Marah, Sabar, Ikhlas: Perjalanan Menemukan Kembali Harga Diri yang Sempat Hilang.

 


Pernahkah kamu merasa sudah memberikan segalanya: waktu, pikiran, bahkan perasaan, tapi yang kamu dapatkan justru sebaliknya? Rasanya seperti kamu sudah menuangkan seluruh isi botol air untuk menyiram tanaman, tapi tanamannya tetap layu karena akarnya ternyata sudah busuk. Sesak, bukan? Di momen-momen seperti itu, aku belajar tentang satu hal yang sangat mendasar: hidup adalah sebuah seni mengelola tiga rasa. Sebuah perjalanan panjang antara marah, sabar, dan pada akhirnya, ikhlas.

Sebagai manusia biasa, aku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa lepas dari tiga rasa itu. Mereka seperti satu paket lengkap yang harus aku lewati setiap kali kehidupan memberikan ujian yang tidak terduga.

 

Saat Marah Menjadi Kejujuran yang Paling Dasar

Aku ingat betul rasanya saat pertama kali aku merasakan ketidakadilan yang benar-benar telak. Rasanya seperti ada api yang tiba-tiba menyulut di dalam dada. Panas, menyesakkan, dan ada dorongan besar untuk meledak saat itu juga. Dulu, aku sering merasa bersalah kalau aku marah. Aku tumbuh dengan pemikiran bahwa menjadi orang baik berarti aku harus selalu bisa menekan emosi, selalu tersenyum, dan menerima apa pun yang terjadi dengan lapang dada.

Tapi ternyata, aku keliru. Saat pertama kali aku disakiti secara terang-terangan, hal paling jujur yang muncul dari dalam diriku adalah marah. Dan sekarang aku paham, marah itu sangat manusiawi. Marah adalah cara jiwaku berteriak kalau ada sesuatu yang salah. Marah adalah sinyal darurat dari harga diriku yang sedang merasa terancam. Jadi, kalau sekarang aku merasa marah saat diperlakukan tidak adil, aku tidak lagi menganggapnya sebagai dosa. Aku menganggapnya sebagai bentuk kejujuran pada diri sendiri.

Aku sempat melihat orang-orang di sekitarku punya cara yang sangat berbeda saat mereka disakiti. Ada yang memilih untuk langsung memaki balik, berteriak sekencang mungkin agar dunia tahu mereka sedang terluka. Ada juga yang diam, tapi diamnya penuh dengan rencana untuk membalas perbuatan buruk itu dengan hal yang setimpal. Aku jujur, sempat tergoda untuk melakukan hal yang sama. Rasanya pasti puas kalau bisa melihat orang yang menyakiti kita merasakan hal yang sama. Tapi kemudian aku berpikir kembali: kalau aku membalas mereka dengan cara yang sama buruknya, lalu apa bedanya aku dengan mereka? Bukankah aku hanya akan terjebak dalam lingkaran setan yang sama?

 

Belajar Sabar yang Tidak Berarti Pasrah

Setelah badai amarah itu pelan-pelan luruh dan emosiku mulai mendingin, aku biasanya mulai masuk ke fase sabar. Namun, aku ingin meluruskan satu hal. Sabar yang aku pelajari selama ini bukanlah sabar yang pasrah tanpa daya. Sabar bagiku bukan berarti aku menjadi keset kaki yang rela diinjak berkali-kali tanpa pernah melakukan perlawanan.

Sabar bagiku adalah sebuah momen hening. Momen di mana aku mulai mengatur napas dan mulai menggunakan logika untuk mengambil alih kendali yang tadinya dikuasai oleh emosi. Aku memilih untuk diam bukan karena aku takut atau lemah. Aku diam karena aku sedang mengumpulkan kekuatan. Aku mulai menyaring, mana emosi yang memang perlu aku keluarkan dan mana yang lebih baik aku simpan rapat-rapat untuk energiku sendiri.

Di fase ini, aku mulai menyadari bahwa tidak semua orang atau semua situasi pantas mendapatkan reaksiku. Memberikan reaksi kepada orang yang sengaja ingin memancing emosiku hanya akan membuat mereka merasa menang. Jadi, aku memilih sabar sebagai bentuk kendali diri. Aku membiarkan waktu berlalu, membiarkan semuanya mendingin, sampai aku benar-benar siap untuk melangkah ke tahap berikutnya.

