Jurnal Emosi di Setiap Tegukan: Mengurai Pergulatan Batin Seorang Penulis Melalui Kopi


Kopi, Sang Navigator di Lautan Deadline

Bukan rahasia lagi, aku dan kopi adalah sepasang entitas yang tak terpisahkan (haha!). Namun, di balik kebiasaan sederhana ini, tersimpan sebuah rahasia yang hanya diketahui olehku. Kopi bagiku bukan hanya kafein, melainkan sebuah navigator yang menuntunku menyeberangi lautan hidup yang penuh badai emosi. Setiap biji yang diseduh, setiap suhu yang kurasakan, adalah kode yang menunjukkan: apakah aku sedang di ambang kehancuran, atau sedang menuju puncak kreativitas?

 

Aku sering mendapati diriku berdiri di depan mesin kasir, memesan tanpa melihat menu, karena pesanan itu sudah tertanam kuat sebagai respons otomatis dari kondisi batinku. Ritual ini adalah caraku mengontrol mood yang rentan berantakan akibat terlalu banyak begadang, tekanan cerita dark fantasy yang kuciptakan, dan kritik yang kadang menusuk. Inilah kisahku, bagaimana empat jenis kopi ini menjadi empat pilar penopang mental yang berbeda.

 

 

 

1. Mencari Tendangan Semangat yang Konsisten dan Clean (Es Americano)

 



Ketika pagi terasa berat—bukan karena malas, tapi karena energinya sudah habis terpakai semalam—Es Americano adalah solusinya. Ini adalah mode Fighter. Aku butuh tendangan yang kuat, mendesak, tapi harus jujur.

 

Aku tahu banyak penulis yang langsung memesan double shot untuk mendapatkan kick yang instan. Tapi aku tidak. Pengalaman mengajarkanku bahwa double shot itu seperti lonjakan emosi: cepat datang, cepat menghilang, dan meninggalkan crash yang menyakitkan, sakit kepala dan nyut-nyutan yang menyiksa, hmm. Strategiku lebih licik dan terukur. Aku memesan dua gelas Es Americano single shot, dengan preferensi mutlak pada Arabica sebenarnya, tapi kalua ada nya robusta ya, bolehlah, yang penting ngopi, dua gelas!

 

Sensasi dingin dari gelas Americano di tanganku adalah pengingat instan bahwa aku harus sadar. Aku sengaja memilih Arabica karena kesegarannya itu berbeda; ada sedikit rasa buah yang clean, yang aku butuhkan untuk membersihkan sisa kotoran pikiran dari begadang. Gelas pertama memberikan shock dan kebangkitan awal, sementara gelas kedua menjadi pusat agar fokusku tetap stabil selama tiga hingga empat jam ke depan.

 

Americano adalah pernyataan: Aku lelah, tapi aku menolak menyerah.

 

Tentu saja, ritual ini selalu memicu omelan dari dalam diriku sendiri, sebut saja dia “dokter pribadi”, hehe. Aku bisa membayangkan pesan teksnya masuk: “Hei! Dua gelas kopi? Kamu harus makan! Itu cambuk, bukan sarapan! Kalau lambungmu rusak, aku nggak mau tahu!” Ya, aku tahu. Tapi Americano adalah paksaan yang aku butuhkan untuk melewati jam-jam krusial.

 

 


2.   Ritual Penghilang Emosional (Split: Piccolo dan Es Americano)

 


Ini adalah pesanan yang paling rumit, dan pesanan ini hanya muncul ketika aku benar-benar berada di titik terendah. Hari-hari di mana plot ceritaku buntu, karakterku terasa mati, atau aku menerima kritik yang membuatku merasa bodoh. Aku tidak hanya butuh kafein, aku butuh terapi suhu untuk menyeimbangkan chaos di dalam diriku.

 

Aku akan memesan Split: Piccolo dan Es Americano.

 

Aku memulai dengan Piccolo Hangat. Aku akan memegang cangkirnya erat-erat. Kehangatan mug kecil itu di telapak tanganku memberikan ilusi keamanan dan kelembutan. Piccolo dengan busa susunya yang velvet adalah pelukan yang sangat kubutuhkan saat aku merasa fragile. Aku akan menyesapnya perlahan, membiarkan kehangatan itu menenangkan sarafku yang tegang dan mengatakan, ‘Shhh, tidak semua hal seburuk itu.’ Piccolo adalah penanggulangan panik emosional.

