Sebab Ada Rumah yang Terlalu Sakit untuk Dikunjungi Kembali



Kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat-kalimat yang belakangan ini sering menghiasi toko buku atau poster bioskop. Kalimat seperti: "Ayah, ini arahnya ke mana?", "Kukira kau rumah", atau "Utuh tapi tak cemara". Judul-judul besar seperti Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini mungkin sudah khatam dibahas di lingkaran pertemananmu. Mungkin kamu salah satu orang yang ikut mengantre di hari pertama filmnya tayang, atau orang yang langsung memesan bukunya saat masa pre-order dimulai.

Banyak orang bilang karya-karya itu bagus. Sangat bagus. Mereka bilang ceritanya sangat menyentuh, sangat "kita" banget, dan bisa menjadi sarana katarsis untuk mengeluarkan air mata yang sudah lama tertahan. Kritikus film memujinya, teman-temanmu menjadikannya bahan diskusi di kedai kopi, dan kutipan-kutipannya memenuhi linimasa media sosialmu sebagai pengingat tentang luka keluarga.

Tapi aku? Hehe, aku tidak berani membaca atau menontonnya. Sama sekali. Tidak mau!

Kenapa? Hmm, kenapa ya?

Mungkin karena aku belum begitu siap dengan kenyataan yang secara gamblang terpampang di sana. Entah itu fiksi atau kisah nyata, rasanya setiap adegan dan kalimatnya terlalu dekat dengan apa yang kualami. Aku tidak ingin menonton, membaca, atau apa pun yang berhubungan dengan itu. Bahkan, melihat potongan adegannya yang lewat di media sosial atau sekadar membaca petikan kata di dalam sebuah unggahan pun aku tidak sanggup. Aku akan langsung menggeser layarku dengan cepat, seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Hahaha! Lucu ya? Bagaimana sebuah karya seni yang dipuja banyak orang justru menjadi sesuatu yang sangat ingin kuhindari.

Kadang ada beberapa teman yang dengan antusias merekomendasikan tontonan atau bacaan setipe itu padaku. Mereka datang dengan wajah berbinar, menceritakan betapa emosionalnya adegan si ayah dan si anak, atau betapa indahnya metafora rumah yang runtuh. Aku? Hehe, aku cuma bisa tersenyum simpul dan bilang, "Wah, terima kasih banyak informasinya! Kapan-kapan mungkin ya aku baca atau tonton kalau ada waktu."

Tapi dalam hatiku? Aku justru berbisik pelan, "Wah, terima kasih banget sudah memberitahuku bahwa karya ini ada, jadi aku tahu persis karya mana yang tidak akan pernah kusentuh seumur hidupku." Hahaha! Aku tertawa bukan karena lucu, tapi karena betapa ironisnya perlindungan diri yang kubangun ini.

Beberapa orang bertanya "Kenapa?". Mereka heran, kenapa aku menolak sesuatu yang katanya bisa menyembuhkan atau setidaknya memberikan validasi atas luka. Beberapa orang lainnya mencoba memahami, mungkin mereka melihat ada sesuatu di mataku yang tidak bisa kujelaskan. Dan sisanya? Melakukan justifikasi. Mereka bilang aku terlalu menutup diri, aku tidak mau berproses dengan lukaku, atau aku terlalu berlebihan.

It’s okay. Namanya juga hidup, kan? Setiap orang punya panggungnya sendiri, punya naskahnya sendiri, dan punya cara masing-masing untuk tetap bertahan di atas kaki mereka sendiri. Aku merasa tidak perlu menjelaskan secara detail kepada semua orang kenapa aku memilih pilihan ini. Aku tidak merasa punya kewajiban untuk membedah isi kepalaku hanya agar mereka paham kenapa aku menolak menonton film tentang ayah yang hilang arah.

Sebab, bagiku, ada beberapa "rumah" yang terlalu sakit untuk dikunjungi kembali, meskipun kunjungan itu hanya lewat layar kaca atau lembaran kertas. Bayangkan kamu pernah terjebak dalam sebuah rumah yang terbakar. Kamu berhasil keluar, tapi luka bakarnya masih ada. Apakah kamu akan dengan senang hati masuk kembali ke dalam miniatur rumah yang sedang terbakar hanya untuk "merasakan kembali" sensasinya? Mungkin bagi sebagian orang, itu menyembuhkan. Tapi bagiku, itu justru membuka kembali jahitan luka yang susah payah kurapikan bertahun-tahun.

