Misteri Plastik di Pagar: Begini Rasanya Punya Tetangga Introvert yang Hobi Berbagi Tanpa Bicara

 


Aku punya satu rahasia kecil tentang rumahku yang mungkin buat orang lain terdengar agak aneh, atau bahkan sedikit "dingin". Tapi buatku? Ini adalah surga dunia yang paling menenangkan. Pernah nggak sih bayangin tinggal di sebuah lingkungan yang isinya—percayalah, ini beneran—hampir semuanya adalah kaum introvert? Lucu ya? Kedengarannya kayak adegan di film-film yang sepi sunyi, tapi aslinya, dinamika di sini justru seru banget dengan caranya sendiri.

Semuanya bermula di akhir tahun 2018. Waktu itu, tiba-tiba saja suami kasih kejutan yang nggak pernah aku sangka sebelumnya. Sebuah kado berupa tempat tinggal. Rumahnya sederhana, letaknya di pinggir kota dalam sebuah kawasan perumahan yang sebenarnya cukup luas. Bayangkan saja, total hunian di sana mencapai hampir 200 rumah. Luas banget, kan? Tapi ada satu permintaanku waktu itu: aku mau kita tinggal di blok yang baru dibuka saja.

Satu hal yang bikin aku langsung jatuh cinta sama area ini adalah desain jalannya. Di sini nggak ada sistem blok huruf kayak perumahan pada umumnya. Alamat kami pakai nama jalan. Dan yang paling juara, nggak ada jalan tembus sama sekali. Setiap jalan itu buntu atau istilah kerennya cul-de-sac. Buat sebagian orang mungkin repot, tapi buat orang kayak aku, ini adalah definisi keamanan dan kenyamanan yang hakiki. Nggak ada kendaraan asing yang iseng lewat atau orang hilir mudik depan rumah, kecuali emang penghuni asli atau tamu yang memang niat berkunjung.

Akhirnya, tahun 2020 kami resmi menempati rumah itu. Waktu pertama kali pindah, tetangganya baru ada empat rumah. Dan entah ini kebetulan atau memang sudah takdirnya dikumpulin sama Tuhan, ternyata kami semua seumuran! Dan yang paling penting: kami semua introvert parah.

Awalnya aku sempat mikir, "Bakal kaku nggak ya tetanggaannya?" Eh, ternyata malah sebaliknya. Kita semua satu frekuensi dalam hal "menghargai ruang pribadi". Di sini, nggak ada tuh budaya berdiri lama-lama di depan pagar cuma buat ngobrolin harga cabai atau gosipin tetangga ujung jalan. Nggak ada drama lirik-lirik sinis lewat jendela kalau ada orang lewat. Komunikasi kami? 99% dilakukan via WhatsApp. Kalau ada apa-apa, jari yang bergerak, bukan pita suara. Rasanya bener-bener damai karena masing-masing dari kami tahu rasanya pengen "sendiri" tapi tetap pengen punya hubungan yang baik.

Berjalan beberapa tahun, nggak terasa jalan depan rumahku sekarang sudah penuh. Penghuninya sudah lengkap, rumah-rumah sudah berjejer rapi. Dan ajaibnya lagi, aura introvert itu menular atau mungkin memang menarik orang-orang yang setipe. Tetangga baru yang datang pun ternyata punya sifat yang sama: sama-sama introvert dan—ini yang paling penting—sama-sama nggak enakan kalau harus merepotkan orang lain secara langsung.


Nah, di sinilah babak serunya dimulai.

 

Kamu tahu nggak, apa olahraga paling ekstrem di komplekku? Bukan lari maraton atau zumba di lapangan, tapi "Cek CCTV". Kenapa? Karena di sini sering banget ada "kejadian misterius" di pagi hari. Sering kali pas buka pintu atau mau keluar rumah, tiba-tiba sudah ada bungkusan makanan, jajanan pasar, atau sayuran yang tergantung manis di pagar rumah. Dan yang bikin gemas, kita nggak tahu itu dari siapa!

