Perang Dunia di Meja Belajar: Curhat Jengkel Emak Saat Musim UAS Anak.


Juni! Apa yang langsung muncul di pikiran kalian kalau mendengar kata "Juni"? Liburan sekolah? Santai-santai di rumah? Jalan-jalan ke luar kota? Hmm, no, no, no!

Sebelum kita bisa menyentuh gerbang liburan yang indah itu, ada satu monster besar yang harus dihadapi: UAS! Yap, Ujian Akhir Semester. Lailahaillallah, setiap kali musim ini datang, saat itu juga aku otomatis berubah mode menjadi singa gunung atau serigala hutan pinus yang kelaparan. Sumpah, ya Allah, lelahnya sampai ke sumsum tulang!


Ekspektasi Liburan vs Realita Medan Perang



Kadang-kadang aku duduk termenung sambil memegang kepala yang rasanya mau pecah, lalu mikir, "Ini semua anak di dunia emang begini kalau mau ujian, atau cuma anakku aja sih yang ajaib?" Haha. Jujur, kalau soal si kakak, semuanya masih terpantau aman terkendali. Si kakak mah sudah santai banget, bisa mandiri, dan aku bisa mendampingi dia dengan tenang tanpa perlu urat leher keluar semua.

Nah, drama yang sebenarnya baru dimulai ketika berhadapan dengan si bontot. Bocah satu ini benar-benar punya kekuatan magis buat mengubah ibunya yang semula selembut Rapunzel, mendadak jadi menyeramkan kayak kuyang dalam waktu satu detik!

Masalahnya, kalau diajak belajar, dia itu sama sekali nggak pernah bisa serius. Sampai di satu titik aku tuh mikir dan takut sendiri, ini bocah sebenarnya paham nggak sih sama materi sekolahnya? Soalnya, setiap kali dikasih pertanyaan atau latihan soal, jawabannya ya Allah... ngasal banget sampai bikin dada sesak.


Ketika Ulul Azmi Berubah Jadi Teman Sekelas



Ada satu momen yang bikin aku elus dada sampai mau nangis. Waktu itu kami lagi bahas pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam). Di buku ada pertanyaan soal siapa itu "Ulul Azmi". Dengan wajah tanpa dosa dan suara lantang, dia langsung nyeletuk, "Lah, Ulul Azmi? Itu kan temen adek, Umma!"

Aku yang dengar langsung melongo. Pas dicoba buat disanggah dan diluruskan kalau yang dimaksud di buku itu bukan orang sembarangan, dia malah makin ngeyel alias membantah. Dengan penuh keyakinan dia bilang, "Beneran, temen adek namanya Ulul Azmi! Tanya aja sama Ustazah kalau nggak percaya!"

Ya Allah, naaaak... maksudnya tuh nggak gitu! Huhuhu! Pengin banget rasanya teriak pakai pengeras suara di depan mukanya. Ini lagi bahas nabi-nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi karena ketabahan mereka yang luar biasa, bukan lagi absen teman sekelas kamu yang namanya Ulul Azmi, adek sayang!

Nah, ajaibnya, pas dia sudah melihat muka ibunya ini stres berat, merah padam, dan hampir menangis, dia cuma nyengir kuda tanpa rasa bersalah. Dengan santainya dia bilang, "Ooooh, gitu? Umma sih nggak bilang dari tadi."

What?! Nggak bilang gimana maksudnya? Dari tadi ini leher sudah berurat, suara sudah naik dua oktaf menjelaskan panjang lebar, dia malah asyik ngecupris nggak jelas dan menganggap ibunya ini bercanda.


Belajar Bahasa Indonesia, Melipir ke Negeri Tirai Bambu


Nggak berhenti sampai di situ, ujian kesabaran tingkat dewa kembali diuji. Di tengah-tengah kami lagi serius membahas materi pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba fokusnya berbelok 180 derajat tanpa aba-aba. Tanpa ada angin tanpa ada hujan, dia menatapku lalu nanya,
"Umma, merah bahasa Mandarinnya apa?"

