Sebagai seorang Blog Writer sekaligus Author, aku sering kali merasa seperti alien yang terdampar di planet baru setiap kali membuka kolom komentar atau media sosial. Ada sebuah keharusan tak tertulis bagi aku untuk memahami, dan secara tidak langsung, mempelajari deretan kata yang... jujur saja, terdengar sangat aneh di telingaku. Namun, anehnya, kata-kata itu justru sangat akrab bagi anak-anak muda saat ini.
Anak muda? Ya, ya, ya... aku ngaku deh, aku emang udah nggak muda lagi. Puas? Hahaha! Aku sering banget denger istilah bahwa "setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri."
Yup! Itu sangat tepat. Masalahnya, ternyata sebagian besar pembacaku adalah anak-anak Gen-Z yang mungkin usianya masih 20-an tahun. Fakta ini membuat aku harus memutar otak agar tulisanku nggak terasa seperti ceramah membosankan dari zaman purba.
Aku emang punya dua platform yang berbeda. As a writer yang nulis artikel kayak gini, dan as an author yang nulis fiksi. Jadi, mau nggak mau aku harus belajar banyak bahasa yang familiar untuk mereka. Buat apa? Ya, biar mereka baca tulisanku dan biar ceritaku masuk ke nalar mereka. As simple as that!
"Ada yang bilang karakterku lagi masuk Villain Era, ada juga yang curhat kalau mereka lagi Burnout makanya baca fiksiku buat Healing. Bahkan ada yang sampe Delulu sama tokoh utamaku karena ceritaku Raw banget! Kebayang kan pusingnya aku ngerangkum kata ini semua?"
Coba bayangkan, saat aku sedang serius menyusun konflik batin yang mendalam dalam sebuah novel, tiba-tiba aku diingatkan pada istilah seperti "red flag," "ghosting," atau bahkan "POV." Awalnya aku pikir "POV" itu hanya sekadar istilah teknis sudut pandang kamera, tapi di tangan mereka, istilah ini berubah jadi gaya hidup. Belum lagi kata-kata singkat seperti "OP" yang sempat bikin aku mikir keras, atau sebutan "bestie" yang kini jadi panggilan sayang universal.
Dulu, mungkin kita cukup menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (atau setidaknya gaul pada masanya). Tapi sekarang? Kalau aku nggak tahu apa itu cringe, burnout, atau healing, aku mungkin bakal dianggap sebagai penulis yang ketinggalan zaman. Mempelajari bahasa mereka bukan berarti aku kehilangan jati diri, melainkan bentuk adaptasi agar jembatan komunikasi antara aku sebagai penulis dan mereka sebagai pembaca tetap kokoh.
Jadi, meskipun telingaku terkadang masih sedikit "geli" mendengar istilah-istilah baru tersebut, aku menikmatinya. Ini adalah bagian dari riset, bagian dari perjalananku menjadi pencerita yang relevan. Karena pada akhirnya, apa gunanya sebuah tulisan yang indah kalau pembacanya justru merasa asing dengan kata-kata di dalamnya? Mari kita sebut saja ini sebagai upayaku agar tetap "setara" dengan mereka yang menyebut diri mereka Gen-Z.
Daftar Istilah Planet Gen-Z (Edisi Penulis Vintage)
OP (Overpowered)
Istilah ini asalnya dari dunia game, ditujukan buat karakter yang punya kekuatan nggak masuk akal atau terlalu jago sampai nggak ada lawan sebanding. Kalau di dunia fiksi, istilah ini sering dipakai pembaca buat nyebut tokoh utama yang serba bisa dan selalu menang dengan mudah.
Contoh Kalimat: "Sumpah, tokoh utama di bab ini OP parah! Masa sekali tebas musuh satu batalion langsung tumbang?"
Anomali
Secara harfiah berarti penyimpangan dari keadaan normal. Tapi di tangan Gen-Z, kata ini jadi cara keren buat nyebut sesuatu yang aneh, unik, atau kejadian yang bikin dahi berkerut karena nggak sesuai logika umum. Sesuatu yang "nggak biasa" tapi menarik perhatian.
Contoh Kalimat: "Lihat deh, ada video anomali orang jualan es krim di tengah badai salju. Random banget!"
Glitch
Sebenarnya ini istilah teknis buat gangguan sinyal atau sistem komputer yang bikin tampilannya rusak sesaat. Sekarang, istilah ini dipakai untuk menggambarkan momen saat manusia tiba-tiba "ngelag," salah fokus, atau melakukan gerakan yang kaku dan aneh tanpa sengaja.