Nggak ada ketukan pintu, nggak ada teriakan "Permisi, paket!", apalagi sesi serah terima jabatan piring yang penuh basa-basi. Semuanya pakai sistem silent delivery. Kita semua kompak begitu. Kalau mau ngasih sesuatu, ya udah, tinggal cantolin aja di pagar terus pergi. Makanya, kalau sudah nemu plastik misterius, biasanya kami bakal kumpul di grup WhatsApp atau masing-masing sibuk buka rekaman CCTV cuma buat nyari tahu, "Ini tadi siapa ya yang baik banget nyantolin makanan?"

Buatku, ini seru sekaligus mengharukan. Kenapa? Karena kita semua murni pengen berbagi tanpa mengharap imbalan instan atau ucapan terima kasih yang berlebihan. Aku pernah dengar cerita dari seorang teman yang tinggal di lingkungan yang "super sosial". Dia bilang, di sana kalau ada yang kasih makanan, itu jadi beban mental. Kalau nggak dibalas dengan makanan yang setimpal harganya, atau kalau piringnya dibalikin dalam keadaan kosong, bisa-bisa jadi bahan ghibah satu RT. Ngeri banget, kan?

Alhamdulillah, Tuhan jauhkan kami dari drama-drama kayak gitu. Di sini, filosofinya bukan "siapa kasih apa", tapi "apa yang aku punya, itu yang aku bagi". Kami nggak pernah sengaja beli sesuatu yang mewah atau mahal cuma buat pamer atau "nyogok" tetangga. Bener-bener seadanya yang ada di dapur atau hasil panen kecil-kecilan.

Percaya nggak, sesimpel aku pernah dapet potongan buah nangka yang baunya harum banget, ditaruh dalam plastik bening. Terus pernah juga dapet buah ciplukan. Iya, ciplukan! Tanaman liar yang kalau di desa mungkin dianggap biasa, tapi di sini rasanya jadi kayak dapet harta karun karena jarang ada. Rasanya manis-manis unik gimana gitu.

Pernah juga di suatu pagi, pagarku dihiasi sama seikat pakcoy segar, jagung mentah yang masih ada kulitnya, sampai jambu merah yang kelihatannya baru dipetik. Nggak ada catatan, nggak ada pesan singkat. Cuma ada rasa hangat yang menjalar di hati pas lihat pemberian tulus itu.

Bahkan pagi ini, pas aku baru bangun dan mau menghirup udara segar, eh, sudah ada lagi kiriman misterius. Isinya keripik tempe renyah sama bakpao instan yang siap dikukus buat sarapan. Pas banget kan? Sambil nulis cerita ini ke kamu, aku dan suami sebenarnya masih dalam misi rahasia: lagi scroll rekaman CCTV buat nyari tahu siapa oknum baik hati yang tadi subuh-subuh nyantolin plastik itu ke pagar kami.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Orang bilang introvert itu anti-sosial, tapi di lingkunganku, introvert itu artinya peduli tanpa berisik. Kita nggak butuh obrolan berjam-jam untuk menunjukkan kalau kita saling menjaga. Cukup dengan satu plastik yang tergantung di pagar, kita sudah tahu kalau kita nggak sendirian di sini.

Ternyata, hidup bertetangga itu nggak selamanya harus diisi dengan riuh rendah suara obrolan. Kadang-kadang, kesunyian yang diisi dengan keikhlasan kecil seperti ini justru jauh lebih menenangkan jiwa. Aku bener-benar bersyukur bisa tinggal di sini, di komplek buntu yang isinya orang-orang "pendiam" tapi hatinya seluas lapangan bola.

Jadi, kalau nanti kamu mampir ke rumahku dan lihat banyak plastik gelantungan di pagar, jangan bingung ya. Itu bukan sampah, itu adalah tanda cinta dari tetangga-tetanggaku yang nggak jago ngomong, tapi jago banget bikin orang lain senyum pagi-pagi.


