"Kamu mah enak ya, nganggur... nggak ngapa-ngapain."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir seorang teman lama saat kami tidak sengaja bertemu. Ia mengatakannya sambil menghela napas panjang, merapikan kemeja kerjanya yang tampak sedikit kusut, lalu sibuk mengecek notifikasi ponselnya yang terus berbunyi. Aku hanya bisa tersenyum simpul, meski dalam hati rasanya ingin meledak.
Hayo, siapa yang telinganya sudah kebal atau mungkin justru masih sering panas mendengar kalimat sakti seperti itu? Aku yakin, banyak di antara kita yang pernah berada di posisi ini. Jujur saja, aku sering sekali diginiin. Awalnya? Wah, jangan ditanya lagi. Kesal banget! Rasanya ingin sekali aku berteriak, "Hah, nganggur? Enak aja! Memangnya kau tahu apa yang aku kerjakan setiap hari?"
Hanya karena aku tidak punya rutinitas pergi pagi pulang sore, hanya karena aku tidak memakai tanda pengenal perusahaan di leher, dan hanya karena aku tidak bisa menghasilkan nominal rupiah setiap bulan, orang-orang dengan begitu santainya melabeli hidupku dengan kata "nganggur". Seolah-olah, kalau tidak ada slip gaji di tangan, artinya kita tidak memiliki nilai sebagai manusia. Seolah-olah, kalau tidak sedang stres memikirkan target perusahaan, artinya kita sedang malas-malasan.
Tapi, setelah berkali-kali "dihantam" oleh stigma itu, aku mulai berhenti untuk membela diri. Aku justru mulai merenung sendirian di kamar, ditemani suara detak jam dinding. Hmm, sebenarnya "nganggur" itu apa sih? Apa iya, seseorang yang sedang tidak bekerja di kantor formal itu otomatis menjadi manusia yang "kosong"?
Pergeseran Makna "Nganggur" di Era Modern
Kalau kita bicara secara teoritis, nganggur memang berarti tidak memiliki pekerjaan. Namun, di era digital yang serba cepat ini, batasan itu sebenarnya sudah mulai kabur. Banyak orang terlihat di rumah, hanya bermodal daster atau kaos oblong, tapi otaknya terus berputar memikirkan ide, atau tangannya sibuk mengelola hal-hal yang tidak terlihat oleh mata awam.
Namun, stigma sosial kita memang masih tertinggal di masa lalu. Kita masih mengagungkan "kesibukan" sebagai simbol kesuksesan. Kalau kamu tidak sibuk, berarti kamu tidak produktif. Kalau kamu tidak produktif, berarti kamu nganggur. Padahal, sering kali kita terjebak dalam "kesibukan yang sia-sia"—sibuk lari sana-sini tapi tidak tahu tujuannya ke mana.
Di situlah aku mulai mengubah pola pikirku. Alih-alih merasa terhina dengan kata "nganggur", aku mulai membedah apa yang sebenarnya aku miliki sekarang, yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang setiap hari mengeluh di balik meja kantor.
Alasan Mengapa Aku Bersyukur Bisa "Nganggur"
Sekarang, aku memilih untuk bersyukur. Benar-benar bersyukur. Walaupun aku tidak punya pendapatan tetap setiap bulan yang mengalir ke rekening dari tangan atasan, aku sadar bahwa aku tidak benar-benar nganggur dalam arti yang negatif. Aku hanya sedang "bekerja" untuk diriku sendiri, untuk kesehatanku, dan untuk ketenangan jiwaku.
Pertama, aku bersyukur karena memiliki kontrol atas langkahku sendiri.
Alhamdulillah aku "nganggur". Di saat banyak orang harus berjibaku dengan kemacetan yang gila di pagi hari, berdesakan di transportasi umum, atau terburu-buru mengejar absen kantor agar tidak kena potong gaji, aku bisa bangun dengan perasaan tenang. Aku bisa berjalan santai di bawah sinar matahari pagi, menikmati udara yang masih segar, dan memenuhi target 4.000 langkah harianku tanpa rasa was-was. Aku tidak sedang mengejar waktu; aku sedang menikmati waktu. Tubuhku bergerak bukan karena tuntutan, tapi karena aku peduli pada kesehatan diriku sendiri.
