Mengapa Kau Biarkan Dirimu Terkunci dalam Sunyi di Ketinggian Tanpa Udara dan Cahaya?




Bestie, aku ingin bertanya padamu. Seberapa sering kamu merasa kesepian, padahal di sekitarmu ada banyak orang? Seberapa sering kamu merasa kosong, padahal di handphone-mu notifikasi chat terus berdatangan?

Perasaan itu aneh, kan? Seolah kamu ada di sebuah pesta yang sangat ramai, tapi kamu berdiri di pojokan, terpisah oleh dinding kaca yang tak terlihat. Kamu melihat tawa, mendengar, tapi kamu tidak bisa ikut merasakan kehangatan di sana.

Kalau kamu merasakan itu, aku mau kamu tahu: kamu tidak sendirian. Perasaan ini bukan tanda kamu gagal bergaul, bukan tanda kamu kurang pergaulan. Ini adalah sinyal bahwa mungkin, tanpa sadar, kita sedang menatap hidup dari ketinggian yang terlalu jauh.



 

Menatap Cahaya dari Ketinggian yang Terlalu Jauh

 

Aku ingin kamu membayangkan ini, Bestie. Kadang kita suka menatap cahaya di bawah dari tempat yang sangat tinggi. Memang indah, bahkan sangat indah. Kita melihat lampu kota yang berkelip, jutaan bintang di bawah sana yang tampak seperti permadani berkilauan. Kita berdiri di puncak gedung pencakar langit, atau di atas bukit yang sunyi, dan kita membiarkan diri kita terbuai oleh pemandangan kesuksesan dan keramaian orang lain.

Kita melihat semua pencapaian yang spektakuler, semua highlight hidup orang di media sosial, semua hal besar yang mereka miliki. Itu terasa luar biasa, seolah itulah standar kebahagiaan sejati.

Tapi tahu, nggak? Cahaya yang seharusnya terang justru terlihat kecil dan redup. Dari ketinggian itu, semua hal terlihat sama, kecil, dan tanpa detail. Kamu tidak bisa membedakan mana kebahagiaan tulus dan mana kebahagiaan yang dipaksakan. Kamu tidak bisa merasakan energi dari setiap kilauan itu.


 

 

Menatap cahaya itu justru semakin membuat kita sepi.

 

Kenapa? Karena di ketinggian, udara dingin, dan kamu sendirian. Kamu terpisah jauh. Kamu hanya menjadi penonton yang menilai keramaian dari kejauhan. Kamu hanya membandingkan seluruh hidupmu (yang penuh detail dan masalah) dengan highlight yang kamu lihat di bawah sana (yang terlihat sempurna).


 

Turun dan Fokus pada Satu Titik Hangat

Mungkin, inilah saatnya untuk turun. Aku ingin kamu coba sekali-kali kita turun, fokus pada satu cahaya dan rasakan hangatnya di sini (dada).

Apa maksudnya?

Alih-alih membandingkan dirimu dengan "jutaan cahaya" di bawah sana—jutaan standar sukses, jutaan target yang harus dicapai—coba fokus pada satu cahaya kecil yang ada di dekatmu.

 

Cahaya itu bisa berarti:

·     Pencapaian kecil yang kamu raih hari ini (berhasil me-time, berhasil menolak ajakan yang menguras energi).

·       Hubungan yang tulus dengan satu atau dua orang terdekatmu (bukan ratusan followers).

·       Perasaan syukur atas satu hal baik yang kamu miliki saat ini (kesehatan, tempat tinggal, kopi enak di tangan).

 

Ketika kamu fokus pada satu cahaya, kamu bisa merasakan kehangatannya. Kamu tidak lagi merasa sepi karena kamu benar-benar terhubung dengan satu hal yang nyata dan ada di dekatmu. Kamu menemukan kedamaian dalam kesederhanaan.


 

Tembok Tinggi yang Kau Bangun Sendiri

Sayangnya, ada hal lain yang sering menghalangi kita untuk merasakan kehangatan itu, Bestie. Itu adalah tembok yang kita bangun sendiri.

Kita membangun tembok ini dari rasa takut dihakimi, rasa malu akan kekurangan, atau ketakutan akan kegagalan. Tembok ini kita buat tinggi dan kokoh dengan harapan bisa melindungi kita dari rasa sakit.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tembok itu bukan lagi pelindung, melainkan penjara. Kamu merasa aman dari dunia luar, tapi di dalam sana, kamu terperangkap dalam kesepian dan overthinking yang tak berujung.

Jangan membangun tembok yang terlalu tinggi dan kokoh. Tembok itu membuat udara tidak bisa masuk. Tembok itu membuatmu sesak. Tembok itu tidak membiarkan cahaya hangat dari luar (cinta, perhatian tulus, validasi) menyentuhmu.


 

Berilah Jendela Kecil untuk Udara Masuk

Aku tahu, merobohkan tembok itu butuh keberanian yang luar biasa. Itu proses yang panjang dan menyakitkan.

Kalau pun kamu belum mampu merobohkannya, setidaknya berilah jendela kecil di sana.

Ini adalah langkah pertama, Bestie.

Membuat jendela kecil berarti kamu mulai mengizinkan dirimu:

1.     Berbagi kelemahan kepada satu orang tepercaya (bukan semua orang).

2.     Mengakui bahwa kamu tidak selalu kuat dan tidak harus selalu sempurna.

3.     Memberi batas pada dirimu untuk beristirahat tanpa rasa bersalah (seperti yang pernah kita bahas).

 

Perlahan, tak perlu terburu-buru, biarkan jendela itu terbuka sedikit saja. Tujuan utamanya bukan untuk memamerkan diri ke dunia. Tujuannya adalah untuk dirimu sendiri.

Bukan untuk melihat seseorang, tapi setidaknya kau mengijinkan udara untuk masuk.

Udara itu adalah napas baru, harapan baru, dan penerimaan baru. Agar kau tak terlalu sesak dalam kungkungan tembok yang sengaja kau bangun. Ketika udara segar masuk, pikiranmu jadi lebih jernih. Kamu menyadari bahwa tidak semua orang di luar sana berniat jahat. Kamu menyadari bahwa kamu boleh tidak sempurna. Kamu menyadari bahwa kamu berhak mendapatkan kehangatan, bukan hanya dinginnya kesendirian di balik tembok tinggi.

 

Turun, Rasakan, dan Bernapaslah

Bestie, mulai hari ini, mari kita ubah arah pandangan kita. Berhenti menatap cahaya kesuksesan yang jauh dan dingin dari ketinggian. Mari kita turun. Mari kita buka jendela kecil itu.

Fokuslah pada kehangatan kecil yang kamu rasakan di dada: kopi hangatmu, tulisan sederhanamu, atau chat tulus dari seseorang yang peduli.

Izinkan dirimu bernapas lega. Kamu berhak merasa tenang dan hangat, meskipun kamu tidak berada di puncak tertinggi.

 

Lots of Love,

 

Resa—

 

Posting Komentar

0 Komentar