Deep Talk Soal Tauhid: Kenapa Kita Perlu 'Manja' sama Allah dalam Segala Hal?

 



Tauhid: Cinta Ugal-Ugalan dari Allah yang Sering Kita Lupain

Oke Bestie, di obrolan kita kali ini, gimana kalau kita ngebahas soal tauhid? Eits, saans kawan, aku janji nggak akan ngebahas ini pakai bahasa rumit yang bikin migrain dan mual. Hehe, kita akan bahas ini dengan bahasa tongkrongan yang santai dan asyik. Janji!

Well, sebelum masuk ke yang lebih jauh, kita samain dulu pemahaman kita soal tauhid yak. Jadi gini, secara bahasa, tauhid itu berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhiidan, yang artinya menjadikannya satu atau mengesakan. Dalam istilah syar'i, kayak yang sering dijelasin di portal Rumaysho atau Muslim.or.id, tauhid itu artinya mengesakan Allah dalam segala hal yang menjadi kekhususan bagi-Nya.

Nah, jadi kita sama-sama tahu nih kalau tauhid berarti nggak ada lagi yang lain. Secara kasarnya, kita tuh kayak dicintai secara ugal-ugalan sama Allah. Aw, aw, aw! Kita cuma boleh merengek sama Allah, minta sama Allah, manja-manjaan sama Allah, nggak boleh sama yang lain. Paham kan? Jadi secinta itu loh Allah sama kita, sampai kita boleh banget minta apa pun yang kita mau.


Minta Hal Remeh? Gas Pol!

Banyak dari kita yang merasa kalau mau doa itu harus nunggu momen besar atau pas lagi kena musibah berat doang. Padahal, Allah itu suka banget kalau hamba-Nya "berisik" minta apa saja. Even itu hal remeh-temeh sekalipun.

Seremeh saat kita lagi di mall terus dalam hati berdoa, "Ya Allah, semoga dapet parkiran yang deket pintu lobi dong." Atau, "Ya Allah, semoga lift-nya nggak penuh pagi ini." Sampai, "Ya Allah, semoga antriannya nggak panjang banget, lagi buru-buru soalnya."

Seremeh itu, Bestie! Inget nggak kalau ada hadis yang sering disebutin para ustadz sunnah tentang sahabat Nabi yang meminta bahkan untuk urusan tali sandal? Rasulullah ï·º bersabda:

"Hendaklah salah seorang dari kalian meminta kebutuhannya kepada Tuhannya, sampai pun dalam urusan tali sandalnya ketika putus." (HR. Tirmidzi).

Ini dalilnya kuat banget kalau Allah itu tempat kita bergantung dalam segala hal. Nggak ada yang terlalu kecil bagi Allah. Justru dengan meminta hal kecil, kita lagi ngebuktiin kalau kita ini lemah banget dan butuh Allah di setiap detik napas kita.


Konsep Dasar: The Big Three

Oke, sekarang kita masuk ke konsep dasar tauhid yak. Biar gampang mahaminnya, kita breakdown jadi tiga poin. Kayak materi kuliah atau kerjaan, kita bikin bagan biar gampang diinget. Seperti yang dijelaskan Ustaz Firanda atau dalam kitab-kitab di Almanhaj, tauhid dibagi jadi tiga:

1. Rububiyah

2. Uluhiyah

3. Asma’ wa Sifat

Yuk, kita bedah satu-satu biar makin paham!



1. Rububiyah: Allah Sang "Pencipta" Semesta

Apa sih Rububiyah tuh? Intinya ini berkaitan dengan perbuatan Allah itu sendiri. Di sini kita yakin seyakin-yakinnya bahwa dunia beserta isinya, langit, dan segala makhluknya itu ciptaan Allah. Allah itu Maha Pencipta (Al-Khaliq), Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq), dan Pengatur Alam Semesta (Al-Mudabbir).

Kita yakin kalau di alam semesta ini tidak ada zat lain selain Allah yang bisa menciptakan nyawa, mengatur kerumitan tata surya, sampai urusan rotasi planet yang presisinya gila-gilaan. Intinya, Rububiyah itu kita mengakui dulu kalau semua ini "milik" Allah. Nggak ada ceritanya alam semesta ini terjadi karena kebetulan atau ada "asisten" Tuhan yang bantu-bantu nyiptain matahari.

Berdasarkan Al-Qur'an, Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 54:

"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."

Rasulullah ï·º pernah bersabda kepada Ibnu Abbas RA:

"Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu..." (HR. Tirmidzi).