Contoh Kalimat: "Duh, sori banget tadi aku mendadak glitch, ditanya apa malah jawab apa. Otakku lagi butuh kopi kayaknya."
Delulu (Delusional)
Plesetan dari kata delusional. Digunakan untuk menyebut orang yang suka berkhayal terlalu jauh, terutama soal hubungan asmara atau harapan yang mustahil. Bagi mereka, menghayal itu adalah bentuk kebahagiaan tersendiri.
Contoh Kalimat: "Nggak apa-apa deh aku dibilang delulu, yang penting aku merasa sudah jadian sama karakter utama di novel ini dalam pikiranku!"
Raw
Secara harfiah artinya "mentah". Tapi dalam dunia fiksi atau konten Gen-Z, raw dipakai buat nyebut sesuatu yang jujur, apa adanya, sangat emosional, dan nggak dipoles berlebihan. Kalau pembaca bilang tulisan kamu itu raw, itu pujian tertinggi, artinya tulisan kamu berhasil menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam tanpa dibuat-buat.
Contoh Kalimat: "Gila, narasi di bab ini terasa raw banget. Aku bisa ngerasain sakit hatinya si tokoh utama sampai ke tulang!"
Burnout
Kondisi kelelahan secara fisik dan mental akibat tekanan kerja atau rutinitas yang terlalu berat dalam waktu lama. Rasanya seperti baterai yang sudah benar-benar nol persen dan nggak bisa dipaksa jalan lagi.
Contoh Kalimat: "Minggu ini aku mutusin buat nggak update bab baru dulu ya, lagi burnout parah gara-gara kerjaan di kantor numpuk."
Cringe
Ekspresi geli, malu, atau risih yang luar biasa saat melihat sesuatu yang dianggap memalukan, sok asyik, atau terlalu berlebihan. Rasanya pengen nutup muka karena ikut ngerasain malu buat orang tersebut.
Contoh Kalimat: "Aduh, adegan rayuan gombal di film tadi bikin aku cringe banget, bahasanya terlalu kaku dan lebay!"
Sebagai seorang author, mau nggak mau aku memang harus memahami itu semua. Kalau nggak? Hmm, mungkin aku nggak akan pernah bisa membalas komentar dari para readers yang ternyata arahnya ke sana. Bayangkan kalau ada yang komen, "Kak, bab ini beneran anomali banget, aku sampai glitch bacanya!" dan aku cuma balas dengan kerutan di dahi sambil nanya, "Sistemnya ada yang rusak, ya?" Bisa-bisa mereka kabur karena merasa ngobrol sama robot, bukannya sama penulis kesayangan mereka.
Tanpa pemahaman ini, aku juga bisa jadi nggak nyambung sama apa yang sebenarnya mereka inginkan dalam sebuah cerita. Misalnya, saat mereka teriak-teriak minta "asupan healing" karena sudah burnout dengan dunia nyata, aku harus tahu kalau itu adalah sinyal bahwa mereka butuh cerita yang lebih hangat dan menenangkan, bukan malah aku kasih konflik yang makin bikin mereka sesak napas.
Lucu memang, di usiaku yang sudah "matang" ini, aku justru kembali jadi murid. Aku belajar kalau bahasa bukan cuma soal susunan subjek dan predikat, tapi soal rasa dan frekuensi. Menyelami bahasa mereka adalah caraku untuk tetap mengetuk pintu hati pembaca, memastikan bahwa setiap kata yang aku ketik bukan sekadar deretan huruf, tapi pesan yang sampai ke alamatnya dengan tepat. Karena pada akhirnya, jembatan terbaik antara aku dan mereka adalah ketika kita bisa tertawa pada istilah yang sama.
Lots of Love,
Resa—
.png)
21 Komentar
Metaforanya unik dan reflektif. Cara mengaitkan bahasa, usia, dan proses belajar terasa personal sekaligus kontemplatif hehehe mantap
BalasHapusBanyak sekali istilah-istilah baru bermunculan, saya mengajar dan setiap tahunnya banyak mahasiswa-mahasiswa baru yang saya temui, dan saya banyak sekali menemui istilah-istilah aneh atau terkadang kita ucapkan di suatu moment tertentu tapi digunakan untuk mengungkapkan sesuatu di kehidupan seharu-hari dan otomatis harus menyesuaikan gaya bahasa.
BalasHapushahahha semangaaatt
HapusAku pikir cringe itu aku yang memalukan karena tingkahku sendiri. Bukannya yang ikut malu karena tingkah laku orang lain. Hehehe
BalasHapusSekarang istilah2 baru sering muncul di TikTok kak, jadi harus rajin main TikTok juga,, Munculnya kadang terlalu cepat, dan ada juga yang muncul karena sebuah tren atau video viral. Dari semua istilah di atas, yang jarang aku dengar atau lihat di medsos kayaknya glitch.