Aku hanya ingin bernapas dengan tenang hari ini. Aku ingin menjalani hari tanpa perlu diingatkan kembali pada memori-memori yang sudah kukubur di gudang paling belakang dalam pikiranku. Aku ingin bisa makan malam tanpa harus terbayang meja makan sunyi yang sering muncul dalam film-film bertema broken home. Aku ingin bisa menatap langit tanpa perlu mempertanyakan lagi ke mana arah yang seharusnya ditunjukkan.

Terkadang, menjaga jarak adalah satu-satunya cara untuk tetap waras. Memilih untuk tidak tahu adalah cara terbaik agar aku tidak perlu memproses ulang rasa sakit yang mungkin belum benar-benar selesai. Dan itu bukan berarti aku lemah atau pengecut. Itu hanya berarti aku tahu batasan kapasitas hatiku. Aku tahu mana yang bisa kujadikan hiburan, dan mana yang justru menjadi racun bagi ketenanganku.

Justru menurutku, mengenal diri sendiri sampai pada tahap tahu apa yang harus dihindari adalah sebuah pencapaian. Aku tahu "pintu" mana yang belum bisa kubuka, dan aku menghargai diriku sendiri dengan tidak memaksakan kunci itu masuk ke lubangnya. Biarlah pintu itu tertutup rapat, seperti kemarin, dan mungkin seperti besok-besok juga.

Jadi, buat teman-teman yang mungkin punya perasaan yang sama, tidak apa-apa kalau kamu belum siap. Tidak apa-apa kalau kamu memilih untuk menutup telinga saat semua orang membicarakan film terbaru yang sangat "sedih" itu. Kamu punya kendali penuh atas apa yang masuk ke dalam pikiran dan perasaanmu. Kamu tidak berhutang penjelasan pada siapa pun tentang caramu menjaga kewarasan.

Dunia sudah cukup bising dengan realita yang seringkali tidak berpihak pada kita. Kalau dengan menjauhi fiksi-fiksi itu aku bisa merasa sedikit lebih aman, maka itulah yang akan kulakukan. Biarlah aku tetap dengan "ketidaktahuanku". Biarlah aku tetap tersenyum dan berkata "kapan-kapan" saat ditawari tontonan itu.

Karena pada akhirnya, aku hanya ingin melindungi sisa-sisa kedamaian yang kumiliki. Dan bagiku, menjaga jarak dari "rumah" yang penuh luka itu adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa kuberikan untuk diriku sendiri.

Hahaha! Ternyata penjelasannya cukup panjang ya? Tapi ya begitulah. Aku tetap aku, dengan pilihan-pilihanku yang mungkin tidak masuk akal bagi orang lain, tapi sangat masuk akal bagi jiwaku yang ingin tetap utuh—meski mungkin, tidak seperti pohon cemara. Dan ya, sekarang aku sedang menangis di sudut meja paling ujung di salah satu kedai kopi. Baiklah, saatnya merutuki diri sendiri kenapa cengeng sekali, huft!

 

Lots of Love,

 


Resa—

 

Posting Komentar

5 Komentar

  1. aku nonton Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini nangis banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggaaaa mau kaaakk hahahahah ngga maaauuu kecuali dikasih 5 milyar!

      Hapus
  2. peluk jauh, semoga kamu selalu bisa mengalahkan badai-badai yang coba kamu sembunyikan dengan rapi

    BalasHapus
  3. lah kok sama ya, aku juga mbak malah terkesan egois. aku gak memikirkan apa kata orang bilang tentangku, selama aku gak nyakitin mereka. Aku ya this is me
    kalau ada merasa gak nyaman aku siap yg kabur duluan, begituu
    rada mirip gak ya kita ? hehe

    BalasHapus
  4. Peluk hangat untukmu Kak. Kadang nggak apa² kalau misal nggak cocok dengan film, bacaan atau apapun yang orang anggap menarik. Karena toh memang kita tidak harus sesuai dengan selera mereka, begitu pun sebaliknya.
    Dan, kakak nggak sendiri kok, barangkali ada dari pembaca blogmu yang juga merasa begitu. ❤️🥰

    BalasHapus