Tahu tidak, hal apa yang paling membuatku kesal saat sedang menulis? Bukan, ini bukan tentang adegan yang menguras pikiran untuk menyusun plot twist rumit sampai membuat sesak napas dan rambut rontok. Bukan juga adegan tegang saat seorang detektif menyerbu markas kartel, atau momen krusial ketika seorang dokter berpacu dengan waktu di ruang bedah sementara pasiennya meregang nyawa.
Hal yang paling menyebalkan adalah menulis adegan yang menguras air mata.
Percayalah, menulis momen-momen penuh emosi itu benar-benar sebuah siksaan yang manis sekaligus menyakitkan. Apalagi jika aku melakukannya di kedai kopi seperti sekarang. Aku harus berkali-kali berhenti, menarik napas panjang, dan menengadah ke langit-langit plafon agar air mataku tidak benar-benar jatuh membasahi pipi. Sungguh, pemandangan seorang penulis yang terisak di depan laptop sambil menyeruput kopi adalah hal yang paling memalukan untukku.
Tak jarang aku merutuki kebodohanku sendiri. Aku merasa begitu cengeng karena ikut hancur dan meratapi nasib tokoh utama yang, ironisnya, sedang kuhancurkan dengan tanganku sendiri. Bukankah ini sangat konyol? Aku yang menciptakan lukanya, aku yang menyusun skenario penderitaannya, tapi aku pula yang pertama kali tersungkur oleh rasa sakitnya.
Seperti saat ini. Aku terhenti tepat di tengah bab. Kursor laptop itu berkedip-kedip mengejekku di angka 1.379 kata. Aku tidak sanggup melanjutkan satu kalimat pun lagi, jadi aku melarikan diri ke sini. Menumpahkan segala kekonyolanku yang sedari tadi sibuk mengedipkan mata dengan cepat dan memalingkan wajah ke luar jendela kaca.
Di luar sana, kendaraan berlalu lalang dan orang-orang berjalan dengan kesibukan mereka masing-masing. Namun, di dalam kepalaku, suasananya begitu sunyi dan kelabu. Aku berusaha menghindari layar laptop yang seolah terus memanggil, menampilkan rangkaian diksi menyedihkan yang membuat dadaku terasa sesak.
Sial, kenapa aku bisa ikut hanyut sedalam ini? Harusnya hanya tokoh-tokohku yang menangis. Harusnya mereka yang merasakan dinginnya perpisahan atau pedihnya pengkhianatan itu. Tapi kenapa aku juga ikut merasakannya? Seolah-olah pertemuan dan luka mereka tervisualisasikan dengan begitu nyata di depanku, bukan sekadar bayangan, melainkan sebuah realitas yang terjadi tepat di depan mata.
Aku bisa mendengar nada suara mereka yang bergetar. Aku bisa melihat bagaimana binar di mata mereka meredup perlahan saat kenyataan pahit itu menghantam. Diksi-diksi yang kupilih secara tidak sadar telah menjadi belati yang menusuk ke titik paling rentan di hatiku. Setiap titik dan koma terasa seperti detak jantung yang melambat.
Hahaha, sudahlah. Mungkin memang aku saja yang terlalu melankolis. Mungkin suasana hatiku sedang tidak terlalu bagus hari ini, sedikit mellow karena langit di luar mungkin juga sedang muram, atau karena suasana sunyi di kedai ini terlalu pas dengan alur ceritaku. Akhirnya, aku terhanyut dalam tulisan yang mungkin bagi orang lain tidak seberapa haru, tapi bagiku adalah sebuah kiamat kecil bagi semesta yang kubangun.
Menulis memang proses yang aneh. Kadang kita merasa seperti penguasa yang memegang kendali penuh atas nasib setiap karakter, namun di saat lain, kita hanyalah saksi bisu yang terpaksa mencatat setiap penderitaan mereka dengan tangan gemetar. Dan saat ego sebagai penulis runtuh, yang tersisa hanyalah manusia biasa yang bisa merasakan luka yang sama dengan karakternya.
Sepertinya, aku butuh jeda yang lebih panjang. Aku akan beranjak dari kursi ini, berjalan perlahan menuju kasir, dan memesan satu gelas lagi. Mungkin sebuah manual brew dengan rasa asam yang kuat untuk membawaku kembali ke realitas, atau mungkin segelas es Americano yang super dingin dan pahit. Aku butuh rasa pahit yang nyata di lidah untuk menetralkan rasa perih yang imajiner ini. Aku butuh sesuatu yang dingin untuk mendinginkan mataku yang mulai terasa panas dan basah.