Hah? Otomatis otakku langsung mendadak blank dong. Ini lagi bahas struktur kalimat Bahasa Indonesia, kenapa jalurnya melipir ke negeri tirai bambu? Belum sempat aku menjawab karena masih syok dengan perpindahan materi yang mendadak itu, dia sudah mendahului dengan nada sok tahu, "Hong se! Umma gimana sih, masa nggak tahu?"

Hmm, sabar... tarik napas dalam-dalam, embuskan perlahan. Aku mencoba menahan diri agar tidak meledak saat itu juga. Tapi dasar si bontot, melihat ibunya diam, dia malah makin menjadi-jadi. Dimulailah aksi dia menyebutkan berbagai macam warna dalam bahasa Mandarin dengan gaya yang sangat ekspresif.

Walhasil, tensi darah ibunya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Kepalaku rasanya sudah mengeluarkan asap saking jengkelnya melihat buku pelajaran Bahasa Indonesia di depan kami malah dianggurin total.


Ketika "Bi Zui!" Malah Dikira Atraksi Sulap



"Bi zui! Kuai dian xué!" teriakku akhirnya. Kalimat perintah dalam bahasa Mandarin yang artinya "Diam! Cepat belajar!" itu terpaksa keluar dari mulutku saking jengkel dan gemasnya.

Bukannya takut atau langsung buru-buru buka buku, si bontot malah ketawa mabrur sambil cekikikan kegirangan. Dia menatapku dengan mata yang berbinar-binar takjub, seolah-olah baru saja melihat pertunjukan sulap gratis di depan matanya. "Wah, Umma bisa bahasa Mandarin?" tanyanya sambil terus cekikikan tanpa beban.

"Yeah, wo hui shuo yidian. Kuai-kuai dian xué!" omelku lagi, mencoba memakai sisa-sisa ketegasan yang ada biar si bontot berhenti tertawa dan mau lanjut belajar. Ya, aku bisa bicara sedikit, tapi sekarang bukan waktunya pamer bahasa asing, Nak! Buruan itu soal di buku dikerjain sebelum mata pelajaran yang lain ikut mengantre untuk dipelajari.


Pertolongan Pertama pada Tensi Emak yang Meledak

Beneran deh, momen-momen menjelang libur panjang sekolah begini, tensi perang di dalam rumah—terutama di depan meja belajar—bener-bener berada di titik tertinggi. Rasanya energi ini terkuras habis, lebih melelahkan daripada harus lari maraton keliling kompleks. Mendampingi si bontot belajar itu butuh stok sabar berkarung-karung yang sayangnya sering kali habis di tengah jalan.

Melihat situasi rumah yang sudah mirip markas komando militer begini, aku merasa butuh asupan kopi dua kali lipat lebih banyak dari biasanya untuk mempertahankan kesadaran dan kewarasan. Dan mungkin... nanti saat mereka sudah berangkat ke sekolah untuk bertempur menghadapi lembar soal UAS yang sesungguhnya, aku butuh waktu jeda sejenak. Rasanya aku pengin langsung nyemplung ke dalam kolam renang yang airnya dingin, diam di sana beberapa menit, biar kepala yang tadinya panas membara ini bisa adem kembali. Haha!

Bagi semua ibu-ibu di luar sana yang nasibnya sama denganku, yang minggu ini juga sedang bertransformasi menjadi panglima perang demi menemani anak-anaknya menghadapi UAS, mari kita saling berpegangan tangan.

Tetap semangat, jaga kesehatan fisik, dan yang paling penting, jaga kesehatan mental kita ya! Perjalanan menuju liburan tenang di akhir Juni masih beberapa langkah lagi. Anggap saja ini ujian kelulusan buat kesabaran kita juga sebagai orang tua. Semangat para emak, mari kita menangkan peperangan ini dengan sehat wal afiat!


Lots of Love,


Resa—



Posting Komentar

0 Komentar