 

Setelah Piccolo menenangkan kekacauan, barulah aku beralih ke Es Americano-ku. Kontrasnya begitu tajam; dari hangat ke dingin, dari lembut ke keras. Americano dingin ini berfungsi sebagai tamparan yang membangunkan, transisi yang menyakitkan namun diperlukan dari mellow ke fight mode. Ini adalah pembersihan yang kasar.

 

Ritual Split ini adalah caraku mengurai kompleksitas emosi. Aku memisahkan kegelapan dari cahaya, kehangatan dari kedinginan. Ini membutuhkan fokus dan kesadaran, yang secara tidak langsung memaksa otakku untuk kembali bekerja pada masalah di depan. Ini adalah ritual yang panjang, yang menandakan aku akan berada di kedai kopi itu selama berjam-jam, berjuang memulihkan diri.

 

Tentu saja, beberapa dari kalian ada yang menganggap ini ritual paling konyol, haha. “Dua minuman sekaligus? Kamu pikir kamu sedang meracik ramuan apa?! Istirahat! Bukan malah menyiksa perut!” Aku tahu, tapi ritual ini menyelamatkanku dari kehancuran total. Haha!

 

 


3.   Menjaga Aliran Kreatif yang Damai (Japanese Iced)

 


Jika kamu melihatku memesan Japanese Iced, ketahuilah bahwa hari itu adalah hari yang indah. Mood-ku sedang stabil. Ide-ide mengalir dengan anggun, karakter-karakter berbicara lancar di kepalaku. Aku tidak butuh tendangan, aku hanya butuh pendamping yang sopan.

Japanese Iced adalah kopi yang paling elegan dan tenang. Rasanya yang bersih, seringkali dengan sedikit hint buah dari proses brewing-nya, tidak mengganggu flow state-ku, melainkan mendukungnya. Kopi ini adalah background yang sempurna, tidak menuntut perhatian, tetapi memperkaya suasana. Aku bisa menyesapnya selama berjam-jam, menyaksikan es mencair perlahan tanpa mengganggu konsentrasi.

 

Kopi ini adalah penanda bahwa aku sedang berada di puncak produktivitas yang sehat. Dia tidak agresif, dia hanya mengamini bahwa aku sedang melakukan pekerjaan terbaikku. Aku tidak terburu-buru; aku menikmati proses.

 

Dan ini adalah satu-satunya pesanan yang membuat dokter pribadiku senang. “Nah, kalau Japanese Iced, itu artinya aku lagi sehat dan nggak stres. Kopi yang bagus buat otak yang cerah!” Ya, ini adalah kopi yang aku pesan untuk diriku yang paling bahagia.

 


 

4.    Mencari Kehangatan di Tengah Hari yang Gloomy (Latte/Cappuccino)

 


Kadang, energi mentalku habis bukan karena deadline, tapi karena kelelahan emosional. Di hari yang mendung, atau ketika aku merasa gloomy tanpa alasan yang jelas, aku butuh perlindungan. Aku memilih Latte atau Cappuccino.

 

Latte adalah selimut emosional-ku. Aku akan memegang cangkir hangat itu dengan kedua tanganku. Kehangatan yang menjalar itu adalah bentuk afirmasi bahwa aku sedang mengurus diri sendiri. Busa susu yang lembut dan rasa kopi yang enteng—karena sudah dicampur susu—mengurangi intensitas yang keras dari dunia luar.

Aku membiarkan diriku mellow sejenak, menenangkan saraf yang lelah. Latte adalah terapi yang aku berikan pada diriku sendiri ketika aku tahu aku tidak bisa mendorong diri lebih keras lagi. Ini adalah izin untuk mengambil jeda dan bersantai.

 

 


Kesadaran Akan Pilihan dan Omelan Final dari “Dokter Pribadi”-ku

Setiap menu kopi yang aku pilih adalah sebuah babak dalam kisah emosiku hari itu. Aku menyadari, kopi bukan hanya ritual, tetapi sebuah barometer yang membantuku memahami kondisi mentalku sendiri.

 

Namun, di akhir semua pengakuan ini, aku tahu ada satu suara yang akan selalu muncul. Suara yang paling aku sayang, dan yang paling cerewet:

"Semua ritual ini percuma kalau kamu nggak mau makan teratur dan nggak mau tidur cepat! Aku tahu kamu sayang sama kopi, tapi kamu harus lebih sayang sama badan kamu! Awas kalau nanti malam masih begadang!"

