalu berulang.

Saat kamu lagi pengen detox media sosial, milih untuk diam dan nggak update status berhari-hari, ada aja yang nyeletuk, "Kok kamu nggak pernah muncul lagi? Kamu hide aku ya? Atau jangan-jangan aku diblokir?" Padahal, kenyataannya kamu cuma pengen narik diri dari hiruk-pikuk notifikasi, lagi pengen nikmatin waktu tanpa harus ngeliat ponsel setiap waktu.

Lalu, giliran kamu rajin update sesuatu yang positif—seperti potongan ayat Al-Qur'an, nasihat bijak, atau kata-kata motivasi—eh, prasangka buruk malah muncul lagi. "Kamu lagi nyindir siapa sih?" atau "Kamu lagi ada masalah ya? Tumben banget update terus, lagi berantem sama siapa?"

Rasanya capek, kan? Seolah-olah kamu nggak punya hak untuk berbagi kebaikan tanpa dicurigai punya motif tersembunyi.


Prasangka yang Menghabiskan Energi

Kenapa ya, orang-orang gampang banget berprasangka? Sebenernya, saat orang lain ngelihat update-mu dan ngaitin sama masalah pribadi mereka, itu sering kali proyeksi dari pikiran mereka sendiri. Mereka yang terbiasa "menyindir" lewat status, akhirnya nganggap orang lain pun melakukan hal yang sama.

Dalam Islam, kita udah diingetin jauh-jauh hari soal bahaya prasangka ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:


ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا اجْتَÙ†ِبُوا ÙƒَØ«ِيرًا Ù…ِّÙ†َ الظَّÙ†ِّ Ø¥ِÙ†َّ بَعْضَ الظَّÙ†ِّ Ø¥ِØ«ْÙ…ٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..." (QS. Al-Hujurat: 12).


Ayat ini tuh pengingat buat kita semua bahwa nggak semua hal yang kita lihat harus ditafsirkan dengan prasangka buruk. Tapi, karena kita nggak bisa ngontrol pikiran orang lain, maka kamu lah yang harus mengontrol responmu sendiri.


Mengembalikan Niat ke Titik Nol

Saat kamu mutusin untuk ngebagiin ayat atau nasihat, tanyakan sekali lagi pada diri sendiri: "Untuk siapa aku membagikan ini?"

Kalau niatnya emang buat berbagi kebaikan atau sekadar pengingat untuk diri sendiri (karena seringkali ayat yang kamu share adalah pengingat untuk diri yang butuh nasihat), maka komentar orang lain sebenarnya nggak ada artinya.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang masyhur:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الأَعْÙ…َالُ بِالنِّÙŠَّاتِ

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya..." (HR. Bukhari & Muslim).


Kalau niatnya baik, ya udah, jalanin aja. Kalau mereka nuduh kamu nyindir, itu urusan mereka sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau mereka ngerasa tersinggung, mungkin aja ayat yang kamu bagiin emang "menampar" hati mereka sendiri. Kamu nggak perlu minta maaf atas kebenaran yang kamu bagikan, bukan?


Seni "Tidak Peduli" yang Menenangkan

Sekarang, mari kita sepakati satu hal: hidup kamu terlalu berharga untuk dijadikan panggung spekulasi orang lain.

Jika kamu ngerasa pengen diam, maka diamlah. Itu hakmu. Jika kamu mau berbagi kebaikan, maka bagikanlah. Itu juga hakmu. Orang-orang yang nggak suka akan selalu nyari celah, entah kamu berbuat baik atau diam. Jadi, daripada ngabisin energi buat klarifikasi atau ngerasa bersalah, lebih baik gunain energi itu untuk hal yang lebih produktif.

Ingat, media sosial itu adalah ruangmu. Kamu punya kendali penuh atas akunmu. Kalau ada yang bikin risih, ada fitur mute, restrict, atau block yang bisa digunain tanpa harus ngerasa nggak enak hati. Jangan sampai kedamaian hati yang sudah kamu bangun dengan susah payah hancur hanya karena asumsi orang lain.


Akhirnya, Pulang ke Diri Sendiri

Kesimpulannya, kita nggak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang mulia saja tetap mendapatkan cacian dan prasangka, apalagi kita?

Jadi, mulai sekarang, mari lebih santai. Kalau mereka nanya "Kenapa nggak update?", senyumin aja. Kalau mereka nuduh "Nyindir siapa?", cukup jawab dengan tenang atau biarin aja. Nggak perlu ngasih penjelasan lebih dari yang diperlukan.

Fokus aja sama perbaikan diri sendiri. Fokus sama kebaikan yang hidup berdampingan dalam dirimu. Karena pada akhirnya, yang paling tahu isi hatimu hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan mereka yang sibuk dengan prasangkanya.

Lanjut aja berkarya, lanjut aja berbagi kebaikan, dan tetaplah jadi versi dirimu yang paling tulus. Karena kebaikan yang tulus, cepat atau lambat, akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu pembelaan. Tetap semangat ya! Dunia ini memang berisik, tapi hatimu berhak untuk tetap tenang.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

0 Komentar