Pernah nggak sih, kamu ngerasa kalau musuh paling tangguh dalam hidup itu bukan bos yang galak atau drama kehidupan yang numpuk, tapi diri kamu sendiri? Menjadi diri sendiri itu kedengarannya simpel banget, ya. Tapi praktiknya? Rasanya kayak disuruh nanjak ke Semeru pakai sandal jepit.
Kadang hal sesimpel bilang "nggak" aja susahnya minta ampun. Di kepala sudah teriak-teriak nolak, tapi pas bibir kebuka, yang keluar malah, "Iya, boleh, aman kok." Habis itu, kita pulang, rebahan, terus natap langit-langit kamar sambil nanya ke diri sendiri: "Sebenarnya aku ini kenapa sih? Kenapa susah banget buat jujur sama kemauan sendiri?"
Ternyata, kejujuran yang paling mahal itu bukan jujur ke pasangan atau orang tua, tapi jujur ke cermin. Kita sering banget terjebak dalam "perang batin". Di saat itu, hati, otak, dan mulut seolah-olah punya ego masing-masing. Mereka kayak lagi main peran di sebuah drama yang nggak ada habisnya.
Coba bayangkan kalau mereka benar-benar punya suara. Mungkin begini gambaran riuhnya isi kepala kita saat lagi dipaksa keadaan.
Episode 1: Di Balik Senyum "I'm Okay"
Bayangkan kamu baru saja selesai menangis di kamar mandi karena tekanan yang nggak habis-habis, lalu keluar dan bertemu teman yang bertanya kabar.
Mulut: (Sambil senyum tipis yang dipaksakan) "Aku baik-baik saja, cuma kurang tidur dikit."
Otak: "Bohong banget! Kamu lelah! Aku sudah panas mikirin masalah ini terus. Ayolah, kita harus berhenti akting sebelum aku beneran shutdown karena stres!"
Hati: (Dengan suara bergetar) "Gimana kalau kita coba bertahan sekali lagi? Mungkin besok suasananya beda. Ayolah, satu hari lagi aja. Kita pasti bisa, kan?"
Otak: "Kebiasaan! Kamu selalu pakai kartu 'coba lagi'. Itu namanya bukan kuat, itu namanya menyiksa diri sendiri, Hati!"
Episode 2: Jebakan "Nggak Apa-Apa"
Pernah nggak kamu lagi kesal banget karena hak kamu diambil, tapi kamu milih diam biar suasana nggak canggung?
Mulut: "Oh, iya, nggak apa-apa kok. Pakai aja duluan, aku santai."
Otak: (Mulai mendidih) "Nggak apa-apa gimana?! Ini sudah kelewatan tahu! Harusnya kita protes, jangan cuma diam kayak patung. Nggak boleh dibiarin, nanti mereka makin ngelunjak! Mau sampai kapan kita jadi keset kaki orang lain, hah?"
Hati: "Sabar... tarik napas. Mungkin mereka nggak sengaja. Kasihan kalau kita marahin sekarang, nanti hubungan jadi rusak. Besok kalau kejadian lagi, baru kita tegur ya?"
Otak: "Woi, sadar! Ini sudah ke-29 kalinya kamu bilang gitu. Kamu itu hati apa sofa? Lembut banget sampai orang nyaman dudukinnya!"
Episode 3: Penolong yang Kelelahan
Situasi klasik: kamu sudah capek maksimal, tapi ada teman yang minta bantuan buat tugas yang sebenarnya dia bisa kerjain sendiri.
Mulut: "Oke, nanti aku bantu cek ya."
Otak: "Gila ya! Kenapa mikirin orang terus? Kapan mikirin diri sendiri? Tugas kita sendiri aja belum beres, ini malah mau nambah beban!"
Hati: "Nggak apa-apa, bantu dikit aja. Siapa tahu nanti dia juga bantu kita. Cuma kali ini aja, beneran."
Otak: "Halah! Kemarin-kemarin juga bilangnya gitu. Tapi faktanya? Ngalah lagi, dimanfaatin lagi. Tuh liat, lambung kamu mulai perih karena telat makan demi bantuin dia. Masih mau dipaksa terus?"
Episode 4: Kopi vs Kenyataan
Ini fase paling bahaya. Saat kamu stres, nggak nafsu makan, tapi terus-terusan asupan kafein.
Mulut: "Nggak lapar, masih kenyang."
Otak: "Kenyang dari mana?! Itu asam lambung sudah naik sampai ke kerongkongan gara-gara kamu stres mikirin omongan orang! Terus aja minum kopi hitam, jangan makan. Siap-siap aja nanti malam kita nongkrong di IGD!"
Hati: "Iya, nanti kalau perasaannya sudah enakan, kita makan kok. Janji."
Otak: "Alasan basi! Palingan habis ini kamu ke kasir lagi, bukan pesen nasi, tapi pesen extra shot espresso. Terusin aja, sampai kita semua angkat tangan!"
