Distopia Rasa: Catatan Seorang Penulis Spesialis Sad Ending

 


Halo, Bestie! Pernah nggak sih kamu merasa kalau dunia nyata itu kadang terlalu berisik, sampai-sampai kamu butuh pelarian yang nggak biasa? Nah, di sinilah aku mau berbagi sedikit cerita tentang "dapur" seorang penulis yang mungkin selera humornya agak sedikit... gelap.

Coba deh aku tanya, siapa di sini yang hobi banget menyelam dalam dunia fiksi? Dunia yang isinya kadang nggak masuk akal tapi entah kenapa terasa begitu nyata saat kita baca di pojokan kamar sambil pakai earphone. Genrenya macam-macam, kan? Ada yang suka manisnya romance, tenangnya slice of life, singkatnya one-shot, sampai yang bikin deg-degan kayak thriller atau dark fantasy. Tapi, ada satu hal yang selalu jadi perdebatan abadi di kalangan pembaca: tim happy ending atau tim sad ending?

Jujur saja, mayoritas orang pasti mencari pelangi setelah badai. Mereka ingin melihat tokoh utamanya tersenyum, menikah, atau setidaknya menemukan kedamaian. Tapi, tahu nggak sih? Ternyata ada sekelompok orang—dan jumlahnya nggak sedikit—yang justru memuja kehancuran. Mereka mencari akhir yang kacau, hancur lebur, dan meninggalkan rasa hampa yang membekas di ulu hati bahkan setelah bukunya ditutup.

Dan ya, aku harus mengaku... aku adalah salah satu "arsitek" di balik cerita-cerita menyakitkan itu.



Awal Mula Sebuah "Tempat Sampah"

Semuanya berawal dari kepala yang bising. Kamu tahu kan rasanya saat pikiran penuh sesak tapi nggak tahu mau tumpah ke mana? Akhirnya, aku mulai menulis. Awalnya simpel saja: aku cuma ingin membuang semua "sampah" emosional yang menumpuk. Aku sama sekali nggak berekspektasi ada yang mau melirik cerita yang, menurutku, sangat tidak menarik dan mungkin terlalu suram untuk selera pasar.

Tapi, kejutan besar datang saat bab demi bab mulai kuunggah. Aku tersentak. Kok, responnya malah ramai banget?

Waktu awal-awal berkarya, kolom komentarku itu isinya macam-macam, tapi didominasi oleh hujatan manis dari para pembaca. Mereka marah, gemas, bahkan sampai menyumpah serapah saat melihat karakter utamaku nggak mendapatkan apa yang dia impikan. Mereka protes, kenapa hidup tokoh favorit mereka harus sekacau itu? Ya, bukankah hidup di dunia nyata juga nggak selamanya mulus seperti jalan tol yang baru diaspal?

Beberapa pembaca bahkan ada yang sampai "menerorku" lewat DM, memohon-mohon supaya aku mengubah alur. Mereka ingin aku menghadirkan mentari pagi yang hangat untuk si tokoh utama. Tapi maaf saja, Bestie... aku bukan tipe penulis yang bisa disuap dengan air mata pembaca. Aku nggak bisa mengubah alur cuma untuk memuaskan rasa lapar pembaca akan akhir yang bahagia jika memang takdir si tokoh sudah tertulis di kegelapan.



Menagih Rasa Sakit

Seiring berjalannya waktu, ada fenomena lucu yang terjadi. Aku mulai menemukan pola tulisanku, dan para pembaca pun mulai hafal dengan "warna" ceritaku. Lucunya, mereka yang dulu marah-marah, sekarang malah seolah ketagihan rasa sakit. Yang tadinya menghujat karena tokohnya menderita, sekarang malah menagih konflik yang lebih perih lagi.

"Thor, kurang sakit ini, bikin mereka lebih hancur dong!" atau "Aku siap nangis lagi hari ini," begitu kira-kira bunyi komentar mereka sekarang.

Aneh, ya? Tapi aku sadar satu hal. Ternyata, aku dan pembacaku itu setipe. Kita semua punya "sampah" masing-masing. Akhir cerita yang membuat hati retak itu sebenarnya berfungsi seperti katalis. Pembaca nggak perlu alasan logis untuk menangis setelah seharian pura-pura kuat di dunia nyata.

