Simfoni Ikhtiar dalam Sunyi: Bagaimana Pak Ogah Tuna Rungu Mengajarkan Kita Arti Berserah Diri.

 


Setiap kali menjemput anak-anak, aku selalu melewati jalan yang sama. Sebuah perempatan yang tidak terlalu besar, namun selalu riuh oleh bising kendaraan. Mobil dan motor seolah berpacu dengan waktu, terburu-buru mengejar sesuatu yang entah apa itu. Di antara hiruk-pikuk yang melelahkan itu, ada satu sosok yang selalu mencuri perhatianku.

Seorang lelaki muda, mungkin usianya berkisar antara 30 hingga 35 tahun. Ia selalu berdiri tegak di tengah perempatan, menjadi pengatur lalu lintas sukarela. Hujan yang membasahi tubuhnya atau terik yang membakar kulitnya seolah tak mampu mengusir semangatnya. Dengan rompi fosfor hijau neon yang mulai kusam, sarung tangan, sepatu bot, serta masker yang sesekali ia turunkan, ia adalah "penjaga" bagi keselamatan orang-orang asing yang berlalu-lalang.

Awalnya, aku sering merasa kesal. Gesturnya terlihat begitu ekspresif, bahkan cenderung kasar di mataku. Lambaian tangannya yang kuat, tubuhnya yang membungkuk tajam, seolah ia sedang membentak, "Cepetan jalan, woy!" Aku yang saat itu masih diselimuti prasangka, hanya bisa tancap gas dengan perasaan dongkol, takut jika kelambatanku justru memicu kemacetan yang lebih parah.

Hari-hari berikutnya, perasaan itu berubah menjadi was-was. Saat ia berteriak, "Oii!", jantungku selalu berdegup kencang. Aku merasa seolah terus melakukan kesalahan. Sampai pada suatu hari, sebuah peristiwa membuat duniaku sejenak berhenti.

Aku sudah berhenti sesuai dengan instruksi tangannya. Namun, ketika ia memberi kode untuk melaju, tiba-tiba ada motor anak sekolah yang nyelonong dari arah kanan. Hampir saja terjadi tabrakan hebat. Beruntung, aku masih melaju perlahan sehingga kami bisa menghindar. Di saat itulah, aku melihatnya membungkuk dalam-dalam sambil menangkupkan kedua tangannya di dada, matanya menatapku dengan sorot yang penuh permohonan maaf. Suara yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan tidak beraturan, "Aak... aak!"

Dadaku seketika terasa sesak, seolah dihantam sesuatu yang sangat berat. Air mataku hampir jatuh. Ternyata, dia tuli dan bisu. Selama ini, teriakan keras dan gestur tubuhnya yang "marah" bukanlah tanda arogansi, melainkan upaya tulus dari dunianya yang sunyi untuk memastikan keselamatan kami. Dia tidak tahu seberapa kencang suaranya, dan dengan masker yang menutupi wajahnya, komunikasi satu-satunya hanyalah gerakan tubuh yang penuh perjuangan.


Belajar Memahami dengan Hati

Kisah ini menampar harga diriku. Kita seringkali terlalu cepat menghakimi orang lain berdasarkan apa yang tampak oleh mata. Padahal, Allah جل جلاله berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..."

Ustaz Firanda Andirja sering mengingatkan bahwa hati seorang mukmin harus senantiasa bersih dari suuzan. Betapa seringnya kita merasa paling benar, paling lelah, atau paling menderita, tanpa menyadari bahwa di luar sana ada orang yang berjuang jauh lebih keras dengan keterbatasan yang jauh lebih besar.


Ikhtiar dalam Sunyi

Mas itu mengajarkan kepadaku tentang makna ikhtiar yang sesungguhnya. Dia tidak memilih untuk mengemis. Dia memilih untuk berdiri di bawah sengatan matahari, menjaga ketertiban, dan memungut kepingan rezeki dari mereka yang bersimpati. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

"Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan 'Laa ilaaha illallah', dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalanan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyingkirkan gangguan di jalan bukan sekadar memindahkan batu, melainkan menjaga nyawa orang lain agar selamat sampai ke tujuan. Mas itu, dengan dunianya yang sunyi, justru sedang menunaikan cabang iman yang sangat mulia. Ustaz Khalid Basalamah dalam setiap kajiannya sering menekankan bahwa rezeki itu datang beriringan dengan ikhtiar. Mas itu tidak mengeluh. Dia tidak memprotes takdirnya yang tidak bisa mendengar dentuman dunia. Dia justru menjadi bagian dari solusi di tengah jalanan yang semrawut.


Meneladani Tawakal yang Agung

Ustaz Nuzul Zikri pernah menuturkan bahwa ujian adalah cara Allah جل جلاله untuk memeluk hamba-Nya lebih dekat. Mas itu hidup dalam tawakal yang murni. Setiap hari ia bangun, berdiri di perempatan itu, dan meletakkan nasibnya di tangan Sang Pencipta. Jika ada yang memberi, ia akan menangkupkan tangan di dada dengan senyum yang begitu tulus. Jika tidak, ia tetap berdiri tegak, menjaga pengendara lainnya tanpa sedikit pun rasa benci.

Ini adalah cerminan dari hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi).

Ia adalah "burung" yang terbang setiap pagi, menjemput rezeki dengan tenaga yang ia punya, tanpa mengeluh tentang sayapnya yang mungkin tidak sempurna. Sementara aku? Seringkali aku masih mengeluh dengan tubuh yang lengkap, atas masalah-masalah yang sebenarnya begitu kecil dibandingkan perjuangannya.


Sebuah Refleksi dalam Syukur

Kejadian di perempatan itu mengubah cara pandangku terhadap hidup. Sekarang, setiap kali melewatinya, aku tidak lagi merasa terganggu. Aku justru melihatnya sebagai guru kehidupan. Ketika aku merasa lelah karena macet atau masalah pekerjaan, aku teringat sosoknya yang berdiri tegak di tengah terik, menjaga keselamatan banyak orang meski dunianya begitu sunyi.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah جل جلاله yang telah menitipkan pelajaran berharga ini. Terima kasih, ya Allah, atas nikmat penglihatan, pendengaran, dan kemudahan yang Engkau beri. Semoga Engkau senantiasa menjaga hati kami agar tidak menjadi sombong.

Dan untuk mas itu, jazakallahu khairan. Semoga Allah جل جلاله membalas setiap tetes keringatmu dengan surga-Nya. Semoga setiap gestur tulusmu menjadi saksi kebaikan di akhirat nanti. Semoga duniamu yang sunyi di dunia, digantikan dengan suara keindahan dan kegembiraan yang tak terbatas di dalam surga nanti.

Pelajaran ini mengajarkanku bahwa hidup bukan tentang seberapa besar suara kita terdengar, tapi tentang seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan. Terkadang, kita perlu sedikit melambatkan laju kendaraan dan membuka pintu hati, agar bisa melihat kebaikan yang tersembunyi di balik keterbatasan.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

0 Komentar