Lots of Love,


Resa—


Posting Komentar

32 Komentar

  1. Mending gitu sih. Ah, indahnya kalau sesama introvert bertetangga. kehidupan bertetangga jadi damai gitu. Mau kasih apa, bisa sesuka hati. Tanpa mengharap apapun, bahkan sekedar ucapaan terima kasih. Yang ngasih enak. Yang nerima juga nyaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. seru banget mba yuni. tapi ya itu, harus rajin-rajin ngecek cctv wkwkw

      Hapus
  2. Aku sebenernya extrovert kak, cuman tetanggaku sudah pada berumur wkwkw, yang sepantaran aku gaada. Btw karna aku beli rumah omku, jadi perumahannya itu dah perumahan lama tahun 2013 perumahan khusus tentara, tapi dijadikan perumahan bersama gitu. Jadi kebanyakan dah pada berumur wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mba, di tempatku tuh yang blok depan para senior, hihi. yang belakang bocah semua haha

      Hapus
  3. Kak, sisi negatif introvert juga ada loh. Itu kebetulan intovert yang pada baik hati dan sepertinya berpendidikan. Soalnya, aku punya pengalaman bersama orang introvert yang toxic nya seperti bisa ular.
    Jujur, sikapnya membekas melebihi bentakan orang extrovert loh.
    1. Kalau dia nggak suka sama sikapku, dia menggunakan kata2 sindiran yang sangat menyakitkan.
    2. Pernah dia mungkin nggak sengaja nendang bola, tapi malah kena muka aku. Dia malah melengos, gak ada basa basi.
    3. Pernah aku nimbrung, terus aku bicara, entah apa alasannya mungkin dia kurang bisa nanggepin, reaksinya malah tatap-tatapan sama lawan bicara sebelahnya.
    4. Saking introvertnya, aku pernah nanya dia beli baju di mana. Soalnya dia habis beli baju lumayan bagus. Aku nanya biasa aja padahal, dia nggak jawab samsek.

    Kenapa aku bisa bilang dia introvert? Karena emang se-menyendiri itu. Tapi sekalinya komunikasi, sangat awkward, dan bahkan banyak kata-kata menyakitkan. Karena sepertinya dia bawaannya su'udzon mulu, nganggap semua orang itu punya niat buruk ke dia, dll.

    Hmmm.. Introvert ada yang baik ada yang jahat sih. Jujur aku nemu 2 orang selama hidup aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kak itu sepertinya ngga introvert deh, tapi avoidant sengak! hahaha...

      Hapus
  4. Tapi saya lebih suka lingkungan perumahannya sih, daripada ngomongin introvertnya hehehe. Kondusif banget ini untuk menua bersama ya, tetangga pada baik, gak hiruk pikuk juga....,

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, alhamdulillah dapet yang sesuai. ngga ada yang bising nyalain musik keras-keras pula.

      Hapus
  5. Wah ternyata ada “misteri kecil” yang sering banget kelihatan tapi jarang kepikiran alasannya 😆 Aku malah baru ngeh kalau plastik di pagar bisa punya fungsi tertentu dan bukan sekadar asal pasang. Hal simpel gini kadang emang bikin penasaran pas udah tahu ceritanya.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah Kak, di tempatku juga gitu. Perumahan baru, orangnya masih sedikit. Tiba-tiba ada yang cantolin terong, pernah pisang, nasi kotak, keripik tempe, pete dll. Jadi kayak tebak-tebak, ini dari siapa ya. Sambil bersyukur, mendoakan kebaikannya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. seru banget yak. berasa di surprise-in tiap hari hihihi

      Hapus
  7. Wah bikin iri aja ini tetangganya, Mbak. Kalau di komplekku malah aku nggak terlalu akrab sih sama tetangga mungkin karena aku kerja jadi ya jarang bergaul deh sama tetangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngga apa-apa mbaa, dulu aku pas kerja juga ngg akenal nam atetangga. sampe sekrang pun masih suka lupa hihihi

      Hapus
  8. MasyaAllah ini bukan hanya cerita tentang bertetangga yang baik, tapi cerita tentang betapa ketenangan sebuah komunitas bisa jauh lebih bermakna dari keramaian yang penuh drama.
    Beruntung banget ditemukan dengan orang-orang yang sefrekuensi begini.