BalasHapusbener... glitch tuh lebih ke arag ngga konek atau nge-hang gitu kan
HapusJustru ini yang keren sih. Di usia yang katanya sudah ‘matang’, masih mau jadi murid dan belajar ulang soal bahasa—bukan cuma struktur, tapi rasa dan frekuensi. Kelihatan banget niatnya buat tetap nyambung sama pembaca. Dan bener, kalau sudah bisa ketawa di istilah yang sama, berarti pesannya memang sampai. Hangat dan relatable banget tulisannya.
BalasHapushahaha, dulu nulisnya formal banget sesuai eyd dengan kata baku yang mau ngga mau harus dipakai. sekarang mikir... oh nulis kayak gini tuh bisa diterima ya? hmm, lebih santai yaak. hahaha
HapusSeru, sambil senyum-senyum sendiri bacanya. Persis seperti "POV" yang sering kutemukan di konten-konten video, kadang ngerasa kok penggunaannya kurang tepat atau nggak sesuai makna yang lazim. Tapi begitulah, ketika dipakai kebanyakan orang, akhirnya yang dianggap biasa.
BalasHapusMakasih informasinya. Aku juga belajar soal ini karena kadang Keponakan ngomong gitu. Jadi googling terus jelasin artinya karena kan dia masih Bocah. Tapi sebisa mungkin bicara pakai bahasa Indonesia yang baik deh biar enggak pusing-pusing amat
BalasHapusSaya jadi tahu kan bahasa gaul anak jaman now dengan artinya juga. Hehe... Terimakasih ya
BalasHapusSering mendengar atau baca kata kata itu tapi gak paham pasti arti sebenarnya apa arti buat anak jaman now apa. Sekarang paham deh
Hauhaha, I Feel you kak. 😂
BalasHapusAku kalau ngobrol sama anakku yang SD kadang kudu muter otak lho. Banyak banget istilah² sekarang yang bermunculan. Awal² aku sampe google pas anakku ngobrol apa aja kegiatan sama temen²nya. Mulai dari istilah mewing, anomali, delulu terus sekarang ada istilah 67 (six seven) wkwkwk..
Tapi mau nggak mau, meski nggak buat nulis, minimal bisa dipake memahami konteks anak sendiri. 😂
Sebagai penulis kadang memang kita harus mengikuti trend bahasa yang ada ya karena misalnya kita menulis dengan tema remaja sekarang kan nggak mungkin menggunakan bahasa di era kita dulu dan itu emang tantangan banget bagi gen milenial kayak aku. Kalau aku malah lebih Blank lagi sama bahasa yang digunakan sama gen Alpha yang bener-bener sulit dimengerti hehehe
BalasHapusiya sih..hehhe, setiap dengar kata baru aku ..selalu cari artinya, apalagi usia millenial tapi punya anak gen alpa....
BalasHapusMau gak mau kita juga mesti ngikutin perkembangan bahasa yang biasa dipakai anak muda sekarang ya kak.. Apalagi lalau pembaca tulisan kita memang anak muda.. Aku jg suka denger anakku yg sekarang udah preteen kalau ngomong. Ada aja bahasa yg gak aku paham :D Jadinya sama2 belajar..
BalasHapusTulisan ini terasa sederhana, tapi menyentuh inti kedewasaan: kemauan untuk terus belajar, bahkan dari generasi yang lebih muda.
BalasHapusDi usia matang, tantangan terbesar bukan soal menulis atau berbahasa, melainkan menjaga rasa ingin tahu tanpa kehilangan jati diri.
Belajar “bahasa planet lain” bukan tanda kita tertinggal, tapi tanda kita masih hidup, relevan, dan mau memahami zaman.
aaaahhh telimikiciiihhh haha
HapusWaduh, mungkin karena bacaan saya Webtoon dan webnovel jadi kosakata diatas masih cukup familiar.
BalasHapusDitambah anak saya yang pra-remaja, mulai berbahasa sesuai era sekarang, jadi masih nyambung dengan konteksnya.
naaaah, betuuulll. di sana bertebaran. hahah jadi mau ngga mau aku yang syepuuuh ini harus belajar. wekekek
HapusKarena dirumah aku punya anak remaja jadi sudah familiar dengan istilah2 Genz tapi yang namanya mak2.emang harus update deh istilahnya supaya gk ketinggalan jaman
BalasHapusKata "anomali" ini nih lagi sesuatu
BalasHapusSoalnya ponakan daku nyebut itu terus wkwkwk