 

Seni Mengalah yang Elegan: Pergi dengan Punggung Tegak

Nah, ini adalah bagian yang paling mengubah caraku memandang hidup. Aku pernah berada di sebuah lingkungan, entah itu pekerjaan atau pertemanan, yang secara terang-terangan memberikan pengaruh buruk. Aku merasa tidak dihargai. Keberadaanku dianggap tidak ada, dan semua kontribusi yang aku berikan selalu disepelekan. Rasanya seperti aku sedang bicara di depan tembok yang tinggi dan dingin.

Alih-alih bertahan dan terus-terusan menyiksa harga diriku dengan harapan "suatu saat mereka akan berubah", aku memilih untuk berhenti. Aku memilih untuk pergi.

Mungkin beberapa orang yang melihat dari luar akan menganggapku "mengalah" atau "kalah". Tapi buatku, itu adalah sebuah seni mengalah yang paling elegan yang pernah aku lakukan. Aku pergi dengan punggung tegak dan kepala mendongak. Kenapa? Karena aku tahu aku benar. Aku tahu aku tidak bersalah, dan aku tahu aku sudah memberikan yang terbaik yang aku bisa.

Lalu, untuk apa aku terus bertahan di tengah lingkungan yang tidak menghargai keberadaanku? Untuk apa aku membuang energi berhargaku untuk orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan kehadiranku? Aku belajar satu prinsip penting: mengalah itu boleh, tapi jangan pernah membiarkan mengalah itu menghancurkan harga diri yang sudah susah payah aku bangun selama bertahun-tahun. Pergi dari tempat yang tidak menghargaimu bukan tanda kelemahan, itu adalah tanda bahwa kamu cukup mencintai dirimu sendiri untuk tahu kapan harus berhenti.

 

Titik Ikhlas: Sebuah Bentuk Pembebasan Jiwa

Setelah aku benar-benar menjauh dan memberikan jarak antara aku dengan situasi yang menyakitkan itu, perlahan-lahan aku mulai merasakan ketenangan yang luar biasa. Itulah titik di mana aku mulai ikhlas. Tapi jangan salah, titik ini tidak datang dalam semalam. Ikhlas adalah sebuah proses panjang yang muncul saat aku mulai bisa menerima kalau semua kepahitan itu memang harus terjadi.

Aku mulai sadar, mungkin aku "dipaksa" keluar dari tempat yang salah supaya aku bisa menemukan tempat yang lebih tepat. Mungkin aku harus merasakan sakitnya tidak dihargai supaya aku bisa lebih menghargai diriku sendiri di masa depan. Ikhlas bagiku bukan berarti aku melupakan semua kejadian itu begitu saja. Aku masih ingat, tapi rasanya sudah beda. Kalau dulu aku mengingatnya dengan rasa sesak, sekarang aku mengingatnya dengan sebuah senyuman kecil sambil bergumam, "Terima kasih sudah memberiku pelajaran."

Ikhlas adalah bentuk pembebasan yang paling nyata. Aku tidak lagi memegang dendam, aku tidak lagi menunggu permintaan maaf yang mungkin tidak akan pernah datang, dan aku tidak lagi peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang kepergianku. Aku sudah berdamai dengan masa lalu itu.

 

Jangan Jual Murah Harga Dirimu

Sekarang aku paham, hidup ini memang akan selalu berputar di antara marah, sabar, dan ikhlas. Marah itu perlu sebagai pengingat bahwa kita punya batas. Sabar itu wajib sebagai penguat agar kita tidak hancur oleh keadaan. Dan ikhlas adalah akhir yang menenangkan agar kita bisa terus melangkah maju.

Tapi di atas segalanya, aku ingin berpesan pada diriku sendiri dan juga padamu: jangan pernah biarkan siapa pun merusak atau merendahkan harga diri yang kamu miliki. Kalau kamu sekarang sedang berada di posisi yang tidak dihargai, atau di tengah lingkungan yang membuatmu merasa kecil, tidak apa-apa kalau kamu ingin pergi.

Nggak perlu banyak drama, nggak perlu caci maki. Cukup balikkan badanmu, tegakkan punggungmu, dan jalan terus tanpa menoleh ke belakang. Kamu terlalu berharga untuk tetap menetap di tempat yang salah. Percayalah, saat kamu berani pergi dengan punggung tegak, di situlah kamu benar-benar memenangkan hidupmu sendiri.




