Lelah Itu Manusiawi: Syukur dan Capek Ada di Laci Berbeda. Take a Break, Kamu Sudah Berjuang Keras!

 



Aku yakin, kamu pernah berada pada titik di mana mata terasa berat, pundak terasa pegal, dan semangat seperti tersedot habis. Setiap pagi kamu bangun dengan janji untuk lebih semangat, tapi siang harinya, rasa lelah itu datang lagi, menuntut haknya.

Di tengah perasaan capek yang luar biasa itu, tiba-tiba muncul bisikan jahat di kepalamu. Bisikan itu bilang, "Kok kamu lemah banget, sih? Orang lain kerja lebih keras, tapi mereka baik-baik saja." Atau, yang paling menusuk: "Jangan-jangan, kamu kurang bersyukur, ya?"

Kalau kamu pernah merasa insecure (tidak percaya diri) atau bersalah karena rasa lelah, aku mau bilang satu hal kepadamu, sahabatku: Stop! Lelah itu 100% manusiawi.

Mari kita kupas tuntas kenapa lelah bukan masalah syukur, tapi masalah energi dan batas kemampuan kita sebagai manusia.

 

 

Lelah Itu Sinyal, Sama Seperti Lapar dan Haus

Coba pikirkan ini. Ketika kamu lapar, kamu makan. Ketika kamu haus, kamu minum. Apakah ketika kamu lapar lantas kamu dibilang kurang bersyukur atas makanan yang sudah ada? Tentu tidak, kan? Itu hanya sinyal dari tubuh bahwa kamu butuh diisi.

Rasa lelah juga sama. Lelah adalah sinyal darurat yang dikirim tubuhmu (fisik dan pikiranmu) untuk bilang, "Hei, bateraiku sudah merah, aku butuh charger sekarang juga!"

 

Sinyal ini bisa datang dari dua tempat:

  1. Lelah Fisik: Ini yang paling gampang dikenali. Kamu capek setelah olahraga berat, setelah begadang menyelesaikan tugas, atau setelah bersih-bersih rumah seharian. Kalau lelah jenis ini, jawabannya gampang: tidur yang cukup, makan yang benar, dan minum air putih yang banyak
  2. Lelah Mental (Sering Disebut Burnout): Nah, ini yang sering menjebak. Kamu mungkin sudah tidur delapan jam, tapi bangun-bangun tetap terasa hampa, mudah marah, dan sulit fokus. Lelah ini terjadi karena pikiranmu bekerja terlalu keras. Mungkin kamu terlalu banyak memikirkan utang, terlalu pusing dengan pekerjaan kantor, atau terlalu membebani diri dengan ekspektasi orang lain.


Keduanya, baik lelah fisik maupun lelah mental, adalah kondisi yang butuh perbaikan. Keduanya adalah masalah energi, bukan masalah iman atau rasa terima kasih.

 

 

Syukur dan Lelah Ada di Laci yang Berbeda

Seringkali, di masyarakat kita, ada anggapan yang keliru: kalau kamu mengeluh capek, kamu dianggap kurang menghargai apa yang sudah kamu miliki.


Ini adalah pemikiran yang harus kita buang jauh-jauh. Rasa syukur adalah tentang bagaimana kamu melihat hidupmu. Syukur adalah tentang menghargai kebaikan, kesempatan, dan anugerah yang ada. Kamu bisa saja bersyukur punya pekerjaan yang menghasilkan uang, tapi pada saat yang sama, kamu tetap berhak merasa lelah karena jam kerja itu menguras tenagamu. Kedua perasaan itu bisa hidup berdampingan.


Bayangkan kamu punya ponsel baru yang canggih. Kamu sangat bersyukur memilikinya. Tapi, setelah kamu pakai untuk streaming film dan main game seharian, baterainya pasti habis, kan? Apakah ponsel itu bisa dibilang tidak bersyukur karena minta diisi daya? Tentu tidak! Itu hanya butuh haknya untuk beristirahat dan diisi ulang.


Tubuhmu adalah ponsel yang jauh lebih canggih. Kamu bisa bersyukur atas potensinya, tapi kamu juga harus bertanggung jawab untuk merawatnya.


Lelah bukanlah dosa. Lelah adalah pengingat bahwa kamu adalah manusia, bukan mesin. Mengapa kamu harus merasa bersalah karena menjadi manusia?

