"Mau Dibawa Kemana Anakku?" 3 Pertanyaan Wajib yang Kutanyakan Sebelum Menentukan Sekolah

 

Tahu nggak sih, memilih sekolah anak itu bukan hal yang mudah ya? Asli, sumpah ini bikin aku puyengnya minta ampun! Kenapa? Ya, karena milih sekolah itu tuh sama kayak milihin roadmap masa depan buat anak kita. Kita nggak cuma milih tempat dia belajar matematika atau bahasa indonesia, tapi milih lingkungan yang akan ngebentuk karakter, habit, dan nilai-nilai yang bakal dia bawa sampai dewasa.

 

Apalagi, aku punya cerita dikit, nih. Saking puyengnya, anakku sampai pernah pindah sekolah. Ya, pindah. Itu beneran bikin stres, tapi dari situ aku jadi punya beberapa jurus yang selalu aku pakai buat menilai sebuah sekolah. Yuk, kita bahas pelan-pelan. Santai saja, anggap ini lagi sesi curhat di kafe favorit kita.

 

 

Jangan cuma lihat brosur, yuk jadi agen investigasi habit sekolah!

Waktu pertama kali survey sekolah, kita pasti disuguhi yang bagus-bagus saja, kan? Ruangan ber-ac, kolam renang, guru-guru senyum manis, dan brosur yang mengilap. Tapi , lingkungan dan habit di sekolah itu nggak bisa kamu dapet hanya dari kunjungan sekali dua kali. Itu cuma kulit luar, dan itu nggak cukup.

 

Kamu harus jadi agen investigasi rahasia!

 

Yang aku lakukan begini: aku nggak cuma mengandalkan sesi open house. Aku sengaja datang ke sekolah itu di jam-jam yang nggak formal. Coba deh kamu duduk di warung seberang sekolah, terus dengerin obrolan anak-anak SD atau SMP di sana pas jam pulang. Kamu akan dengerin gimana mereka bicara, gimana mereka bersikap ke temannya, atau gimana adab mereka sama orang yang lebih tua. Itu clue paling jujur tentang vibe di sana.

 

Selain itu, aku juga aktif ngobrol sama wali murid lain. Biasanya, mereka yang sudah lama di sana itu tahu jeroan sekolah. Ajak ngopi-ngopi atau ngobrol santai pas mereka lagi nunggu jemputan. Kamu juga bisa lihat sendiri, gimana interaksi guru dan murid saat antar dan jemput. Habit positif itu nggak bisa di-setting. Dia muncul otomatis, dan habit itulah yang akan anak kita serap setiap hari. Lingkungan itu adalah fondasi yang paling berharga.


 

Visi Misi: Bukan pajangan, tapi roadmap masa depan anak

Setelah urusan lingkungan terasa aman, kita harus cek visi misi sekolah. Ini penting banget!

Aku harus punya pertanyaan mendasar: mau dibawa kemana sih anak kita kalau sekolah di sini?

 

Kebetulan, anakku bersekolah di dua sekolah yang fokusnya berbeda. Yang satu, full fokus di tahfidz (program hafalan al-quran) dengan akademis yang standar. Yang satunya lagi, fokus ke akademis dengan tahfidz sebagai tambahan program sekolah.

 

Memilih di antara dua itu benar-benar bikin aku mikir keras. Anakku lebih cocok di mana? Dia punya potensi di akademis yang kuat, tapi aku juga mau dia punya bekal agama. Setelah coba di yang fokus tahfidz selama hampir 2,5 tahun, dan mengamati perkembangan kedua anak kami yang jauh berbeda. Akhirnya aku mutusin untuk mindahin salah satu anakku ke sekolah lain yang memiliki fokus akademis tapi tahfidz berjalan sebagai program tambahan. Balik lagi ya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda.

 

Ini semua soal kecocokan roadmap kita sebagai orang tua dengan roadmap sekolah. Belum tentu anak pertama dengan anak kedua, ketiga, atau seterusnya memilki pola didik dan treatment yang sama. Anak memiliki kecenderungan yang beda, so, kita sebagai orang tua harus pandai-pandai mengamati itu, ya. Kenapa? Biar ngga salah langkah.