Lots of Love,



Resa—

 

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Belajar ikhlas memang susah sekali dilakukan. Apalagi dengan keadaan yang tidak bisa kita lakukan. Hanya bisa bilang "yaudah" sebagai bentuk ke ikhlasan....

    BalasHapus
  2. Saat kita merasa tersakiti, emang ada keinginan kuat untuk membalasnya supaya merasa adil. Tapi setelah melakukan pembalasan, ujung-ujungnya menyesal karena merasa "lah, nggak ada bedanya gw dengan dia". Betul yang ditulis di sini, kita perlu kita harus pintar mengelola marah, lalu sabar dan ikhlas.

    BalasHapus
  3. Nggak mudah untuk tetap calm saat disakiti. apalagi berulang-ulang dan secara terang-terangan. Seringnya dan lebih mudah dilakukan buat ngamuk balik nggak sih. Hehehe

    BalasHapus
  4. Bagian soal marah yang sering disangkal tapi sebenarnya numpuk itu kena banget. Banyak orang lompat ke “ikhlas” tanpa pernah benar-benar mengakui rasa marahnya. Padahal proses berdamai justru dimulai dari berani jujur sama emosi sendiri, meski nggak enak

    BalasHapus
  5. Mengelola rasa marah memang sebuah seni tersendiri. Mudah untuk langsung bereaksi, tetapi untuk memilih sabar dan ikhlas dibutuhkan kekuatan yang berbeda. Mundur bukan berarti menjadi kecil, melainkan kesadaran bahwa energi kita lebih berharga jika disalurkan ke hal-hal yang membawa kita ke arah yang lebih tepat.

    BalasHapus
  6. Mengendalikan diri disaat marah merupakan hal yang paling sulit dilakukan, tetapi jika kita terbiasa mengendalikan rasa marah tersebut maka akan membuat diri dapat mengontrol hal-hal yang tidak semestinya dilakukan.

    BalasHapus
  7. Bener ya, manajemen emosional itu emang sebuah keterampilan, perlu dilatih. Begitu juga dengan mengelola marah, itu juga perlu dilatih. Menurutku, marah itu wajar. Itu bentuk emosional yang alami kok. Tapi, perlu dikelola.

    BalasHapus
  8. Marah itu wajar, semua manusia memiliki rasa itu. Hanya betul, bagaimana kita memanajemen rasa matah itu ya. Berani ambil risiko atau justru kalah? Semoga kita bagian dari barusan orang yang mampu menahan hawa nafsu.

    BalasHapus
  9. Aku dulu gampang marah, suka balas langsung. Tapi sekarang udah jauh berbeda. Gak semua hal harus dibalas. Kadang emang diemin aja, lalu pergi dengan punggung tegak. Gak perlu habiskan energi untuk hal yang sia-sia

    BalasHapus
  10. Sebesar apapun kesalahan manusia kepada kita maafkanlah karena Allah tidak akan memaafkan sebelum kita memaafkan. Pekan lalu saya mendapat wejangan ini dari kakak saya, rasanya related denngan tulisan ini. Semoga kita semua bisa menjadi orang pemaaf. Aamiin

    BalasHapus
  11. marah itu sebenarnya reaksi yang wajar ya terjadi pada manusia jika mendapati situasi yang tidak mengenakkan. Cuma kadang ada marah yang sebaiknya dihindari kayak marah yang menghancurkan barang-barang itu kayaknya harus dikonsultasikan ke psikolog siapa tahu ada masalah dalam dirinya

    BalasHapus
  12. Belajar legowo itu salah satu hal yang masih kupelajari sampai sekarang, termasuk di dalamnya berani untuk legowo melepaskan. Hal pertama yang dalam pikiran tentu saja rasa takut yang macem-macem. Tapi setelah dijalani, toh semua baik-baik saja. Dan benar bahwa kita berharga adalah hal yang harus kita pegang. :)

    BalasHapus
  13. Mengelola emosi itu memang menjadi tantangan tersendiri ya
    Apalagi rasa amarah akibat harga diri yang terinjak
    Tentu tidak mudah, bersikap iklhas butuh proses pastinya

    BalasHapus
  14. Bisa saja balas dendam jadi cara oke, tetapi harus adil. Namun, yang lebih baik lagi saat diri kitanya lebih bisa kontrol diri, agar gak makin panas hati

    BalasHapus