 


Beristirahat Adalah Bentuk Syukur yang Paling Nyata

Aku mau kamu mengubah cara pandangmu. Mulai sekarang, anggaplah istirahat bukan sebagai "hadiah" yang baru boleh kamu terima setelah kamu ambruk. Anggaplah istirahat sebagai tanggung jawab dan bentuk syukur terbaik yang bisa kamu berikan pada dirimu sendiri.

 

Kenapa begitu?

Ketika kamu membiarkan dirimu recharge (mengisi ulang), kamu sedang bilang kepada tubuh dan pikiranmu, "Terima kasih sudah bekerja keras. Aku menghargai kerja kerasmu. Sekarang, mari kita rawat kamu agar besok kita bisa berjuang lagi."


Tindakan self-care atau merawat diri itu adalah tindakan syukur, karena kamu menghargai anugerah kesehatan dan kekuatan yang sudah kamu terima. Memaksakan diri hingga jatuh sakit, itu baru namanya tidak bersyukur.

 

 

Tips Sederhana untuk Recharge Tanpa Rasa Bersalah

Lalu, bagaimana caranya kita beristirahat tanpa dihantui rasa bersalah dan insecure? Ini beberapa langkah yang bisa kamu coba, tanpa perlu istilah-istilah sulit:


  1. Coba Teknik "Istirahat Mini": Kamu tidak perlu menunggu liburan panjang untuk istirahat. Setiap jam, setelah kamu fokus kerja, berdirilah 5 menit. Tarik napas panjang, lihat ke luar jendela, regangkan badan. Lima menit ini sudah cukup jadi mini-recharge yang mengurangi lelah menumpuk.
  2. Tentukan Batas Jelas (Limit): Belajarlah bilang "Nggak Dulu." Jika kamu sudah janji pada dirimu sendiri untuk berhenti kerja jam 5 sore, tepati janji itu. Menolak permintaan tambahan saat kamu sudah di ambang batas bukanlah egois; itu adalah menjaga batas diri yang sehat.
  3. Lakukan "Kebahagiaan Kecil": Cari satu atau dua hal sederhana yang membuatmu senang dan masukkan ke dalam jadwal harianmu. Bisa jadi minum kopi enak sambil lihat matahari terbenam, membaca buku sebelum tidur, atau sekadar dengar lagu favorit tanpa melakukan hal lain. Ini adalah waktu yang kamu dedikasikan untuk menyenangkan diri, dan itu wajib.
  4. Cek Asupan: Coba perhatikan apa yang kamu makan dan minum. Seringkali, lelah itu datang karena kamu kekurangan air putih atau terlalu banyak makan makanan instan. Mengganti minuman manis dengan air putih atau makan buah sudah bisa jadi booster energi yang nyata, dan itu adalah tindakan merawat diri.

 

 

Kamu Kuat, Tapi Kamu Bukan Batu

Sahabatku, aku mau kamu ingat baik-baik: Kamu kuat. Kamu sudah bertahan sejauh ini dan itu patut dirayakan. Tapi, menjadi kuat bukan berarti kamu harus tahan banting seperti batu yang tidak bisa hancur. Menjadi kuat adalah tentang tahu kapan harus maju dan tahu kapan harus mundur untuk mengambil napas.


Mulai sekarang, ketika rasa lelah datang menyapa, jangan langsung panik atau merasa insecure. Katakan pada dirimu:


"Aku lelah, dan itu wajar. Aku akan istirahat. Aku melakukan ini bukan karena aku lemah, tapi karena aku bersyukur atas tubuhku dan aku menghargainya."


Istirahatlah, recharge-lah. Dunia tidak akan kiamat tanpamu sebentar. Ketika kamu kembali, kamu akan jauh lebih segar, jauh lebih fokus, dan jauh lebih siap untuk melanjutkan perjuanganmu dengan penuh rasa syukur.

 


 

Lots of Love,

 

Resa—

Posting Komentar

18 Komentar

  1. Ku paling suka saat bagian bersyukur. Aku lelah, dan itu wajar. Aku akan istirahat. Aku melakukan ini bukan karena aku lemah, tapi karena aku bersyukur atas tubuhku dan aku menghargainya. Ini paling penting menurutku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, karena banyak banget yang negrasa kalau lelah itu hal yang salah. padahal lelah itu wajar banget loh.