 

Terus, aku selalu nanya pertanyaan krusial ini: "Kalau ada masalah, bagaimana cara sekolah menyelesaikannya?" Ini penting banget! Apakah pihak sekolah akan terbuka dan mencari solusi bersama orang tua, atau justru akan menutupi masalah (misalnya kasus bullying atau kenakalan guru) dengan dalih menjaga nama baik sekolah? Sekolah yang baik itu nggak takut sama masalah. Dia justru akan transparan dan menjadikan masalah sebagai momentum untuk sama-sama belajar. Kalau dari awal pihak sekolah sudah kelihatan tertutup, mendingan kamu mundur pelan-pelan.


 

Komite Sekolah: drama yang harus disiapkan mental

Ya ya ya... komite! Hahaha! Ini adalah hal yang hmm... mau nggak mau, nggak bisa dihindari.

To be honest, aku nggak terlalu ambil pusing soal komite ini. Tapi, buat kamu yang punya prinsip introvert kayak aku (yang kurang bisa bertemu banyak orang dan harus basa-basi), komite ini bisa jadi perhatian lebih.

 

Aku tuh kurang begitu nyaman dengan komite yang "terlalu aktif". Paham nggak? Semacam sengaja mencari-cari kegiatan gitu biar komite ini terlihat "berfungsi" dan "andil" dalam semua kegiatan sekolah. Padahal, kadang-kadang kegiatan itu nggak terlalu esensial, cuma sekadar formalitas untuk ajang self-branding atau kumpul-kumpul.

 

Tapi balik lagi ya, setiap orang kan memiliki prinsip dan level kenyamanan masing-masing. Buat orang yang suka bersosialisasi, komite yang aktif mungkin malah seru. Tapi buat aku, yang sudah puyeng sama hidup dan ngurus anak, aku lebih memilih komite yang to the point dan fokus pada masalah esensial. Intinya, kamu harus tahu dulu, kamu siap nggak dengan potensi drama komite ini?


 

Nggak perlu sempurna, yang penting sreg

Jadi, memilih sekolah itu nggak perlu yang paling mahal, paling elit, atau yang paling terkenal. Ini semua tentang kecocokan.

 

Kamu harus benar-benar yakin, apakah roadmap sekolah (visi misi) sudah sejalan dengan nilai-nilai di keluarga kamu? Apakah vibe dan habit di sana akan mendukung pertumbuhan anak kamu jadi versi terbaik dirinya? Dan yang terakhir, apakah kamu siap dengan drama komite-nya? Hihihi…

 

Ambil waktu kamu, jadi detektif, dan dengarkan kata hati kamu. Kalau kamu sudah sreg, berarti itu yang terbaik. Semangat ya! Aku yakin kamu pasti bisa memilih yang terbaik buat malaikat kecil kamu.

 

 

Lots of Love,

 

 

Resa—

 

Posting Komentar

18 Komentar

  1. pada akhirnya, memilih sekolah memang bukan tentang kenyamanan anak semata, tetapi memilih sekolah yang programnya selaras dengan prinsip orang tua agar semuanya nyaman yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! dan poin pentingnya adalah, tidak semua anak sama, meskipun dia berasal dari rahim yang sama. terkadang anak butuh treatment berbeda untuk menunjukkan potensinya.

      Hapus
  2. Tiga pertanyaan ini nusuk tapi realistis. Kadang sebagai orang tua kita terlalu sibuk ‘mengarahkan’, padahal lupa benar-benar mendengarkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betuuul... tiap anak punya kemampuan berbeda soalnya

      Hapus
  3. Benar sekali, memilih sekolah anak harus sangat selektif. Apakah sesuai dengan visi misi keluarga atau tidak, serta bagaimana lingkungan akademik seperti apa yang kita inginkan untuk anak

    BalasHapus
  4. memilih sekolah buat anak itu memang harus benar-benar dipikirkan ya, mbak. apalagi kalau misal dananya sudah tersedia kita jadinya bisa punya banyak pilihan dalam menentukan sekolah anak ini.