Ini artinya, kontrol total atas segala hal di dunia ini ada di tangan Allah. Jadi, jangan takut sama bos di kantor atau takut nggak makan esok hari, karena yang pegang kendali rezeki itu Allah, bukan manusia.


2. Uluhiyah: Fokus ke "Service" Kita

Nah, kalau Uluhiyah ini fokusnya ke hambanya, alias ke kita. Setelah kita yakin kalau Allah yang menciptakan semuanya (Rububiyah), sekarang kita fokus untuk bagaimana kita beribadah. Uluhiyah adalah cara kita untuk menyembah, berdoa, dan meminta hanya kepada Allah.

Di sini kita wajib mengesakan Allah dalam perbuatan kita sebagai hamba. Hanya beribadah untuk Allah, takut hanya kepada Allah, cinta paling tinggi hanya untuk Allah, dan meminta sesuatu cuma sama Allah. Bukan pada benda keramat, bukan pada kuburan, bukan pada jimat, atau perantara-perantara yang lain.

Kalau Rububiyah itu pengakuan, maka Uluhiyah itu pembuktian. Banyak orang zaman dulu (kaum musyrikin) percaya Allah yang ciptain langit (Rububiyah), tapi mereka masih minta ke patung (Gagal di Uluhiyah). Kita jangan sampai kayak gitu ya!

Berdasarkan Al-Qur'an, Surat Al-Fatihah ayat 5 yang kita baca minimal 17 kali sehari:

"Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan."

Rasulullah ï·º bersabda:

"Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (HR. Bukhari & Muslim).


3. Asma’ wa Sifat: Kenali Allah Lewat Nama-Nya

Nah, yang terakhir ini berarti pada nama-nama dan sifat Allah. Dari mana kita tahu? Dari Al-Qur'an dan hadis yang sahih, Bestie. Di sana ada nama-nama indah (Asmaul Husna) dan sifat-sifat yang agung.

Prinsipnya simpel: kita tetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan tentang nama dan sifat Allah, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk. Misalnya, Allah itu Al-Bashir (Maha Melihat). Penglihatan Allah nggak sama kayak mata manusia yang terbatas. Allah melihat semuanya tanpa butuh cahaya atau lensa.

Memahami Asma’ wa Sifat bikin kita makin cinta dan makin takut berbuat dosa. Bayangin kalau kita sadar Allah itu As-Sami’ (Maha Mendengar), kita pasti bakal mikir dua kali sebelum ngomongin orang (gibah) di tongkrongan.

Dalil Al-Qur'an, Surat Asy-Syura ayat 11:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Kenapa Sih Harus Dibagi Tiga?

Nah, gimana? Udah semakin paham belum soal konsep dasar tauhid ini? Semoga bisa nambah wawasan kita semua yak. Mungkin ada yang nanya, "Bukannya tauhid itu satu? Kok dibagi tiga?"

Tenang, ini bukan berarti Allah itu ada tiga (naudzubillah). Ini hanya metode para ulama untuk memudahkan cara kita memahami luasnya makna tauhid. Ya tahu sendiri kan, kapasitas otak manusia itu sangat terbatas. Sangat-sangat sedikit. Hanya Allah yang mengetahui segala yang ada di bumi dan langit secara sempurna.

Kita wajib belajar dan memang harus terus belajar karena ilmu yang kita miliki itu nggak lebih dari seujung kuku, Bestie! Ibaratnya, kalau air laut di seluruh dunia dijadiin tinta buat nulis ilmu Allah, air itu bakal habis duluan sebelum ilmu Allah selesai ditulis.

Berdasarkan Al-Qur'an tentang ilmu manusia, Surat Al-Isra ayat 85:

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."

Dan dalam Surat Al-Kahfi ayat 109:

"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku..."


Penutup: Yuk, Upgrade Iman!

So, mari kita sama-sama menuntut ilmu untuk bekal akhirat kelak. Tauhid itu fondasi. Kalau fondasinya kuat, mau diterjang badai ujian hidup segede apa pun, kita bakal tetep berdiri tegak karena kita tahu kita punya Allah yang Maha Segalanya.

Jangan bosen buat mampir ke web kayak Muslim.or.id atau dengerin kajian ustadz sunnah yang bahasannya lurus berdasarkan dalil. Biar tongkrongan kita nggak cuma bahas motor, game, atau drama doang, tapi juga ada "nutrisi" buat iman.

Semangat terus belajarnya, Bestie! Sampai ketemu di obrolan berikutnya yang nggak kalah seru. Stay cool and stay tawheed!


Lots of Love,


Resa—

Posting Komentar

0 Komentar