Coba bayangkan, mereka yang seharian suntuk dengan tekanan pekerjaan, lelah dengan tumpukan tugas sekolah yang nggak ada habisnya, pusing dengan revisi penelitian, atau capek mengurus urusan rumah tangga yang repetitif... mereka butuh tempat untuk tumpah.

Mereka butuh pelampiasan tanpa harus merasa lemah di depan orang yang mereka kenal. Karyaku adalah jembatan bagi mereka untuk membuang semua beban itu. Menangisi nasib tokoh fiksi jauh lebih mudah daripada harus menjelaskan kenapa mereka ingin menangis karena hidup mereka sendiri.



Dilema Sang Spesialis Luka

Tapi jangan salah, menjadi penulis spesialis sad ending itu nggak semudah membalik telapak tangan. Kadang, aku sendiri harus berhenti di tengah-tengah proses menulis hanya untuk... mencari luka. Kedengarannya gila, ya? Orang lain berlomba-lomba mencari kebahagiaan, aku malah sengaja mencari kesedihan untuk dimasukkan ke dalam paragraf.

Ada perasaan aneh seolah-olah karakterku itu akan "mati" secara naratif jika dia nggak menemukan luka yang tepat. Luka itu adalah bahan bakar mereka untuk tetap hidup dalam ingatan pembaca. Namun, masalahnya adalah saat ini aku benar-benar sedang terjebak. Aku stuck di bab sepuluh, dan rasanya nggak bisa bergerak sama sekali.

Plot yang kubuat sendiri ternyata terlalu rumit untuk diselesaikan dengan mudah. Aku seperti sedang mencari masalah di tengah hidupku yang sebenarnya lagi tenang-tenangnya—seperti permukaan danau di pagi hari yang nggak ada riaknya sama sekali. Di saat pembacaku sudah berteriak di kolom komentar meminta konflik, meminta darah dan air mata, aku malah kehilangan "rasa sakit" itu.

Aku masih berkutat dalam adegan-adegan yang terasa terlalu manis. Seolah-olah jemariku menolak untuk menarik karakter kesayanganku ini ke dalam jurang penderitaan. Apakah ini tandanya aku mulai melunak?



Kedamaian Sebelum Badai

Baiklah, Bestie, mari kita sepakati satu hal. Aku akan membiarkan mereka bahagia sedikit lebih lama. Aku akan memberikan mereka waktu untuk menghirup udara segar, menikmati senyum, dan merasakan hangatnya pelukan sebelum nanti aku buat mereka hancur berkeping-keping di akhir cerita.

"Nikmati bahagiamu, karakter kesayanganku," bisikku dalam hati. Kali ini aku sedang berbaik hati. Atau mungkin, ini sebenarnya alam bawah sadarku yang mulai lelah menyiksamu secara berlebihan. Hahaha.

Tapi jujur, aku sedang bingung. Di mana ya, rasa sakit itu pergi? Aku benar-benar kehilangan jejaknya saat ini. Waduh! Kalau begini terus, mungkinkah ceritaku kali ini bakal berakhir dengan happy ending?

Entahlah. Kadang, sebagai penulis pun, aku sendiri sering dikejutkan oleh bagaimana karakterku memilih jalannya sendiri. Tapi buat kamu yang sudah siap dengan tisu di tangan, bersabarlah. Karena biasanya, sebelum badai yang paling dahsyat datang, cuaca akan terasa sangat tenang dan damai. Dan saat kehancuran itu tiba, aku pastikan kamu akan merasakannya sampai ke tulang.

Sampai ketemu di bab selanjutnya, Bestie! Siapkan hati, karena perjalanannya masih panjang.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Nuansa distopia yang disampaikan terasa dalam dan agak bikin mikir lama setelah dibaca. Aku suka tulisan seperti ini karena mengajak melihat realita dari sudut pandang yang berbeda, meskipun terasa sedikit gelap tapi tetap punya makna

    BalasHapus