Kalau ada orang yang iseng bertanya padaku, "Apa sih surat Al-Qur'an yang paling kamu suka?" Jawabanku selalu keluar secepat kilat, bahkan sebelum mereka selesai bicara: QS. Ar-Rahman.
Kok bisa? Entahlah. Aku suka banget sama surat itu. Bukan sekadar suka karena keindahan lafaznya, yang memang puitis tak tertandingi, bukan juga karena ritme bacaannya yang terasa menenangkan jiwa. Tapi, alasanku lebih personal, lebih dalam: isinya benar-benar bikin aku malu.
Malu? Ya. Malu sekali!
Malu karena aku tahu betapa bandel-nya aku. Malu karena aku sering sekali ngeluh. Malu karena aku sering ngomel pada takdir yang kurasa nggak adil. Padahal, di tengah semua kebandelan, dosa, dan pembangkangan yang kulakukan, Allah masih dan terus memberikan nikmat yang begitu banyak.
Si Hamba yang Cepat Lupa
Coba deh kita flashback sedikit ke kehidupan kita sehari-hari.
Pagi ini, ketika alarm berbunyi – atau bahkan sebelum alarm berbunyi – apakah kita langsung bersyukur atau malah menggerutu, "Ah, masih pagi banget, sih!" Kita membuka mata, tapi yang terlintas adalah daftar panjang to-do-list yang membebani. Kita sibuk dengan tekanan kerjaan, deadline yang mepet, atau drama kecil yang menghabiskan energi.
Ketika kuota internet habis di tengah scroll media sosial, kita langsung ngomel dan merasa dunia ini tidak adil. Ketika pesanan kopi kita salah, kita marah besar. Ketika traffic macet, kita menyalahkan semua hal kecuali diri sendiri. Kita sibuk melihat satu kekurangan, satu kegagalan, satu takdir yang terasa pahit, sampai lupa bahwa di detik yang sama, kita masih bisa bernapas. Kita masih bisa berdiri. Kita masih bisa melihat indahnya langit.
Kita menuntut keadilan, padahal kita sendiri adalah hamba yang paling cepat lupa dan paling sering mendustakan.
Tamparan Paling Lembut
Dan di tengah-tengah rentetan keluhan dan pembangkangan itu, Surat Ar-Rahman hadir sebagai penampar paling lembut yang pernah ada.
Surat ini, dengan indahnya, menceritakan segala ciptaan Allah. Dari langit yang ditinggikan, matahari dan bulan yang beredar dengan perhitungan sempurna, sampai pohon dan bintang yang tunduk bersujud. Allah mengalirkan air dari dua lautan yang tidak pernah bercampur, mengeluarkan mutiara, dan menjadikan kapal berlayar di atasnya.
Dan di antara ayat-ayat yang memukau itu, terselip kalimat yang diulang-ulang—bukan hanya sekali atau dua kali, tapi tiga puluh satu kali—seolah-olah Allah tahu kita ini makhluk yang pelupa dan butuh diingatkan terus-menerus:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban."
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Coba kita pikirkan: Nikmat mana lagi?
Ketika kita sibuk merengek karena uang di rekening tinggal sedikit, kita lupa bahwa kita masih memiliki organ tubuh yang bekerja sempurna, yang jika dijual di pasar gelap, harganya jauh melampaui kekayaan dunia.
Nikmat mana lagi? Kita tidur nyenyak di kasur empuk, sementara di belahan dunia lain, ada yang harus berlindung di bawah reruntuhan.
Nikmat mana lagi? Kita masih bisa menghirup oksigen gratis, sementara banyak yang harus berjuang dengan ventilator.
Ayat itu, yang diulang puluhan kali, seperti menunjuk langsung ke hati kita. Seolah Allah sedang bertanya, "Kenapa kamu begitu sibuk menghitung kekuranganmu sampai kamu melupakan semua kemewahan yang Allah berikan? Kamu bandel, kamu bikin dosa, kamu membangkang. Tapi Allah, dengan segala Rahmat-Nya, masih memberimu kesempatan untuk hidup, untuk bernapas, untuk bertobat."
Malu yang Berujung Pada Cinta
Rasa malu yang muncul ketika membaca Ar-Rahman bukanlah malu yang mematikan, melainkan malu yang melahirkan cinta dan kesadaran. Itu adalah rasa malu yang menyadarkan kita bahwa kita tidak pantas menerima kebaikan sebanyak ini, namun Allah tetap memberikannya.
QS. Ar-Rahman seperti sebuah Surat Cinta Universal yang ditujukan kepada manusia dan jin, sebuah pengakuan kasih sayang dari Pencipta kepada ciptaan-Nya. Surat ini mengajak kita untuk berhenti melihat ke atas dengan penuh iri, dan mulai melihat ke dalam diri dengan penuh syukur.
Kini, setiap kali aku mendengar atau membaca surat Ar-Rahman, semua keluhan, kekecewaan, dan ngomelku langsung lenyap. Aku berhenti. Aku terdiam. Aku tunduk. Karena aku tahu, di setiap ayat yang diulang, itu adalah reminder keras dari Allah: "Hei, berhenti mendustakan, dan mulailah bersyukur."
Itulah mengapa Ar-Rahman adalah surat favoritku. Surat yang selalu berhasil membuatku malu, dan dari rasa malu itu, tumbuh rasa syukur yang tak terhingga. Semoga kita semua selalu diingatkan, bahwa di setiap hembusan napas, ada nikmat yang tak terhitung jumlahnya yang tidak layak untuk kita dustakan.
Lots of Love,
Resa—
.png)
2 Komentar
Membaca ar-rahman sendirian, ditemani gerimis hujan. Wah, banjiirrrrrr
BalasHapusternyata bocoorrr, wekekekke....
Hapus