    BalasHapus
  5. Kayaknya paling bagus cari tahu info tentang sebuah sekolah dari testimoni wali murid yah. Mereka pasti jujur mengeluarkan semua uneg-uneg. Yang dibahas di sini penting semua dan udah bikin pusing. Belum lagi kalu melihat aspek biaya dan lokasi.

    BalasHapus
  6. Aku as anak, dulu milih sekolah mau selalu yang negeri. Alhamdulillah nilai juga cukup

    Kalau sekarang dan nanti punya anak, kayanya bakal pusing juga buat milih. Dan sebelum itu terjadi, baiknya nyiapin dana dan anaknya dulu kali ya. Soalnya ada juga anak yang udah dipilihin sekolah oke,eh dianya gak nyaman

    BalasHapus
  7. Waktu aku hunting sekolah si bocil dua tahun sebelumnya sudah cari-cari reviewnya dari tetangga dan orang tua temen-temen TK bocil. Yang paling aku soroti adalah komitenya sih dan gimana sekolah itu menyelesaikan masalah (transparan atau tidak). Karena yang menentukan sebaik dan seaman apa anak didik tuh ya dua hal krusial itu. :(

    BalasHapus
  8. Menarik, kalau di daerah saya, ada salah satu pertimbangan berikutnya : apakah anak akan melanjutkan pendidikannya di negeri tetangga atau tetap di Indonesia.
    Jadi sejak kecil arah itu telah menentukan mereka bersekolah di mana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, tepat sekali! ini juga jadi pertimbangan biar bisa milihin sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan anak kelak

      Hapus
  9. ..jadi inget perjalanan memilih sekolah ini mashaAllah banget..
    Ada yang dari mulai aku excited sampai list cadangan, semua dijabanin.
    Selain melihat in realyfe, aku juga melihat konten sosial media mereka. Bagaimana mereka membuat konten, ini juga bagian dari adab yang menurutku, sebagai orangtua dengan anak-anak perempuan adalah hal yang bisa jadi efek jangka panjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaah snagat merasakan. menjaga anak perempuan itu maasya allah sekali. hahaha...

      Hapus
  10. Sepakat mbak, memilihkan lingkungan sekolah setidaknya akan membentuk habit anak. Walaupun pendidikan anak memang dari rumah kan ya, setidaknya memilih sekolah sebagai partner kita juga sesuai dengan visi misi keluarga kita. Semoga anak-anak kita menjadi generasi penerus agama yang berakal, berbudi dan berakhlak mulia

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak. karena berdasar pengalaman pribadi nih, mwehehehe... di rumah udah diajarin adab yang baik. eh dapaet temen yang qodarullah kurang good, jadilah kebiasaaan kurang baik itu di bawa ke rumah. apalagi interaksi mereka di sekolah kan lebih intens dan lama daripada di rumah. secara ngga langsung pasti berdampak buat anak-anak

      Hapus
  11. Tulisannya membantu banget buat para orangtua yg masih suka bingung dlm menentukan sekolah utk anak2nyaa nihh. Karena sehari2 anak2 pastinya akan banyak waktunya di sekolah yaa sehingga pembentukannya karakternya kurang lebih didapat dari sekolah jga

    BalasHapus
  12. Betul bangeet, sekolah itu investasi penting buat anak. Jadi gak boleh sembarangan memilihkan sekolah buat mereka. Kalau saya salah satu yang dilihat adalah toilet dan perpustakaan. Kalau toilet beraih berarti budaya hiduonya bagus. Kalau perpustakaannya hidup dan menyenangkan beraryi literasinya bagus. Lain lainnya bisa bertanya pada orang² yang sdh menyekolahkan anak ke sekolah tsb. Atau minimal merekomendasikan.

    BalasHapus
  13. Setuju mbak cari sekolah harus selektif terutama lingkungannya cocok nggak sama anal kita? Sekolah yg bayat mahal nggak menjamin lingkungannya sehat loh.

    BalasHapus