Kadang kalau dipikir-pikir, lucu ya kalau organ tubuh kita bisa saling protes begini. Mungkin telinga kita bakal berdenging terus gara-gara dengerin mereka berantem tiap detik.
Tapi jujur deh, capek nggak sih terus-terusan jadi penengah di antara mereka yang nggak pernah sinkron? Perang batin itu melelahkan karena peluru yang ditembakkan sebenarnya mengenai diri kita sendiri. Kita membangun benteng untuk orang lain, tapi malah mengurung diri sendiri di dalamnya sampai sesak napas.
Belajar jujur pada diri sendiri itu memang pahit di awal. Mengakui kalau kita lelah, mengakui kalau kita kecewa, atau berani bilang "nggak" itu rasanya kayak ngelepas topeng yang sudah nempel terlalu lama di kulit. Perih. Tapi, cuma itu satu-satunya cara supaya Otak, Hati, dan Mulut kita bisa berdamai.
Yuk, mulai sekarang, coba dengerin suara Otak yang minta istirahat. Coba dengerin Hati yang sebenarnya ingin dihargai. Jangan biarkan Mulut terus-terusan jadi tameng palsu yang bikin kamu makin jauh dari diri kamu yang sebenarnya. Karena pada akhirnya, orang yang paling berhak mendapatkan kejujuran kamu adalah dirimu sendiri.
Gimana, siap buat berhenti membohongi diri sendiri hari ini?
Lots of Love,
Resa—
.png)
40 Komentar
Hmmm kata kata yang perlu diperhatikan sih ini. Apalagi otak kita sendiri, terkadang apa yang disukai belum tentu otak kita mau. Perlu sinkron dengan minat dan otak yang bekerja.
BalasHapushmm, seringnya sih ngga enakan sama orang, tapi ya gitu deh... sama diri sendiri
HapusYa, emang sengaruh itu sih kalimat "Aku baik2 saja". Tampak beneran baik2 saja dari luar tapi menggerogoti kesehatan dari dalam
BalasHapusterlalu pipel pliser haha
HapusKonsep ketika organ tubuh bisa 'berbicara' ini unik dan menarik untuk dibayangkan. Kadang kita memang kurang memperhatikan sinyal dari tubuh sendiri. Dengan pendekatan seperti ini, jadi lebih mudah memahami pentingnya menjaga kesehatan
BalasHapussseru ya, ngga kebayang betaoa berisiknya hari-hari kit adengerin otak sama hati berantem mulu
HapusInsightfull banget ini, betapa pentingnya menyadari apa yang baik buat tubuh dan jiwa kita. Organ seperti otak dan jantung akan selaras dan sehat.
BalasHapusbetuull mbaaa
HapusWaah..sepertinya bbrp.percakapan organ di sini relate banget..bahkan mgkn terjadi jg di tubuh saya..haha.. Terima kasih yaa..jadi bahan pertimbangan nih utk bebar2 berusaha agar percakapan oegan kami sinkron semua..
BalasHapusmwehehe... awas mereka ngambek kak kalau ngga didengerin
HapusLucu banget sih idenya, beneran bikin senyum-senyum sendiri ngebayangin organ tubuh bisa protes kayak di drama gitu! Tapi memang ngena banget pesannya, kalau dipikir-pikir sering kali kita emang kurang perhatian sama tubuh sendiri sampai akhirnya mereka "teriak" lewat rasa sakit atau capek. Setuju banget kalau menjaga kesehatan itu sebenernya bentuk apresiasi paling dasar buat diri sendiri yang sudah diajak kerja keras seharian. Makasih ya sudah diingatkan lewat cara yang unik dan menghibur begini, jadi berasa ditegur halus buat mulai hidup lebih sehat lagi!
BalasHapusini sebenernya juga negur diri sendiri. wkwkwkwk mungkin begitu kali ya otakku kalau protes
HapusYang paling menarik, dramanya bukan sekadar imajinasi, tapi seperti cermin menunjukkan konflik batin manusia yang sering kita abaikan. Tubuh, pikiran, dan perasaan itu ternyata nggak selalu sejalan, dan di situlah letak dramanya.
BalasHapusbetul banget, kadang kita mengabaikan logika demi rasa "ngga enak"
HapusYa ampun. Aku tuh ikut bayangin kalau organ kita bisa protes lho. Otak memang nggak bisa ngomong. Tapi dia suka kasih sinyal yang selalu kita abaikan cuma untuk terlihat baik-baik saja. I am oke. fine.
BalasHapusProtesnya otak itu bahaya soalnya.
wkwkwkw awas dia ngembk mbak. bahaya kalo merajuk tuuh
HapusSeru juga bahasannya, bikin penasaran sekaligus ada pesan yang cukup ngena buat dipikirin lagi.