      Hapus
  2. Aku juga sering ngerasa capek tapi tetap bersyukur. Kadang istirahat sebentar aja udah cukup buat nyadarin kalau lelah itu manusiawi banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah alhamdulillah banget kak. kadang adayang lelah tapi ngga bisa istirahat. hihihi

      Hapus
  3. setuju bangettt, terimakasih sudah mengingatkan bahwa beristirahat adalah bentuk syukur yang paling nyata :')

    BalasHapus
  4. halo kak, love tulisanmu. Sering merasa lelah sama hidup, dan aku sering recharge dengan tidur, melepas semua, hape disilent, but its work! aku bangun dengan pikiran dan tubuh yang lebih kuat dari sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bisa memberikan sedikit perspektif hidup yang berbeda ya kak. hehehhe....

      Hapus
  5. Pandemi bbrp tahun lalu menyadarkanku kalo pekerjaan bisa hilang kapan aja. Bahkan aku dulu tanpa pesangon meski sudah berstatus karyawan tetap.

    Aku tetap bersyukur meski dlm hati tetap menggerutu. Dari situ aku pilih balik kampung dan membangun usaha dari nol. Tuhan ternyata memberi jalan lbh indah. Usaha yang memang dilalui tdk mudah ini mulai membuahkan hasil.

    Dan tentu saja aku terbebas dari kelelahan mental yg tiap hari mendera saat aku krj di ibu kota. Gaji emg gede tp rasanya kok hampa. Duit hilang begitu saja. Tp di desa, aku lbh bs bersyukur bahkan meski gaji sedikit.

    Smg kita tetap dpt bersyukur atas kehendak Tuhan terhadap semua aktivitas yang kita kerjakan ya kak.

    BalasHapus
  6. Kadang saking lelahnya, nangis aja nggak tau kenapa. Pengen aja gitu nangis, wekeke

    BalasHapus
  7. Yang paling melelahkan adalah menghadapi ekspektasi orang lain. Terutama ekspektasi yang orang lain yang hanya bertujuan untuk kepuasannya. Kelelahan tidak hanya terjadi pada fisik tapi juga mental. Dalam banyak kasus keinginan untuk membuat orang lain senang (people pleasure) lebih banyak membawa pada tekanan psikis, dll. Kalau sudah begitu, jadi masa bodo pun tidak akan jadi masalah.. 🤭

    BalasHapus
  8. Iya nih kadang nggak cuma badan yang berasa lelah tapi pikiran dan Jiwa juga. Memang hidup itu kadang perlu jeda ya biar kita bisa segar lagi pikirannya

    BalasHapus
  9. Kadang kita suka denial saat tubuh kita sudah merasa lelah dan terus memaksakan diri untuk bekerja. Dimulai dari ambil istirahat 5 menit dan belajar untuk bilang "tidak"

    BalasHapus
  10. Aku lahir di keluarga yang sering kali dikuat-kuatin. Haram nangis, pokoknya kudu terlihat baik. Sekarang mah aku bodoh amat. Mau marah ya kukeluarin. Pas cape ya bilang cape. Bukan enggak bersyukur, tapi emang tempatnya berbeda kan

    BalasHapus
  11. Iya, kenapa juga mengakui kalau lelah sering dikaitkan dengan kurang bersyukur ya?
    Kayaknya zaman now aja deh karena zaman orang tua saya tuh memang ga banyak keluhan lelah tapi ga ada yang nge-judge kurang bersyukur juga kala benar-benar merasa kelelahan

    BalasHapus
  12. Sekarang memang kudu banget ngilangin perasaan "gak enakan" atau "suara-suara sumbang" yang ternyata memberikan efek kesehatan gak baik buat diri sendiri... Jadi kudu mindful dan mulai self love bahwa diri ini tidak baik-baik aja kalo kurang istirahat.

    BalasHapus
  13. Sebenarnya istirahat juga merupakan kata kerja dan bentuk produktivitas. Otak dan gaya hidup membuat kita berpikir kalau kita lagi nggak ngapa-ngapain itu tidak produktif. Dengan beristirahat, kita sedang membuat jiwa lebih sehat.

    BalasHapus
  14. Aduhhh artikelnya lembut sekali aku bacanya seperti sedang di puk-puk kalo aku sudah lakukan terbaik selama ini. Dan sesak sekali di hati saat part "kamu kuat tapi bukan batu" ternyata aku tetlalu keras dengan diriku selama ini

    BalasHapus
  15. Tulisan ini rasanya kayak tepukan lembut di pundak: “Hei, istirahat itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan.” Kadang kita cuma butuh diingatkan sesederhana itu.

    BalasHapus