Setelah itu, mungkin aku akan kembali duduk, menatap kursor yang masih berkedip di kata ke-1.380, dan kembali melanjutkan tugas kejam ini: menghancurkan hati tokohku, sekaligus hatiku sendiri, sampai bab ini benar-benar usai. Tentunya dengan tisu yang sudah siap di dalam saku. Bestie, doakan saja aku tidak berakhir sesenggukan di pojokan kedai ini.
Lots of Love,
Resa—
.png)
20 Komentar
Wah relate banget nih. Kadang ide nulis munculnya emang bisa di mana aja ya kak, pas nulis sedih di tempat umum juga
BalasHapussatu kata sih kak, malu. hahha
HapusBaca pengalamannya aja udah tragis ya apalagi baca hasil tulisannya nanti. Btw, tragis itu bagian dari konflik bukan sih?
BalasHapushahaha masuk ke konflik abah, pokoknya harus sad ending. hidup! wekeke
Hapus"penulis seperti penguasa yang memegang kendali penuh atas nasib setiap karakter" benar banget! sebagai pembaca, kadang suka nuntut ke penulis, kok karakter ini tragis banget? Apalagi aku masih terngiang nonton anime One Piece, nangis bombai pas karakter Ace mati, trus kesel banget sama Oda, kok dia tega??
BalasHapuspercayalah, saat readers kesel disitulah author merasa senang. wekekeke
HapusJudulnya saja sudah bikin penasaran 😠Ada rasa campur aduk antara gemas dan capek emosional saat membaca situasi seperti itu. Kadang memang hubungan yang rumit justru jadi paling susah dilupakan
BalasHapusmwehehehe...
Hapuspernah gak mbak butuh berhari-hari menentukan ending cerita? pasti sulit ya memutuskan ending ceritanya ya apalagi kita sendiri udah terlalu larut dalam emosi cerita sendiri. Tapi menurut saya penulis tetap harus konsisten dengan ending cerita yang sudah ditentukan.
BalasHapuspernah dan sering. apalagi aku buakn tipe author yang punya draf alur. sebenernya ngga boleh di itru ya krn rawan writer's block. cuma emang di sini serunya. aku bisa dapet "kejutan" di setiap bab. kadang aku pengen banget book ini berakhir denagn kalimay "dan mereka bahagia selamanya" tapi ternyata meleset jauh. justru endingnya di luar dugaan dan seolah karakter itu sendiri yang menginginkan alurnya.
HapusJadi kalau menulis cerpen itu penulis harus masuk ke dalam cerita, menjiwai cerita nya yaaa , agar menghasilkan cerita yang bagus dan mengena di hati pembaca. Namun persoalan muncul manakala penulis tak sanggup menulis karena masuk terlalu dalam ke alur cerita, ikut merasakan beratnya alur cerita..apalagi kalau kisahnya sediih..duuh iya ya saya ikut merasakan beratnya perasaan penulis.
BalasHapusyup! betul banget mbak. makanya beberapa author kadang ada yang beneran harus hiatus atau mengambil jeda dulu buat menstabilkan emosi. apalgi kalau pas nulis di bab puncak konflik. asli itu melelahkan, tapi seru!
HapusAku mau bilang kereenn kaa..
BalasHapusSangat menghayati dan bener-bener masuk ke dalam cerita bahkan ke setiap tokoh yang kaka ciptakan. Dan ini yang membuat "pesan" kaka sampai ke pembaca.
alhamdulillah kak, allah kasih mudah walaupun sering harus nahan malu tiba-tiba mewek sendiri di depan layar sambil pura-pura nyruput kopi. haha
HapusWah, ini relatable banget untuk para penulis 😠Kadang justru adegan emosional yang paling “tenang” malah jadi bagian paling melelahkan secara perasaan. Karena saat menulisnya, penulis seperti ikut masuk dan merasakan emosi tokohnya secara langsung. Jadi bukan cuma pembaca yang terbawa suasana, penulisnya pun ikut remuk duluan 😅
BalasHapusbener, apalagi kalau sad ending. haha
HapusKadang bukan kitanya yang malas menulis sih menurutku, tapi menghadapi konflik batinnya ituu. Relate banget tulisannya
BalasHapusbetul, jadi butuh jeda beberapa wakgtu buat napas bentar hehe
Hapusaku juga pernah nih nulis adegan tokoh ibu pemeran utamanya meninggal. ternyata sesedih itu ya kalau nulis cerita sedih. Soalnya aku kan selama ini nulis lebih banyak cerpen dan itu jarang ada cerita sedihnya nah giliran bikin bab sedih berasa beda gitu
BalasHapusnyesek ya, kayak ngerasa kita tokohnya wekeke
Hapus