 

Ya, aku tahu! Aku janji akan usahakan! Terima kasih sudah jadi alarm terbaiku!

 


 

 

Lots of Love,

 

 

Resa—

Posting Komentar

17 Komentar

  1. Tulisannya puitis banget. Seperti minum kopi sambil refleksi perasaan sendiri. Ada vibe healing tapi elegan jiaaakkhh hehe

    BalasHapus
  2. Kopi biasanya aku selalu beli di warung. Apalagi pas pagi paling enak buat ngopi sambil makan makanan rebus...

    BalasHapus
  3. pecinta kopi dan filosofinya, keren banget kak :D

    BalasHapus
  4. Sebagai pecinta kopi alarm tubuh juga udah mulai muncul nih mba. Sakit lambung akhir-akhir ini sungguh menyiksa. Btw aku suka ice americano sama latte hot hehe

    BalasHapus
  5. Seru juga yah punya menu kopi sesuai mood. Aku kayaknya udah template banget pesen es kopi susu klo nugas di cafe. Dan sekali-kali pesan matcha latte. Btw aku jarang pesan americano di cafe, karena pernah nyicip americano punya teman di beberapa brand kopi, kok rasanya kayak nescafe gold yang 1 renteng 14.000 . Jiwa mendang mending-ku nggak bisa berbohong.

    BalasHapus
  6. Ketika kopi jadi identitas mood dan suasana. Apik dan menarik, Kak. Aku kadang kalau pesan kopi, asal yang terlihat di buku menu saja, karena nggak terlalu paham juga jenis-jenis kopi yang dijual di coffee shop itu.

    BalasHapus
  7. wow..sebagai seorang awsm kopi..aku jadi lebih tahu ttg jenis2 kopi dan juga dampaknya ke seseorang! trims utk sharing pengalaman nya ya..

    BalasHapus
  8. Saya suka sekali kopi, tapi kopinya pahit jangan kopi manis. Setiap menulis pasti ditemani oleh kopi. Jadi kopi itu benar-benar inspirasi untuk menulis buat saya

    BalasHapus
  9. Dulu saya tidak bisa minum kopi. Sakit lambung. Eh setelah muncul berbagai jenis kopi, Dengan berbagai varian rasa dan wangi juga, akhirnya saya sedikit demi sedikit bisa minum kopi dan bahkan seperti kecanduan.
    Kopi tuh seunik itu ya...

    BalasHapus
  10. Aku pernah nyoba minum kopi, tapi ternyata gak jadi sepuitis kaya tulisan ini atau orang-orang lain. Orang ngomongin enaknya ngopi, aku benar-benar gak bisa nyambung. Meski begitu, kalau ada yang ngajak ngopi, hayuk deh. Cuma paling aku pesan lain aja, hahaha

    BalasHapus
  11. Kopi bsa menjadi bahasan puitis yang menggetarkan jiwa, apalagi buat yang menyukai kopi. Setiap tegukan dan aroma jadi hal yang mengesankan

    BalasHapus
  12. Seru ya mbak punya temen kopi yang beda² buat tiap moodnya. Jujur aku pecinta kopi tapi rasa²nya temen kopiku cuma dua. Cappucino dan americano aja. Biasanya tergantung saat itu minumnya mau cappucino atau americano, nggak terlalu melihat suasana hati. Hehe..

    Cuma memang kalau udah minum kopi, aku perlu membatasi 1 cangkir satu hari atau maksimal sekitar 125-150 ml aja. Karena ya resiko malam tidak bisa tidur. 😅

    BalasHapus
  13. Dlu aku suka banget Latte ternyata efeknya menenangkan ya jadi tahu nih jenis2 kopi dan manfaatnya buat bikin suasana hati jadi happy

    BalasHapus
  14. Wahhh tiap suasana kopinya pun berbeda hehe.. definitely filosofi kopi sesungguhnya ..

    BalasHapus
  15. Saya sekarang meniatkan minum kopi khusus saat bersosialisasi saja, misalnya menjamu tamu atau pas makan di luar sama teman. Lumayan efektif mengurangi craving caffein kala pagi.

    Tapi kalau memang butuh ditopang ice Americano untuk bekerja ya memang sebaiknya sarapan padat dulu

    BalasHapus
  16. Meski tak begitu suka kopi tapi aku tau gimana jdinya penulis yang suka kopi itu jadi ruang nyaman. Tentunya baginya akan mengeluarkan ide2 yang berserakan itu

    BalasHapus