    BalasHapus
  9. Lingkungan rumah yang saling mendukung ini nih nilai positifnya. Kalau pun ada yang introvert gak masalah sih yang penting bisa jaga hubungan bertetangga dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. introvert ngga bukan berarti ansos kok, cuma cepet capek aja kalo rame, wekekek

      Hapus
  10. Komunikasi bertetangga yang sudah pindah media, dari komunikasi langsung ke komunikasi melalui media seperti whatsapp. Tak bisa dipungkiri seperti inilah pola komunikasi di masa kini. Di komplek perumahan saya juga begini mbak, lebih banyak komunikasi di wa, tapi tetap ada acara² yang membuat kita bertatap muka langsung seperti pengajian ibu² di komplek atau olah raga bareng di pagi hari. Itu saja kegiatannya. Meski sebentar dan lebih banyak berkomunikasi di wa tapi kita kenal semuanya tetangga di kompleks.

    Pola komunikasi silent begini memang cocok untuk orang introvert.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, jalan santai wajib sih tiap 17an hehehe

      Hapus
  11. Konsep lingkungan yang mayoritas introvert itu unik banget dan jarang diceritakan. Justru menarik karena suasananya pasti berbeda dengan perumahan yang super ramai atau penuh aktivitas sosial. Kadang ketenangan seperti itu memang terasa lebih nyaman dan bikin rumah benar-benar jadi tempat pulang yang menenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kak, terhindar dari tetangga yang suka nyalain musik kenceng-kenceng, hehehe

      Hapus
  12. Kok aku kebayang dan rasanya suka juga tinggal di lingkungan kaya gitu. Gak harus basa basi. Mau ngasih, cantolin aja. Gampang. Punya Tetangga kaya gitu, katanya rezeki juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah nyaman mbaaa. ngga ada yang nyalain musik kuenceng, ngga ada yang jadi basecamp nongromng ampe jam 2 pagi, ngga ada yang teriak-teriak ngakak di pinggir jalan.

      Hapus
  13. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimush shalihat.
    Ikut berbahagia karena mendapat lingkungan rumah yang aman dan nyaman. Karena lingkungan ini penting banget untuk tempat bertumbuh, jadi pinginnya memang dapet lingkungan yang shalih, mengajak pada kebaikan, dan salah satunya seperti ini.. mengirimkan makanan diam-diam tanpa harus disebut siapa... ini seperti saling mendoakan sesama muslim yaa..

    Barakallahu fiik, semoga ukhuwah islamiyahnya terus terjaga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah biidznillah allah kasih semuanya mudah mba.
      wa fiik barakallah

      Hapus
  14. Seru banget yaa aku selalu memimpikan relasi yang demikian, tetangga tuh begini.. masyaalloh bahagia selalu ya disana.. berbagi tanpa pamrih tanpa menghakimi tanpa apapun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin aamiin.... jazakillahu khair doanya mba

      Hapus
  15. yaaaahh padahal aku suka nongkrong di pagar rumahmu lohhhhh, seru soalnya dapet galon wkwkwk

    BalasHapus
  16. Masyallah, punya tetangga introvert dan baik hati, gak minta imbalan apalagi validasi, adalah rezeki dan berkah mba. Tapi kalau ada perayaan besar atau misal, ada yang meninggal itu gimana mba? saya jadi penasaran dengan hal-hal yang begitu. apakah setiap wilayah, daerah atau cluster berbeda? tapi.....i;m so envy dengan tetanggan mba, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. datang mba kita layat, terus pulang. biasanya di sahre di grup wa. atau kita datang per komplek gitu

      Hapus