Kedua, aku bersyukur karena bisa menjadi "tuan" atas waktuku.
Bersyukur aku nganggur, karena saat banyak teman-temanku sedang pusing melihat tumpukan dokumen yang tidak ada habisnya atau menghadapi rapat yang melelahkan, aku bisa duduk tenang di sudut kedai kopi favoritku. Menikmati segelas Japanese Ice dingin dengan perlahan. Merasakan sensasi kopi yang masuk ke tenggorokan tanpa harus sesekali melirik jam tangan karena takut telat masuk jam istirahat. Aku bisa memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang, melihat hiruk-pikuk dunia dari kejauhan, dan merasakan sebuah ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan gaji bulanan mana pun.
Ketiga, aku bersyukur atas kebebasan tanpa birokrasi.
Hayo, seberapa sering kamu mendengar keluhan tentang sulitnya mengajukan izin cuti? Harus lewat atasan ini-itu, harus memastikan tidak ada deadline yang bentrok, atau bahkan harus tetap membawa laptop saat liburan. Nah, di sinilah letak kemewahanku. Aku bisa leluasa mengambil waktu libur kapan pun aku butuh "bernapas" sejenak. Aku bisa pergi tanpa harus memikirkan tumpukan pesan WhatsApp dari grup kantor yang menuntut balasan segera. Liburku adalah libur yang sesungguhnya.
Keempat, aku bersyukur karena kreativitas tidak harus terburu-buru.
Saat mereka kehilangan waktu luang karena energi sudah terkuras habis untuk pekerjaan rutin, aku justru punya ruang yang luas untuk berkarya. Aku bisa bersantai menulis, merangkai kata demi kata, mencari inspirasi dari hal-hal kecil di sekitarku, tanpa harus terburu-buru. Menulis bagiku bukan lagi tugas, tapi sebuah cara untuk mengenali diri sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau pikiranku sedang lapang, bukan sedang disesaki oleh target-target kuartalan.
Mengubah Stigma Menjadi Kekuatan
Jadi, ketika sekarang ada yang berkata, "Kamu mah enak nganggur...", aku tidak lagi merasa marah. Aku justru akan menjawab dalam hati, "Ya, aku memang sangat enak." Tapi "enak" yang aku rasakan bukan berarti aku bermalas-malasan tanpa arah. Aku sedang belajar untuk mandiri, belajar untuk mengenal apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidup, bukan apa yang diinginkan dunia dariku.
Aku menyadari bahwa "nganggur" itu sebenarnya adalah sebuah fase inkubasi. Sebuah waktu jeda di mana kita bisa menata ulang apa yang berantakan, menyembuhkan apa yang luka, dan mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar. Banyak orang takut dengan jeda ini karena mereka takut dianggap tidak berguna oleh lingkungan. Padahal, terkadang kita butuh berhenti sejenak untuk bisa melompat lebih jauh.
Sekarang aku mengerti, pendapatan tetap itu memang penting, tapi kedamaian tetap itu jauh lebih mewah. Banyak orang punya pendapatan yang besar, tapi mereka tidak punya waktu bahkan hanya untuk sekadar menikmati kopi di pagi hari dengan tenang. Mereka punya uang untuk liburan, tapi tidak punya pikiran yang bebas dari pekerjaan saat berada di tempat libur tersebut.
Bersyukur pada Pilihan Hidup
Pada akhirnya, "nganggur" atau tidak itu hanyalah masalah perspektif. Kalau dunia melabeliku sebagai pengangguran karena aku tidak terikat pada struktur kantor tradisional, maka aku akan dengan bangga menerima label itu sebagai tanda bahwa aku telah berhasil memenangkan kembali waktuku.
Aku bersyukur aku "nganggur", kata mereka. Karena lewat label itulah, aku justru belajar tentang arti syukur yang sesungguhnya. Aku belajar bahwa produktivitas tidak selalu harus diukur dengan uang, tapi bisa diukur dengan seberapa banyak kedamaian yang kita rasakan dalam menjalani hari-hari kita.