BalasHapuswaaah, makasiih kak
Hapusbagus banget kak, lebih bagus dijadiin animasi nih, hehe. ini krusial sih menurutku, untuk hal apapun ya apalagi soal kesehatan, yang namanya suara hati itu tuh jangan diabaikan, entah karena malas atau butuh validasi.
BalasHapusjujur sama diri sendiri udah yang bener sih, mulai belajar setting bounadries dan berhenti jadi people pleaure. mau sampai kapan? kasian kan tuh badannya, karena stress minum kopi mulu, atau mungkin kalau gak kopi, bakso sampai over.
Bukan cuman fisik sih yang kena, kesehatan mental jangka panjang juga bakalan kena.
buwetuuulllll
HapusNgikik banget tu di bagian otak nyindir hati selembut sofa sampai nyaman didudukin.
BalasHapusBiasanya yang gampang terjadi perdebatan internal begini di tipe orang yang peka dan mudah ga enakan ya.. kalau yang tipikal blak-blakan mah, mulutnya lemes aja ngikutin suara rasional hehehe
saiiaaa saiiiaaaa . gpp gpp teruuuusss tau-tau masuk igd. hahaha
HapusWah, ini relate banget sih 😄 Bener-bener ngerasa ‘ketampar halus’ pas baca bagian bilang ‘nggak’ tapi ujung-ujungnya tetap ‘iya’. Kayaknya hampir semua orang pernah ada di posisi itu. Cara penyampaiannya juga ringan tapi kena, apalagi analogi naik gunung pakai sandal jepit—langsung kebayang susahnya 😂
BalasHapuslebih ke nyiksa diri sedniri secara sadar. haha
HapusBaca ini, jadi ingat beberapa kali nonton animasi di mana organ kita saling bicara. Lucu, tapi bisa banget buat belajar. Aku lupa apa channelnya. Nanti kucek lagi deh
BalasHapusdolewaaak dolewaaak doooolewaaakk. hahaha
HapusCapek bgt tuh kak kalo hati dan otak ga sinkron. Mknya aku ga mau jd org ga enakan lagi. Lbh baik ga punya teman drpd kita disuruh/dipaksa pura2 saat kita lagi sedih/pgn sendiri. Hrs berani bilang NO jika hati ga sreg. Contohnya utang. Niatnya pgn ga ngutangin tp kok kasihan. Akhirnya tetap kasih pinjam tp hati ga enakan. Ujungnya, utang ga dibayar tuh ampe skrg.
BalasHapusKl skrg, ga mau lg deh. Kalo iyes ya iyes. Kalo no hrs berani bilang no. Stop jd org ga enakan lagi. Wkwk.
ajariii akuu ketuaaaaa
HapusTubuh kita memang paling jujur memberi sinyal saat ada sesuatu terjadi dii dalamnya.Betul banget,,,antara bagian tubuh kita saling terhubung. Dan kita menjadi pendengar yang baik untuk tubuh kita, tidak abai atau mengabaikan. Semoga sehat selalu
BalasHapusmakasih mbaaak. sehat selalu juga buat mbaak
HapusNgena banget itu apa yang disampaikan sama otak ke hati "kebiasaan coba lagi" Hehe.
BalasHapusSoalnya iya juga sih, adakalanya hati kepengen nyoba lagi sampe berhasil. Padahal otak kita sebenernya udah capek banget, pengen istirahat
udah hapal ya otaknya, tapi hati bandel haha
HapusEmm... sebenernya ada baiknya juga sih.. sering sering kontemplasi kayak gini..
BalasHapusAt least, kita jadi tau apa yang kita gak suka dan suka dari hasil "ngobrol" sama diri sendiri.
Jeleknya kalo hasil ngobrolnya gitu gitu aja.. hehehe..
Tapi ada juga kaan.. orang yang seneng karena bisa "membantu" orang lain.. meski "melahap" dirinya sendiri.. ((seperti llin))
aw awa aw... seperti lilin. aku tertampaaarrr
Hapuskadang memang ada orang yang saking nggak enakannya itu jadinya susah nolak dan selalu bilang nggak apa-apa ya padahal dirinya sudah tertekan banget. padahal kalau terus-terusan begitu beneran bikin kita jadi nggak baik-baik saja
BalasHapustetep weee denial aku ngga apa-apa padahal udah sampe masuk igd. wkwkwk
HapusUnik dan lucu nih mbak artikelnya, tapi membuatku tersadar ternyata akupun juga seperti itu ya hehehe, ga mudah ternyata jujur ma diri sendiri itu, padahal sudah menderita. Mencintai diri sendiri, jika bukan diri ini yang peduli dengan diri sendiri mau siapa lagi, yang lain juga ga bakalan peduli
BalasHapussini pelukan dulu kita mba, samaaa haha
Hapusbener lagi :( kadang hati dan otak gak sinkron dan mencoba baik baik saja padahal perlu dibenahi
BalasHapustapi tetep bandel kan ya haha
Hapus