Catatan Kecil Penutup Maret: Tentang Jeda, Fiksi, dan Sumpah Serapah yang Manis


 

Menatap kolom artikel bulan ini rasanya seperti berdiri di depan cermin yang retak. Ada rasa syok yang menjalar pelan saat menyadari bahwa sepanjang Maret, hanya ada satu judul yang bertengger di sana. Satu. Itu pun hanya tulisan ringan, jenis tulisan yang lahir tanpa keringat, sekadar penggugur kewajiban agar laman tidak berdebu.

Aku terdiam sejenak, menyesap sisa kopi yang mulai mendingin, dan bertanya-tanya: apakah kreativitas memang punya musim kemarau? Mungkin Maret kali ini adalah masa di mana aliran imajinasiku sedang macet total, terhambat oleh beban-beban tak kasat mata yang sulit dieja.

Namun, lucunya, kemacetan ini tidak hanya menyerang artikel-artikel waras. Penyakit "buntu" ini menjalar lebih jauh, merambat ke bilik-bilik imajinasi di platform cerita digital yang biasanya menjadi tempat pelarianku.

Ya, banyak yang mencibir bahwa itu "hanya fiksi". Mereka tidak tahu bahwa bagi seorang penulis, fiksi adalah rumah kedua yang sering kali lebih riuh daripada dunia nyata. Di sana, otak dan jemariku seharusnya menari, memintal benang-benang nasib untuk karakter-karakter yang hidup di kepala. Tapi belakangan ini, tarian itu terasa kaku. Kata-kata yang biasanya mengalir deras kini justru mengendap, menumpuk menjadi gumpalan sesak yang menghimpit dada.

Dunia literasi digital adalah panggung yang egois, dan aku menyadari itu sepenuhnya. Pembaca tidak akan pernah peduli apakah sang "Author" sedang meringkuk dalam kegelapan, terjebak dalam pusaran melankoli, atau sedang berdansa riang di bawah pelangi. Empati mereka sering kali habis di depan layar ponsel. Yang mereka haus hanyalah satu: bab baru. Mereka menanti asupan emosi untuk memuaskan rasa penasaran yang tak pernah kenyang. Itu adalah hukum alam yang brutal, namun anehnya, aku mencintainya. Ada kepuasan tersendiri saat menyadari mereka sedang menanti "hidangan" dariku, tanpa tahu bahwa di balik layar, aku tengah meracik menu penutup yang sanggup membuat mereka menangis darah.

Reaksi mereka adalah candu. Sungguh menggelitik melihat bagaimana mereka bisa berubah menjadi sekumpulan jiwa yang beringas; melontarkan sumpah serapah hingga hujatan tanpa henti saat aku menyajikan akhir yang tragis bagi tokoh utama kesayangan mereka.

Tapi di sisi lain, saat aku mencoba melunak dan membiarkan sang tokoh berjalan di atas jalan yang mulus, mereka justru meradang. Mereka seolah-olah menolak kedamaian.


"Kenapa tidak ada konflik?"

"Ini serius, alurnya sepi-sepi saja?"

"Masa tidak ada yang mati, sih?"


Suara-suara itu sangat familiar, terutama dalam genre angst atau dark fantasy yang sering kujadikan taman bermain. Ada kesenangan yang agak gelap saat aku berhasil mempermainkan emosi mereka—dan sering kali, emosiku sendiri ikut terseret ke dalamnya. Kadang aku menatap jemariku dan bertanya-tanya, apakah mereka terlalu kejam?

Aku sering kali merasa ngeri dengan keliaran imajinasiku sendiri saat menyusun skenario-skenario yang menyayat hati. Bahkan, aku kerap terkejut saat plot-plot yang muncul di layar justru melompat jauh di luar kerangka outline yang sudah kubuat dengan rapi. Seolah-olah karakter-karakter itu memberontak, menolak untuk bahagia, dan memilih jalannya sendiri menuju kehancuran.

Inilah seni dari fiksi. Sebuah ruang di mana kehancuran bisa menjadi sesuatu yang indah, dan air mata pembaca adalah medali kehormatan bagi penulisnya. Aku mencintai setiap detik saat aku tersesat dalam labirin pikiran sendiri, mencari cara paling puitis untuk mematahkan hati mereka yang setia menunggu.

Maret mungkin terasa lambat dan penuh sumbatan, tapi mungkin ini adalah cara mereka untuk memintaku menarik napas dalam-dalam. Menulis bukan sekadar tentang seberapa banyak kata yang berhasil diketik, melainkan tentang seberapa dalam makna yang berhasil ditanamkan. Biarlah Maret ini kututup dengan dua artikel saja. Tidak perlu terburu-buru, karena kualitas emosi tidak bisa dipaksa muncul dari hati yang sedang lelah.

Mari kita nikmati sisa hari di bulan Maret ini dengan tenang sebelum kita melompat ke April yang, kuharap, jauh lebih produktif. Aku sudah bisa membayangkan diriku kembali di depan layar, menyusun kalimat-kalimat puitis yang menyakitkan, dan bersiap menyambut kembali "hujatan" manis dari pembaca setiaku. Karena pada akhirnya, bagi seorang penulis seperti aku, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengar isak tangis pembaca di balik kata "Tamat".

Sampai jumpa di bulan April, dengan luka-luka imajinasi yang baru.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Menutup bulan dengan refleksi seperti ini kadang bikin lebih sadar sudah sejauh apa perjalanan kita. Hal-hal kecil yang dilewati ternyata punya makna juga kalau dipikir ulang

    BalasHapus