Jadi, untuk kamu yang mungkin sedang berada di fase yang sama denganku—fase di mana orang-orang memandang sebelah mata karena kamu belum memiliki "pekerjaan tetap"—jangan berkecil hati. Nikmatilah setiap detik "nganggurmu". Jalani langkah-langkah santaimu, nikmati kopi dinginmu, dan teruslah menulis atau melakukan apa pun yang kamu sukai. Dunia mungkin tidak melihat apa yang kamu kerjakan, tapi jiwamu akan merasakan pertumbuhannya.
Karena terkadang, menjadi "pengangguran" di mata dunia adalah langkah awal untuk menjadi "pengusaha" atas hidupmu sendiri. Bersyukur aku "nganggur", kata mereka. Dan aku, tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya.
Lots of Love,
Resa—
.png)
8 Komentar
Tulisan ini benar-benar menampar stigma tentang “nganggur” yang selama ini kita telan mentah-mentah. Cara penulis mengemas pengalaman personal menjadi refleksi hidup terasa jujur dan dekat dengan realitas banyak orang hari ini. Di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, artikel ini justru mengingatkan bahwa jeda, ketenangan, dan kebebasan memilih hidup juga bentuk produktivitas. Bacaan yang menenangkan sekaligus membuka perspektif baru. Terima kasih sudah menuliskannya.
BalasHapusaaahhh terima kasih. hahaha emang kalau nulisnya plus curhat itu feelnya dapet banget yak. mwehehehe
HapusKadang orang menilai dari yang terlihat. Padahal rezeki dan kerja itu nggak selalu pakai seragam dan jam kantor.
BalasHapusBahkan Ibu Rumah Tangga sekalipun jam kerja nya 24 jam, enak aja dibilang nganggur 😁
Kadang tuh kalau ada yang suka njulid ibu² nganggur tuh kesel banget. Tapi kalau dipikir² rasanya ya inget orang bilang, "salah satu cara produktif adalah menjadi tidak produktif".
BalasHapusCuma kadang² agak berhati² juga saya ketika menerapkan cara ini. Takut validasinya jadi bablas. Namun, jika itu untuk menghibur diri itu bagus juga.. 🥰🥰
Terlihat nganggur di indo kayanya dibilang gak guna. Apalagi di kampung-kampung, lebih parah lagi. Yang penting tetap semangat dan waras aja.
BalasHapusDulu, saat nganggur aku seringkali merasa rendah, karena orang-orang juga seolah menganggapku sedang terpuruk atau semacamnya. Padahal saat nganggur, aku malah merasa diriku paling produktif melakukan kegiatan yang benar-benar aku cintai, bukan yang aku lakukan karena uang. Aku menyelesaikan beberapa novel dan cerpen karya sendiri, melakukan berbagai workout, sekadar jalan santai, bahkan aku membuat blog saat nganggur.
BalasHapusJadi ... apakah nganggur itu benar-benar negatif? Sama sekali tidak. Dan postingan ini semakin menyadarkanku akan hal itu ^^
Sayangnya, nggak semua orang punya priviledge untuk menganggur. Ada beberapa yang tetap harus menjadi tulang punggung dan bekerja demi menghidupi sekeliling mereka yang tak punya siapapun selain kita.
BalasHapusDan mereka hanya berusaha untuk tetap menikmati kopi pagi mereka demi bisa tetap waras meski rasanya tak karuan setiap duduk di meja kopi—pun mereka tetap harus sibuk di tengah liburan untuk pendapatan yang tidak seberapa asalkan bisa tetap menutup nafkah yang seharusnya bukan jadi kewajibannya.
Semangat, akuuuuu ❤️
Setelah saya nganggur, justru saya bisa memiliki banyak waktu untuk traveling, mengerjakan hobi, dan bersama keluarga... Alhamdulillah walau nganggur, saya tetap mendapat penghasilan. Bukan besar atau kecilnya karena menurut saya yang penting berkah dan kemanfaatan nya
BalasHapus