Semalam, sebuah pesan singkat dari adikku mendarat di layar ponsel. Tidak ada basa-basi, hanya sebuah kutipan dari Surah Al-Baqarah ayat 156 yang bunyinya terasa seperti bisikan langsung ke telinga:
"Kamu sebenarnya mengejar apa sih sampai segitunya? Jangan lupa, kamu itu milik-Ku."
Seketika, hiruk-pikuk ambisi di kepalaku mendadak senyap. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah tamparan lembut yang meruntuhkan segala ego. Di tengah perlombaan dunia yang tak kunjung usai, aku dipaksa berhenti dan menoleh ke belakang—ke sebuah memori yang selama sembilan tahun ini kusimpan di sudut hati yang paling rawan.
Ingatanku terseret paksa ke tahun 2017. Saat itu, aku sedang berada di mushola kantor, mencoba mencuri waktu di antara tumpukan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Namun, sebuah getaran di genggamanku mengubah segalanya. Sebuah pesan masuk, singkat namun mematikan:
"Re, Edwan meninggal! ðŸ˜"
Duniaku berhenti berputar selama beberapa menit. Tanganku bergetar hebat, hingga napas pun terasa begitu mahal. “Bercanda, kan? Ini typo, kan?” Otakku menolak keras. Bagaimana mungkin? Kami sudah bersahabat sejak tahun 2008. Sembilan tahun kami tumbuh bersama, berbagi mimpi dari nol, dan dia baru saja memulai babak baru pernikahannya tiga bulan yang lalu. Maut datang terlalu tiba-tiba, menjemputnya tanpa memberi tanda, tanpa memberi jeda untuk sekadar mengucap pamit.
Kini, di tahun 2026, air mataku ternyata masih sama basahnya. Aku teringat betapa pengecutnya aku yang baru sanggup mendatangi makamnya setelah tiga tahun berselang. Alasannya sederhana tapi menyakitkan: aku belum siap mengakui bahwa sosok yang paling gigih itu kini telah menyatu dengan tanah.
Edwan adalah oase di tengah kerasnya dunia kerja. Aku ingat betul bagaimana dia, dengan posisi Customer Service, dengan tulus membimbingku yang baru masuk sebagai supervisor. Secara struktur, aku adalah atasannya, tapi dialah yang memegang kendali atas ketulusan. Dia mengajariku alur kerja yang rumit tanpa sedikit pun rasa gengsi atau cemburu. "Ayo Re, kamu bisa!" Kalimat itu selalu ia ucapkan dengan senyum khasnya setiap pagi. Baginya, tidak ada sekat jabatan, yang ada hanyalah tangan sahabat yang siap membantu agar temannya tidak terjatuh.
Di tengah segala keterbatasannya, ia tidak pernah berhenti berlari. Dan ironisnya, ia mencapai garis finis di dunia ini tepat saat dia sedang berada di puncak. Dia pergi dengan menyandang jabatan Manajer. Kamu sukses, Wan! Kamu berhasil membuktikan bahwa kegigihanmu tidak sia-sia. Namun, di saat yang bersamaan, kepergianmu meninggalkan satu pertanyaan besar bagiku: "Jika pada akhirnya kita semua harus pulang, lalu apa yang sebenarnya kita kejar sampai sebegininya?"
Kehilangan Edwan dan pesan dari adikku semalam adalah satu paket kesadaran yang utuh. Aku tersadar bahwa puncak karier setinggi apa pun hanyalah tempat persinggahan sementara. Edwan tidak membawa gelar Manajernya ke liang lahat, tapi dia membawa seluruh doa dari orang-orang yang pernah ia bantu dengan tulus.
Sekarang, aku memilih untuk lebih berdamai dengan langkahku sendiri. Aku sadar, aku adalah milik Allah. Jika tubuh dan jiwaku mulai terasa lelah karena beban dunia yang kupikul sendiri, aku akan memilih untuk berhenti sejenak. Aku tidak ingin lagi memaksa diri hingga kehilangan arah. Aku ingin belajar seperti Edwan; berjuang dengan gigih, namun tetap membumi dan penuh cinta, hingga saat waktu "pulang" itu tiba, aku pergi dalam keadaan yang tenang.
الَّذِÙŠْÙ†َ اِذَآ اَصَابَتْÙ‡ُÙ…ْ Ù…ُّصِÙŠْبَØ©ٌ ۗ Ù‚َالُÙˆْٓا اِÙ†َّا Ù„ِÙ„ّٰÙ‡ِ ÙˆَاِÙ†َّآ اِÙ„َÙŠْÙ‡ِ رٰجِعُÙˆْÙ†َۗ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 156)
Terima kasih, Wan, untuk semangat yang tetap menyala meski ragamu sudah tak ada. Dan terima kasih untuk pengingat semalam: bahwa sejatinya, aku—dan segala yang aku banggakan—adalah milik-Nya, dan hanya kepada-Nya lah aku akan kembali.
.png)
0 Komentar